Stitches

Untitlekdhhh-2

Yunho diam saja melihat genangan air mata yang berhamburan di depannya. Tak peduli. Atau tak ingin peduli. Semua sama saja.
Sebelah kakinya mundur selangkah menjauh. Meski tatapannya masih terus terpusar pada aliran air tersebut. Ia ingin lari. Melarikan diri seperti pengecut seharusnya. Seperti dirinya yang sebenarnya.
“Yun…”
Lemah. Suara itu berbisik memanggilnya. Sembari tangannya terentang berusaha menggapai ujung baju hangat yang dipakai Yunho. Tapi seiring bisikan jiwanya, Yunho kembali mundur selangkah lebih jauh. Membuat lelaki yang tengah megap-megap tenggelam oleh air matanya sendiri semakin sulit menjangkaunya.
Continue reading “Stitches”

OneShot

Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Jung Yunho [TVXQ], Kim Jaejoong [TVXQ]

Genre: Sad Romance

Rating: General

Type: Yaoi – Straight version here!

Length: Vignette

oneshotCopyright&Crossposting by Goetary

“Kau pernah mencintaiku?”

Suara itu bergema dalam benaknya. Untuk kesekian kalinya.

“Kau pernah mencintaiku?”

Continue reading “OneShot”

THE ZODIAC #1

Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Krystal Jung [F(x)], Kim Jong In [EXO], Han Seung Yun [LUNAFLY]

Genre: Romance, Angst

Rating: Teen Adult, PG+17

Length: Two Shoot

Note: well, ini adalah next story dari Painfully Loving You dan Once Upon A Time. Niat awalnya mau dibikin jadi cerita lepas, tapi entah mengapa rasanya kurang sreg dan saya bisa melihat kalau akan ada after after story yang lain lagi. Alasannya karna saya bener-bener cinta sama Kai dan Yun hehehe~ (bias saya nambah mulu).

Saya bukan orang yang taat pada peraturan dasar tulis-menulis (EYD) loh, jadi bagi para reader baru seandainya ada, tolong gak usah bahas masalah itu, karna gak akan ngaruh apa-apa hehehe :mrgreen: Mohon feed backnya yah, saya masih butuh kritik dan saran dari kalian semua, apapun itu akan diterima dengan baik 😀 jadi kalo bisa jangan cuma komen satu ampe dua kalimat seperti “bagus thor, lanjutttt, dsb.” Saya bener-bener butuh kritik yang membangun dan saran yang bisa bikin ide di kepala jadi subur. Kalau mau mencela saya juga gapapa, itu kehendak orang masing-masing. Tapi sekedar ngasih tau aja nih yah, kalo ngejelekin selera orang, selera castnya ampe authornya sendiri itu sama aja ngejelek-jelekin diri sendiri. Karna pada dasarnya kita menilai orang lain dari cara kita menilai diri sendiri 😛 

After all, semoga kalian bersedia Read, Comment and Like (optional) 😆 Jangan jadi plagiat, itu dosa dan saya gak bakal ridho sampe kapan pun. Jangan copas di manapun, baik di fb, atau forum-forum lainnya tanpa minta ijin dulu (gak janji bakal kasih ijin tapi).

Walau terlambat, Mohon maaf lahir batin yah 😀

WATCH MV TRAILER HERE

The Zodiac

Prolog

Palu pengadilan akhirnya diketukkan sebanyak tiga kali. Bunyinya memang tidak terlalu keras. Namun mampu membuat seisi dunia seakan membisu, setidaknya bagi wanita itu. Penglihatan Krystal mendadak gelap gulita. Cahaya dalam kehidupannya seolah padam tak menyisakan setitik pun sinar untuk membuatnya bertahan hidup. Seperti lelaki yang telah menjadi matahari dalam kehidupannya yang akhirnya akan pergi selamanya.

Selamanya… terdengar mengerikan.

Continue reading “THE ZODIAC #1”

Let Go…!

Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Jung Yunho, Shim Changmin, Kim Jaejoong

Genre: Tragedy, Hurt

Length: Flash

Let go

Copyright&Crossposting©Goetary

Continue reading “Let Go…!”

Once Upon A Time

Once Upon A Time

(REMIX from Painfully Loving You)

Author : Gita Oetary as Goetary

Cast : Kim Jong-In [Kai EXOK], Lee Taemin [Shinee], Kristal Jung [FX], Choi Sulli [FX]

Length : One Shoot

Genre : Shonen-Ai/Straight, Friendship, Family, Angst!

Rating : PG+13

Length : One Shoot

Inspirational Song : Danny Gokey – Will Not Say Goodbye, Sarah Bareilles – Breathe Again

WARNING : Pergantian setting tanpa pemberitahuan. Flash back dalam flash back dan ada flash back lagi #Plakk. Jadi tolong diperhatikan tandanya. Jangan sampai kalian kebingungan bacanya :). Dan fanfic ini akan sangat panjang tapi gak akan dijadiin two shoot, jadi jangan lupa siapin camilan yah kekeke~ Ini fanfic Shonen-Ai (Cowok x Cowok) bukan Yaoi jadi gak akan ada adegan xxx-nya.

Untuk orang-orang yang tidak berbakat, silahkan menjadi PLAGIAT dan akan saya serahkan seluruhnya kepada ALLAH SWT semoga amal baik kalian dipindahkan kepada saya dan amal buruk saya diserahkan kepada anda. Yang mau jadi SILENT READERS itu pun hak kalian sepenuhnya. Tapi saya masih berharap ada orang-orang baik diluar sana yang bisa menghargai karya saya dengan mengomentari, me-like (kalo suka). Happy reading 🙂

-Ketika satu-satunya yang kau inginkan adalah hal yang paling menyakitimu-

Continue reading “Once Upon A Time”

[Yaoi JaeSu] Tears Airport

TEARS AIRPORT

Author : Gita Oetary as Goetary

Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong

Genre : Sad Romance

Type : SongFic (one shoot)

OST : Tears Airport, lyrics, composed and sang by Lay EXO

Disclaimer : Original made by me with Lay voice and this song as the inspiration. Don’t be Plagiarism! Don’t be Silent Readers!

Copyright and Cross-Posting by Goetary

Suddenly you break away and the world is ending, I couldn’t bear it.

Because you won’t stay with me anymore…

“Jangan menangis,” kata lelaki itu seraya tersenyum.

Lelaki di sampingnya menggeleng, “aku tidak akan menangis.”

“Aku harap kau terus bahagia. Bisa kan?” tanya lelaki itu lagi, lebih terdengar memastikan.

“Mungkin susah?” tanya lelaki satunya lagi.

“Apanya?”

“Bahagia tanpamu. Kurasa itu mustahil, Junsu.” Continue reading “[Yaoi JaeSu] Tears Airport”

[JaeSu Ver] Painfully Loving You

Painfully Loving You

Author: Gita Oetary as Goetary

Genre: Yaoi [Men to Men]

Length: One Shoot

Cast: Kim Junsu, Kim Jaejoong

WARNING!! Don’t copas! Don’t Plagiator! Don’t Bashing!

This fanfic is purely Mine!

-Cros Posting and Copyright by Gita Oetary-

RCL please!!

*

Walau hanya berteman, wajah mereka terlihat mirip.

Banyak orang mengira mereka bersaudara.

Selain itu mereka juga saling menyukai.

Lalu apa yang salah dengan hal itu?

Yang salah karena mereka sama-sama seorang pria.

Sesama pria tak seharusnya saling mencintai.

Suka itu wajar, kau bisa menyukai orang-orang yang baik kepadamu.

Tapi kalau hatimu sakit ketika jauh darinya dan bergetar saat bersamanya…

Itu adalah cinta.

::Kalau kita tak boleh bersama, biarkan aku tetap mencintaimu::

___________________Goetary Present___________________

  Continue reading “[JaeSu Ver] Painfully Loving You”

[YunJae] Before You Go

Walau cinta tak harus memiliki.

Walau bahagia tak harus bersamanya.

Ia akan hidup dengan baik.

Meski mungkin terkadang memori lama kembali teringat.

Ia akan baik-baik saja…


Before You Go…

Harusnya mencintai orang lain saat kau masih bersamaku adalah dosa. Dan aku tak suka melihatmu mendosa karenanya. Tapi ketika melihatmu terluka karena mencintaiku, aku tak rela Yunnie. Karena aku tak ingin melihatmu terluka. Aku tak ingin membuat orang yang paling kucintai menderita.

Pada akhirnya meski menanggung luka itu sendirian, aku tetap harus mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Dan berharap setulus hati agar kau bahagia bersamanya.

Continue reading “[YunJae] Before You Go”

SCANDALICIOUS

Please Dont Be Silent Reader

SCANDALICIOUS

 

Aku seharusnya punya seribu alasan setelah membiarkanmu terseok masalah seperti ini. Tapi aku tak punya. Aku tak bisa mengatakan satu halpun yang bisa membenarkan perbuatanku kepadamu. Tapi aku tahu, dalam hatiku, seluruh hidupku, aku benar-benar mencintaimu.

 

Saat ini, di dalam dadaku seperti ada bom waktu. Yang bisa meledak kapan saja. Artinya juga bisa membuatku mati kapan saja. Aku tak sanggup terus hidup seperti in. Aku takut hidup terlalu lama dalam kesedihan.

 

Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tapi menyakitkan bagiku juga. Mulai saat ini aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Jadi percayalah kepadaku.

Continue reading “SCANDALICIOUS”

LAST YEAR // 02

One Last Year
Stay The Same
YooSuMin

Aku percaya
Seberapa jauh aku berlari
Pada akhirnya akan kembali kepadamu
Memori terakhir…Tetap menjadi sesuatu yang akan selalu menarikku ke sisimu. Selamanya.

Taksi berhenti tepat di depan sebuah klub elit. Tas tersampir di belakang bahunya yang lebar saat ia berjalan menaiki tiga anak tangga sebelum mencapai pintu yang di tunggui oleh dua orang penjaga.
Seorang wanita menyambut kedatangan pria bertubuh tinggi itu dengan senyuman lebar. Menuntun Changmin melewati koridor sepi dengan lampu berwarna biru temaram.
Setelah melewati beberapa pintu yang tertutup akhirnya mereka sampai di depan pintu yang terletak di ujung koridor. Pelayan itu kemudian meninggalkan Changmin, menghilang di belokan koridor pertama. Continue reading “LAST YEAR // 02”

LAST YEAR // 01

One Last Year
The Story Has Just Begun
YunJae

Setahun.
Dua tahun… Itu saja cukup untuk menjadikanmu berarti…
Dihatiku…
Dihatimu…

Yunho masih berdiri diam menatapi lampu kota yang berwarna-warni dari kaca transparant, masih di tempat yang sama ketika Jejung meninggalkannya.
Pikirannya berkecamuk oleh banyak hal dan terutama tentang kepergian Jejung yang mungkin untuk selamanya. Titik-titik air hujan menempel di kaca di depannya, samar-samar Yunho dapat melihat bayangannya sendiri.
Ia tidak terlihat gembira, kekosongan di belakangnya seakan dapat menelannya sewaktu-waktu. Yunho termenung memandangi pantulan dirinya, sesuatu yang hangat merembes membasahi pipinya dan bayangan dirinya menunjukkan kalau ia sedang menangis tersedu-sedu. Continue reading “LAST YEAR // 01”

[YunJae] More Than Yesterday

Pairing:: Jung Yunho & Kim Jaejoong

Author:: Gita Oetary

Length:: OneShoot

Genre:: Sad Romance

Disclaimer:: DON’T COPAS WITHOUT PERMISSION!! NO PLAGIAT!!

Continue reading “[YunJae] More Than Yesterday”

Skies Tear Drops//OneShoot

SKIES TEAR DROPS

Starring: Kim Jaejoong/Jung Yunho/Han Sooeun

.

.

.

Skies are crying, I am watching
Catching tear drops in my hands

Jemari yang mencengkram cangkir berisi cappucino bergetar pelan. Buku-buku tangannya memucat. Ada sesuatu yang membuatnya tak sanggup melontarkan apa yang sedang ia rasakan. Pikirannya seketika buntu, lidahnya kelu.
Putus. Baru saja ia mendengar kata keramat itu keluar dari mulut lelaki yang sudah menjalin hubungan dengannya selama setahun terakhir ini. Otaknya berusaha mencerna arti kata tersebut sementara hatinya menolak mati-matian.
“Maafkan aku, Hyung. Semoga kau mengerti.” Suara itu lagi.
Suara tak asing pria yang amat ia cintai. Suara yang selalu mampu memompa jantungnya tiga kali lebih cepat. Selama ini suara itu selalu bisa membuatnya merasa tentram, dalam kekacauan sekalipun. Namun hari ini, semuanya terasa berbeda. Ia tak ingin mendengar suara itu. Continue reading “Skies Tear Drops//OneShoot”

One Last Year//Chap.2

One Last Year
:Stay The Same:
YooSuMin

Aku percaya
Seberapa jauh aku berlari
Pada akhirnya akan kembali kepadamu
Memori terakhir…
Tetap menjadi sesuatu yang akan selalu menarikku ke sisimu. Selamanya.
Taksi berhenti tepat di depan sebuah klub elit. Tas tersampir di belakang bahunya yang lebar saat ia berjalan menaiki tiga anak tangga sebelum mencapai pintu yang di tunggui oleh dua orang penjaga.
Seorang wanita menyambut kedatangan pria bertubuh tinggi itu dengan senyuman lebar. Menuntun Changmin melewati koridor sepi dengan lampu berwarna biru temaram.
Setelah melewati beberapa pintu yang tertutup akhirnya mereka sampai di depan pintu yang terletak di ujung koridor. Pelayan itu kemudian meninggalkan Changmin, menghilang di belokan koridor pertama.
Pelan-pelan pintu terayun membuka dari luar. Aroma masakan hangat masuk ke saluran hidungnya. Ia ingat bau itu.
“Sudah lapar belum?” tanya sebuah suara. Changmin mengedarkan pandangannya yang sudah mulai terbiasa dalam gelap namun tak dapat menemukan sesuatu. Continue reading “One Last Year//Chap.2”

One Last Year//Chap.1

One Last Year

YunJae

 

Setahun.
Dua tahun… Itu saja cukup untuk menjadikanmu berarti…
Dihatiku…
Dihatimu…

Yunho masih berdiri diam menatapi lampu kota yang berwarna-warni dari kaca transparant, masih di tempat yang sama ketika Jejung meninggalkannya.
Pikirannya berkecamuk oleh banyak hal dan terutama tentang kepergian Jejung yang mungkin untuk selamanya. Titik-titik air hujan menempel di kaca di depannya, samar-samar Yunho dapat melihat bayangannya sendiri.
Ia tidak terlihat gembira, kekosongan di belakangnya seakan dapat menelannya sewaktu-waktu. Yunho termenung memandangi pantulan dirinya, sesuatu yang hangat merembes membasahi pipinya dan bayangan dirinya menunjukkan kalau ia sedang menangis tersedu-sedu.

Like a fool without feelings, I refused to talk and I send you off
Leaving like this, how to go on everyday?
Then I cry silently and wordlessly
Cause I want to stay next to you

Yunho meratapi foto yang terpajang di tembok, di dalam foto itu wajahnya bersama keempat member lain terlihat sangat bahagia. Namun dari semua itu wajahnya dan Jejunglah yang paling senang.

I remember the days how we used to laugh

Yunho ingat foto itu dulu di ambil di apartement lama mereka saat pertama kali ia akhirnya mengutarakan perasaannya pada Jejung. Pertama kali dalam hidupnya ia mengambil sebuah keputusan dan memilih mendampingi Jejung tak perduli apapun pendapat orang lain.

I don’t need another person

“Karena aku tak butuh orang lain,” bisik Yunho. Seakan tersadar dari lamunan panjang Yunho menyambar mantelnya beserta kunci mobil dan telpon genggam sambil tergesa-gesa keluar dari apartement.

Even if time flows

Dengan kecepatan tinggi Yunho membawa mobilnya melaju keluar dari parkiran dan melesat di antara mobil-mobil lain.

Even if it’s too late

Dengan tidak sabar Yunho memencet klaksonnya berkali-kali saat mobil di depannya tak juga bergerak setelah lampu berubah hijau. Yunho menggosok tengkuk dan wajahnya, menyukai keputusan yang di ambilnya saat ini.
Tak berapa lama kemudian ia sampai di bandara, dengan lebih tergesa-gesa ia berlari ke loket tempat pemesanan tiket.
“Kapan penerbangan secepatnya ke Jepang?” tanya Yunho pada wanita cantik di depannya yang nampak terkesima melihat rambut Yunho yang berpeluh.
“Lima jam lagi,” ujar wanita itu dengan suara yang di buat-buat halus.
“Aku butuh secepatnya, ini keadaan mendesak,” kata Yunho lagi sedikit memaksa.
“Tapi pak, pesawat sebentar lagi akan lepas landas dan bagasi sudah di tutup. Anda tidak boleh…”
“Aku tidak bawa bagasi.”

Japan,

Pesawat sudah lepas landas, di atas udara Yunho duduk dengan gelisah. Ia sudah yakin dengan keputusannya, tapi ia tak sabar dengan lamanya perjalanan yang harus  ia tempuh untuk sampai di Jepang tepat waktu.
Yunho melirik arloji yang melingkar anggun di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Yunho membaca intruksi keselamatan berkali-kali berusaha membuang waktu dengan bacaan tersebut.
Beberapa saat kemudian dari kaca jendela kabin Yunho dapat melihat pantulan cahaya berwarna-warni. Jantungnya seketika berdegup kenjang seribu kali lebih cepat. Ia meremas-remas jemarinya yang basah oleh keringat.

Di Jepang sedang musim salju, jalanan licin akibat salju yang mencair. Taksi berjalan stabil di atas aspal menuju alamat yang di ajukan Yunho pada supir taksi. Tak selang berapa lama taksi yang dinaikinya berhenti tepat di depan sebuah gedung apartement.
Setelah membayar ongkos taksi Yunho berjalan tenang masuk ke gedung tersebut. Beberapa security dan petugas parkir menyambutnya saat ia melangkah masuk kedepan elevator dengan kaca transparant.
Pintu lift terbuka perlahan, Yunho melangkah masuk dengan pasti ke dalam kotak kaca tersebut. Ia menekan tombol sembilan dan pintu lift kembali tertutup kemudian merangkak pelan menuju lantai atas.
Yunho berjalan di atas hamparan karpet beludru berwarna merah darah, bau harum yang tercium selama berada di koridor mengingatkannya betapa ia masih mengenali tempat itu dengan sangat baik.
Yunho berhenti di depan pintu yang terletak di ujung koridor, tangannya terulur untuk memencet bel pintu namun di urungnya lagi. Sekali lagi masih dengan ragu-ragu Yunho kembali mengulurkan tangannya.
Tapi belum sempat ia meraih bel pintu tersebut terbuka dari dalam. Seorang pria berstelan rapih nampak dari balik pintu yang terbuka lebar. Mereka saling memandang dalam beberapa detik sebelum kecanggungan berkembang-biak.
“Yunho?” tanya pria berjas itu nampak ragu.
Yunho mengerjapkan matanya, dadanya terasa sesak seakan di timpa beban ribuan kilo. Terlebih lagi menyadari kalau ia sudah sampai di tempat tujuannya tapi tak tahu harus berbuat apa.

Even if i say that i love you a thousand times
Even if i say it ten thousand times

“Jungie…”

I don’t need any words, just you

“Mengapa kau disini?” tanya pria berwajah cantik itu masih ragu dengan apa yang tengah di lihatnya.
Yunho diam saja, ekspresinya mengisyaratkan sesuatu yang hanya Jejung yang dapat mengerti. Waktu berjalan lambat, membiarkan mereka saling memandang selama mungkin.

In the moment i saw your eyes

Jejung seperti ingin menangis, dadanya di penuhi perasaan rindu yang bergejolak meminta untuk di bebaskan.
In the moment my heart was captured by you
Tanpa aba-aba Yunho menarik lengan Jejung dan merengkuh pria itu kedalam pelukannya. Menempelkan kepalanya ke dalam dadanya yang bidang. Jejung diam saja, matanya sempat terpejam untuk menikmati sentuhan itu.
“Yunnie…”

My cold lips keep calling for you

Yunho menjauhkan tubuh Jejung agar bisa menunduk dan mencium bibirnya yang sedikit terbuka. Bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Jejung membiarkan Yunho mendominasinya, membiarkan lidah Yunho menguasai mulutnya.

It’s just you
It’s just you
That’s right it’s only you

Yuchun duduk diam di ruang keluarga, televisi yang menyala di depannya memutar pertandingan bola yang tak berkesudahan dan menjadi satu-satunya hal yang bergerak di ruangan itu.
Tuhan itu penting. Karena ketika kesusahan membuat kita tak sanggup menatap langit, kita hanya perlu berdoa tanpa memikirkan siapa Tuhan kita sebenarnya.
“Chunie, kenapa Jejung hyung belum kembali juga? Katanya cuma mau mengambil sesuatu di apartementnya yang dulu?” tanya Junsu yang baru saja selesai mandi.
Pria yang ditanyai hanya mengangkat bahu tak acuh. Tiba-tiba suasana rumah kembali menyesakkan.
Mungkin Tuhan sudah menyesal, itu sebabnya perpisahan menjadi jalan tengah.
“Aku lapar…” keluh Junsu berusaha menembus tembok penghalang diantara mereka. Namun Yuchun tak bergeming, matanya menatap lurus televisi tanpa niat untuk benar-benar menonton.
Aku merindukanmu, Chunie… bisik Junsu dalam hati sambil menatap miris kearah Yuchun. Merasa kehadirannya bagai angin lalu. Semoga kau tahu.
Pria itu melangkah menuju pintu depan dan meraih mantel panjangnya yang tergantung di dekat pintu. Tanpa lupa mengambil dompet dan kunci mobil Junsu keluar dari rumah.
Suara pintu tertutup menjadi satu-satunya suara yang terdengar setelah Junsu menutup pintu. Yuchun yang merasa bosan pun telah mematikan televisi, kini ia sepenuhnya dihadapkan dengan kekosongan yang terlalu.

Like a fool without feelings, I refused to talk and I send you off
Leaving like this, how to go on everyday?

Yuchun sedang berusaha menata hatinya kembali saat ia memejamkan mata dan menarik napas panjang. Tanpa ia sadari bukan itu yang sebenarnya ia inginkan, melainkan kehadiran seseorang yang nampak begitu jauh untuk diraih.

Then I cry silently and wordlessly
Cause I want to stay next to you

Bulir-bulis kristal berjatuhan dari kelopak matanya yang tertutup rapat. Dalam diam Yuchun mencurahkan seluruh perasaan yang membelenggunya bersama air mata.

Jejung memeluk Yunho dengan kerinduan mendalam, tubuhnya mengisyaratkan kepemilikan Yunho seutuhnya. Ia ingin memberikan seluruh dirinya pada pria itu.
Yunho merasa sekujur tubuhnya panas. Sangat panas. Tubuhnya memancarkan gelombang yang berdaya isap, membuat Jejung tak kuasa mendekat. Jejung mendekap Yunho erat-erat, melingkarkan tangannya di pinggang Yunho.
Yunho balas memeluk Jejung. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Jejung yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Jejung yang penuh. Di pegangnya bokong itu dengan lembut, di elusnya, kemudian diremasnya dengan penuh hasrat.
Kejantanan mereka bereaksi. Keduanya saling merasakan hal itu. Desah napas mereka memburu, menggema di seluruh ruang apartement.
Yunho mendesah sambil menciumi rambut Jejung yang basah oleh keringat. Seluruh panca indra Jejung bergetar. Getaran yang merayap masuk kedalam tubuhnya secara halus dan pasti. Kemudian mencapai puncaknya ketika Yunho menjulurkan lidah semakin jauh kedalam mulutnya, lidah pria itu berputar-putar makin cepat sampai akhirnya Jejung merasakan tubuhnya seperti melayang-layang.
Jejung membelai bagian belakang kepala Yunho. Harum sampo Yunho, cologne-nya, aroma tubuhnya yang khas memenuhi penciuman Jejung. Membuatnya mabuk. Jejung menggigit kecil bibir Yunho, ia mengecap mint pasta gigi yang di pakai Yunho.
Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan Yunho membuat napas Jejung semakin memburu dan percaya diri.
Sambil mengangkat kepala, Yunho meletakkan tangannya di pundak Jejung. Mata Jejung yang sayu berbinar-binar menatapnya. Perlahan Yunho membuka risleting celana jinsnya dan menurunkannya.
Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Jejung, ia melemparkan celananya ke samping. Yunho berdiri telanjang bulat di depan Jejung. Mata Jejung beralih ketubuh Yunho.
Ia saja yang seorang pria merasa iri hati melihat bentuk tubuh Yunho. Bentuk tubuh yang tegap, ramping, lagi lentur. Bentuk dadanya bidang dan lebar, kejantanannya kini mengeras dan berdiri tegak mengacung kearahnya.
Yunho membuka kancing jas Jejung satu-persatu, lalu menyelipkan tangannya di balik kemeja putih Jejung dan di lepaskannya lembaran pakaian tersebut. Dengan gerakan yang lebih lincah Yunho dengan cepat menelanjangi Jejung.
“Ya Tuhan, lihat betapa cantiknya dirimu,” gumaman Yunho tak terdengar lagi ketika ia mendaratkan bibirnya di permukaan kulit Jejung yang polos. Sorot matanya memancarkan gairah yang meluap-luap dan seperti hendak menelan Jejung bulat-bulat.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Yunho segera membenamkan tubuhnya kedalam tubuh Jejung. Meresap segala hal yang dapat diraihnya dari Jejung, entah itu hati atau pun raga.

In the moment i saw your eyes
In that moment my heart was captured by you

Jejung mendesah berkali-kali mengimbangi gerakan naik-turun Yunho. Tubuhnya mengejang saat Yunho meremas kejantanannya, bibirnya kelu akibat sentuhan itu.
Yunho menggerakkan tangannya dengan ritme teratur, mempelajari setiap bagian tubuh Jejung dengan seksama. Seakan ingin menandai kepemilikan utuhnya terhadap tubuh pria itu.

Without regrets, i chose just you
It’s only you

“Yunnie… mmph,” Jejung menyerukan nama Yunho di antara tarikan napasnya yang pendek-pendek dan memburu.

My cold lips keep calling for you

“Oooh, Yunnie…”
Tak ada satupun dari mereka berdua yang merasa puas dengan malam itu,  percintaan mereka berulang lagi dan lagi hingga mereka akhirnya kelelahan dan jatuh tertidur dalam keadaan basah dan bahagia.

I don’t care whatever anyone says
Even if anyone curses, i only look at you

“Aku mencintaimu… Jungie,” bisik Yunho serak sesaat sebelum matanya benar-benar terpejam.

My cold lips keep calling for you

“Jungie…”
“Hmm?”
“Tak apa-apa membuat Yuchun dan Junsu menunggu?”

Cause i don’t need another person

“Biarkan saja… Nanti juga mereka mengerti.”

Just you…

“Aku juga mencintaimu, Jung Yunho.”

Let me be with you

*To Be Continue*