Masih menanti janjimu

hujan bulan juni

-Sayang, kau tak perlu mencariku. Biarkan aku yang menemukanmu.-

Begitu katamu di penghujung waktu itu Tuan. Saat itu, bisa dibilang hatiku berbunga. Bunga yang tumbuh di hatiku yang telah lama merana ini adalah Mawar merah yang wangi sekali, namun durinya panjang, tajam dan merobek kulit.

Aku melihat sosokmu datang membawa sekotak besar harapan, mimpi, dan berjuta janji manis. Sesaat senyum merekah di dadaku, sakitnya tergores mawar berduri tidak lagi begitu penting. Tak ada yang lebih penting selain dirimu.

Tapi lalu dari belakangmu sesosok bayang mulai nampak semakin nyata. Kau tidak sendiri. Kau bersamanya…

Tuan, kau bilang akan datang mencariku. Kau janji akan menemukanku. Tapi mengapa gerangan kau membawa serta wanita itu. Lalu bagaimana denganku…

Aku tak marah

beautiful woman

Sekali dua kau kembali dalam benak

Kenyataan menghempas rindu yang tersembunyi rapat di balik genggaman

Dulu kau selalu bilang bahwa hidup ini tidaklah adil

Duhai Tuan yang selalu amat kucintai, hidup memang seperti itu

Tak ada keadilan

Tak ada kepastian

Sebagai manusia kitalah yang dituntut untuk selalu berdamai dengannya

Sama halnya seperti kadang kala kau kembali dalam bentuk kenangan

Menyempit dalam benak, menyakiti hati

Tapi aku tak marah, Tuan

Tidak akan pernah aku marah pada kenangan atas dirimu

Tidak akan pernah aku mengumpat serapah pada rindu yang berkali-kali mengetuk jiwa

Kubilang cinta adalah anugrah

Dan kau adalah hadiah

Meski kita tak lagi bisa kembali

Kau tak akan pernah kehilangan diriku

-Goetary-