Hujan bulan Juni

“Apakah ada wanita lain di antara kita?”

Angga menatap mata Reta satu-persatu. Mencari celah dimana ia bisa melarikan diri. Namun tak ada jalan keluar, Reta tahu semuanya. Reta mengenalnya lebih dari ia mengenal dirinya sendiri, dan menyadari itu membuatnya semakin merasa bersalah.

“Tidak.” Angga menjawab singkat.

Reta menyetuh pipi suaminya penuh sayang, “aku akan mempercayaimu seperti yang sudah kulakukan selama ini, asal kau mau berjanji. Mulai hari ini dan selamanya, tak akan ada lagi orang lain.”

Angga meneguk ludah, matanya berkilat tertangkap basah. Ia lalu mengangguk pelan.

“Aku janji.”

-Goetary-

Hujan bulan Juni

“Aku membiarkanmu masuk ke dalam hatiku, lalu menjadi bagian dari hidupku. Semua itu bukan salahmu. Akulah yang memegang kendali atas hati dan hidupku sendiri, jika aku membiarkanmu terlibat, bagaimana mungkin kau yang bersalah atas semua itu?”

“Kadang-kadang, aku ingin menyalahkan takdir. Tapi sadar bahwa takdir adalah urusan yang Maha Kuasa. Aku tak berhak dan tak diijinkan untuk protes. Kadang juga aku berharap bisa menjadikanmu milikku, dan aku menjadi milikmu. Tapi memikirkan hal itu membuatku malu.”

Hujan jatuh dengan deras di luar. Inggit berdiri di depan jendela kaca, memandangi rintik hujan yang membasahi Kota Jakarta. Hujan deras di luar, namun di dalam sana, di sebuah kamar apartemen sewaan, suaranya tak terdengar hingga ke dalam.

Continue reading “Hujan bulan Juni”