Kamu Kpopers atau Antis?

Akhir-akhir ini mulai kedengeran lagi masalah fanwar. Saya mau bahas sedikit masalah itu.

Masih kayak dulu waktu saya pertama kali jadi Cassie, antis sudah berkeliaran dimana-mana waktu itu dan jumlahnya mungkin lebih banyak dari fans itu sendiri. Lagipula setiap orang punya hak untuk suka atau gak suka sama orang lain jadi menurutku wajar aja ada fan sama antis.

Baru-baru ini saya komen di performance Jessica & Key Barbie Girl di akun youtube orang lain. Menurut saya sendiri komentar saya bukan untuk ngeBash dll, saya cuman keluarin pendapat saya yang merasa lucu pas dibagian Jess nyanyi “Like a plastic”. Tapi malah di Bashing sama orang-orang L. Padahal banyak juga orang lain yang komentarnya pedes-pedes malah saya yang kena.

Gimana yah, artis Korea yang oplas itu kan banyak sekali. Bahkan DBSK aja mungkin ada yang oplas tapi gak pernah saya permasalahin. Kita kan sukanya bukan Cuma karena penampilan mereka yang kece dan cakep-cakep, tapi karena emang mereka punya kelebihan seperti pinter nyanyi, nari bahkan akting. Jadi menurut saya sendiri penampilang itu Cuma BONUS! Gak ada juga gapapa.

Jadilah penggemar yang baik. Gak ada salahnya kalau kita mendukung artis kita dengan cara yang lebih positif, jangan menjatuhkan mereka dengan membashing orang-orang yang tak suka dengan mereka. Kalau ada yang gak suka dengan orang-orang yang memBashing, jangan balik di Bashing dong.

Saya sering baca di blog-blog orang lain tentang hak asasi penggemar (?) tapi banyak juga yang belom ngerti wkwkw~

Oke, itu hak kalian untuk suka dan gak suka. Sebagai manusia kita punya hak masing-masing untuk menjalani hidup kita seperti apa tapi juga ada kewajiban yang harus ditaati. Begitu juga dengan menjadi fans. Itu hak kita untuk suka sama artis tertentu tapi kita punya kewajiban untuk menghargai artis lain yang gak kita suka. Salah satunya dengan tidak menjelek-jelekkan mereka di fandom orang lain.

Kenyataannya artis-artis favorite kita banyak juga yang temenan bahkan sahabatan sama artis yang gak kita suka. Jadi kalau kita ngebash artis yang gak kita suka yang kebetulan sahabat fans kita pernah bayangin gak gimana perasaan mereka? Bisa jadi kedua sahabat itu malah musuhan. Kan kasian.

Yang mengejutkan lagi tadi ada postingan di tumblr yang bilang kalau Elf bilang tanpa Suju SM gak akan ada apa-apanya. Gimana yah? Banyak juga sih Cassie yang ngomong kayak gitu. Dan cuman satu pendapat saya tentang orang-orang itu, mereka BODOH!! Kenapa begitu? Karena Kangta aja pernah bilang sebelum menandatangani kontrak artis dan managemen harus saling menguntungkan. Jadi tentunya SM dan Suju dan DBSK itu saling membutuhkan.

Pernah ada yang mikir gak gimana klo Smentertaintment gak pernah ada? Artinya gak akan ada Suju, SNSD, DBSK, dan Shinee serta artis-artis idola kita yang lain. Jangankan mereka H.O.T. sama Shinwha aja gak akan ada donk.  Gak usah itu deh, kalo gak ada SM pasti gak akan ada JYP, YG bahkan TN juga.

Jadi, masih mau saling ngeBashing? Menurutku tobat aja deh!

Jangan ikut-ikutan untuk hal-hal yang gak baik dan bisa merugikan. Daripada kamu jadi antis mending jadi fans. Kalo gak mau jadi fans yang gak usah diperhatiin tuh artis-artis yang gak kamu suka. Kan gampang. Kalo kamu masih ngurusin hal-hal gak penting kayak gitu, artinya kamunya aja yang kurang kerjaan.

Love Between

LOVE BETWEEN

DON’T COPAS !! NO PLAGIATOR !!

You maybe need to read this first

Love To Say GoodBye

Love To Say GoodBye OS

*

Mungkin cinta tidak harus untuk selamanya. Seperti kehadiranmu disisiku, yang bagaimanapun caranya tak akan bisa selalu kumiliki.  Lagi pula, bukankah mencintai tak selalu harus memiliki? Dan untuk pertama kalinya di dalam hidupku, aku merasa kuat. Tegar. Dan mampu menghadapi hari esok sendirian, meskipun harus tanpa dirimu… Continue reading “Love Between”

Love To Say GoodBye // OS

Dosakah aku jika terlalu mencintaimu?

Aku tak meminta perasaan seperti ini tumbuh di hatiku. Namun, kenyataannya Tuhan malah mempercayaiku untuk menerimanya.

Jadi, jika mencintaimu itu salah, apakah Tuhan sudah membuat kekeliruan?

Sungmin Oppa, jawab aku…

Sungmin Oppa

  Continue reading “Love To Say GoodBye // OS”

Love To Say GoodBye

PROLOGUE~

Continue reading “Love To Say GoodBye”

More Than Yesterday

Pairing:: Lee Sungmin & Choi Sooyoung

Author:: Gita Oetary

Genre:: Sad Romance

Rating:: General

Lenght:: One Shoot

Disclaimer:: DON’T COPAS WITHOUT PERMISSION!! NO PLAGIATOR!! Continue reading “More Than Yesterday”

Skies Tear Drops//OneShoot

Starring: Jessica Jung, Lee Donghae, Im Yoona

Author: Gita Oetary/Goetary Continue reading “Skies Tear Drops//OneShoot”

Love Is All I Have

Author : Gita Oetary as Goetary21

Cast :  Kim Hyoyeon
               Hangeng
               Cho Kyuhyun

Genre : Bad Romance

Rating : NC21

WARNING !! DON’T COPY WITHOUT MY PERMISSION !! AND NO PLAGIATOR !!

Seorang wanita cantik dengan rambutnya yang panjang di cat kuning berjalan tergesa-gesa menuju sebuah meja di sudut cafe yang sedang di duduki oleh segerombolan gadis remaja.
“Siapa yang bernama Hyoyeon disini?” tanya wanita berkulit putih tersebut dengan sikap yang kurang ramah.
Gadis-gadis tersebut menjawab pertanyaan perempuan berambut pirang itu dengan tatapan tak suka.
“Untuk apa kau mencarinya?” tanya Yoona buka suara.
“Bukan urusanmu.”
Yoona mendengus kesal, dan mengacuhkan perempuan tak tahu diri itu.
“Ya!!” bentak perempuan itu kasar. “Aku sedang bertanya pada kalian, dimana gadis bernama Hyoyeon itu berada saat ini?”
Sunny berdiri dengan tak sabaran. “Kau mau cari masalah dengan kami yah? Kau pikir aku takut pada ahjumma sepertimu?” tantangnya.
“Apa kau bilang? Tante? Kau memanggilku tante!?”
“Ada apa kau mencariku?” Baru saja keributan dimulai, gadis yang di cari sudah berada di belakang perempuan tersebut.
“Kau yang bernama, Hyoyeon?” tanyanya.
“Benar.”
Sebuah tamparan tiba-tiba melayang ke pipi Hyoyeon tanpa ia sempat menghindar lagi. Bekas tamparan tersebut meninggalkan rasa panas di pipi dan hatinya. Tatapannya murka.
“Dasar tak tahu diri. Berani-beraninya kau merebut suami orang!! PEREMPUAN JALANG!! TAK TAHU MALU!!”
Bagai ribuan tamparan datang bertubi-tubi mengarah padanya. Bukan hanya pipinya yang terasa sakit, namun sekujur tubuh hingga kedalam sel-sel tubuhnya. Hyoyeon baru saja akan melawan saat akhirnya mengenali perempuan itu. Perempuan itu adalah istri Hangeng. Dan ia tak mungkin lagi mengelak.
Belum lagi keterkejutannya mereda, sebuah tamparan keras kembali melayang. Namun kali ini bukan wajahnya yang menjadi sasaran tamparan tersebut, melainkan perempuan yang berdiri di depan Hyoyeon.
“Sudah kuperingatkan padamu untuk tak mengusiknya.”
“Memangnya kenapa? Dialah orang yang sudah merebutmu dariku.”
“Jangan asal bicara!”
“Jadi maksudmu, kau dengan suka rela datang padanya?”
“Jaga bicaramu.”
“Kalian berdua sama saja. Sama-sama biadab, tak bermoral.”
“Sudah kubilang jaga bicaramu!”
“Memangnya kau mau apa? Memukuliku lagi? Silahkan, tampar saja lagi!”
Hangeng sudah kehabisan kesabaran. Cepat-cepat ia menoleh pada Hyoyeon yang diam saja. “Kau tak apa-apa?” tanyanya khawatir.
“Tidak,” jawab Hyoyeon sambil menggeleng. Gadis itu kemudian berjalan ke meja tempatnya menaruh tas dan beranjak pergi. Tapi Hangeng segera mencegatnya.
“Biar kuantar kau pulang.”
“Aku baik-baik saja.”
“Hyona…”
“Tidak apa-apa, oppa. Jangan khawatir.”
“Kalau begitu telpon aku sesampaimu dirumah.”
“Kau lebih memilih dia ketimbang aku?! Kalau begitu baiklah, tapi jangan harap kau bisa tetap menjadi ayah bagi Hyerin. Kita cerai.”

Hyoyeon baru saja keluar dari kamar mandi saat telponnya berdering. “Yoboseo?”
“Sudah sampai dirumah?”
“Oppa…”
“Sudah makan malam?”
“Baru saja,” dustanya.
“Hyona…” Hangeng mendesah di seberang. “Aku ingin bertemu.”
Yang di ajak bicara diam saja.
“Kau masih disitu?” tanya Hangeng.
“Hmm…”
“Aku jemput yah?”
“Sudah malam, sebaiknya besok saja.”
“Aku merindukanmu…”
“Aku juga.”
“Kalau begitu kujemput sekarang?”
“Baiklah…” Sambungan telpon di putus sepihak. Hyoyeon memandangi layar ponselnya dengan wajah murung. Air mata mengenang di pelupuk matanya.

Hyoyeon merasa heran saat melihat mercedes berwarna putih sudah terparkir anggun di depan rumahnya. Padahal baru lima menit yang lalu ia memutuskan hubungan telpon dengan Hangeng, setidaknya pria itu butuh lima belas menit untuk sampai kerumahnya.
Tit… Tit…
Klaksonnya berbunyi. Karena merasa dirinyalah yang di panggil maka Hyoyeon mendekat. Kaca jendela mobil itu terbuka perlahan. Namun pria yang duduk di belakang kemudi bukanlah orang yang di tunggunya. Ia bahkan tak yakin kalau pernah melihat pria itu sebelumnya.
“Naiklah, Hyoyeon ssi.” Ujar pria itu dengan senyumnya yang indah.
“Kau siapa?” tanya Hyoyeon ragu-ragu.
“Naik saja, nanti kuceritakan.”
“Tapi aku sudah punya janji dengan seseorang.”
“Tak akan butuh waktu lama. Percayalah padaku.”
Hyoyeon segera masuk kedalam mercedes berwarna putih tersebut tanpa banyak berdebat lagi. Lagipula ia sudah mengenali pria itu, pria yang selama ini selalu berdiri di belakang meja bar tempat ia dan teman-teman sering berkunjung.
“Ada apa?” Mobil mulai berjalan pelan, keluar ke jalan raya.
“Tidak ada apa-apa.”
“Tadi kau bilang ada yang ingin di bicarakan.”
“Itu tadi, sekarang tidak lagi.”
“Sebenarnya apa maumu?”
“Namaku Cho Kyuhyun.”
“Aku tak tanya siapa namamu, dan tak mau tahu.”
“Pemilik cafe yang sering kau datangi.”
“Aku tak perduli.”
“Baiklah.”
“Turunkan aku disini.”
“Aku tahu kau akan bertemu dengan Hangeng hyung.”
“Bukan urusanmu.”
“Dulu itu memang bukan urusanku, tapi sekarang berbeda.”
“Apa maksudmu sebenarnya?”
“Sekarang itu sudah menjadi urusanku.”
“Memangnya kenapa?”
“Karena aku menyukaimu.”
Hyoyeon nampak terkejut namun berusaha sekeras mungkin untuk terlihat biasa-biasa saja. “Jangan bercanda denganku.”
“Aku tidak sedang bercanda,” kali ini Kyuhyun terlihat serius. Senyum di wajahnya tak lagi nampak seperti sebelumnya. “Aku benar-benar menyukaimu.”
“Aku tak perduli,” tegas Hyoyeon. “Tolong hentikan mobilnya.”
Khyuhyun mengarahkan mobil ke pinggir jalan, dan segera mematikan mesin mobilnya. Ia memosisikan duduknya hingga berhadapan dengan Hyoyeon. “Aku tahu kau mencintai Hangeng hyung, tapi dia sudah ada yang punya.”
“Itu sama sekali bukan urusanmu.”
“Jangan marah. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
“Jangan ikut campur dengan urusanku,” suara Hyoyeon mulai sedikit melunak. “Tinggalkan aku sendiri.” Kini ia menangis.
“Aku tahu kau sangat mencintainya. Tapi, bolehkah aku meminta satu permintaan? Ijinkan aku mendampingimu. Perlahan, aku akan membuatmu melupakannya.”
“Jangan katakan hal konyol seperti itu padaku.”
“Lihat aku,” Kyuhyun mengangkat wajah Hyoyeon dengan telunjuknya. “Apakah aku nampak konyol dimatamu? Tidakkah kau melihat keseriusan disana?”
Hyoyeon memalingkan wajah dan menghapus air matanya. “Tolong antar aku kembali ke rumah.”
“Hyona…” suasana hening. “Pinjamkan ponselmu sebentar.”
“Untuk apa?”
“Berikan saja.”
Hyoyeon memberikan ponselnya pada Kyuhyun yang segera menaruh nomor ponselnya ke dalam memori telpon Hyoyeon.
“Ambillah,” ujar Kyuhyun seraya menyerahkan ponsel Hyoyeon kembali. “Aku sudah mensetting telponku di nomor satu. Jika kau membutuhkanku, kapan saja aku akan datang menemuimu.”
Setelah berkata demikian Kyuhyun segera mengemudikan mobilnya, memutar balik kearah rumah Hyoyeon. Setibanya mereka, sebuah mobil sudah menunggu di depan rumah Hyoyeon. Tanpa berkata apa-apa lagi Hyoyeon langsung keluar dari mobil Kyuhyun dan berhambur masuk ke mobil milik Hangeng yang sudah sejak tadi menunggunya.
“Siapa dia?” Tanya Hangeng menyelidik.
“Bukan siapa-siapa.”
“Pria atau wanita?”
Hyoyeon mendesah lelah, “sudahlah oppa, jangan lagi mempermasalahkan hal sepele seperti ini. Bukankah tadi kau bilang ingin bertemu denganku? Apakah hanya untuk bertengkar seperti ini?”
Hangeng meraih jemari Hyoyeon dan meremasnya. “Maafkan aku,” bisiknya lembut. “Aku sebenarnya sangat merindukanmu, Hyona.”
Hyoyeon hanya tersenyum mendengar ucapan Hangeng. Sementara memperhatikan pria itu mengemudikan mobilnya dengan sangat lincah meski hanya dengan sebelah tangan saja.

Mereka sampai di apartement milik Hangeng. Setelah berpisah selama hampir dua tahun dengan Jessica, Hangeng sudah tinggal sendirian. Mereka memang belum bercerai secara resmi, karena Jessica selalu mengancam untuk tak mengijinkan Hangeng bertemu dengan putri semata wayangnya lagi jika hal itu benar-benar terjadi.
Hyoyeon sudah sering di ajak ke apartement milik Hangeng tersebut, bahkan sebagian baju dan peralatan make-up miliknya di taruh disana karena ia sering menginap. Tapi malam ini tempat itu terasa asing.
Hangeng segera memeluk tubuh Hyoyeon dari belakang. Mencium tengkuknya, meninggalkan bekas panas di tempat yang habis di sentuhnya. Tiba-tiba Hyoyeon menghindar, menjauh dari Hangeng.
“Ada apa?” tanya pria itu bingung.
“Sebaiknya kita sudahi sampai disini.”
“Hubungan kita?” Hangeng nampak tak percaya dengan yang barusan di dengarnya. Gadis yang ia cintai tiba-tiba meminta berpisah darinya.
“Lebih baik kita jangan bertemu lagi.”
“Ada apa, Hyona? Apa yang sebenarnya terjadi?” Hangeng terus mencerca Hyoyeon dengan pertanyaan. “Apa karena sikap Jessica tadi? Atau ucapannya?”
“Bukan itu. Aku sudah memikirkan hal ini sekian lama.”
“Berapa lama? Seminggu? Dua minggu?”
“Semua yang kita lakukan tidak benar, oppa.”
“Yang mana yang tidak benar? Kita tidak sedang berselingkuh. Kita saling mencintai. Lalu bagian yang mana yang salah menurutmu?”
“Jangan paksa aku.”
Hangeng mendekat. “Aku sama sekali tak memaksamu. Hanya saja, kau tak boleh memutuskan hubungan kita seperti ini. Dengan alasan yang tidak jelas.”
“Hanya untuk bersamaku, kau tak boleh tidak memikirkan masa depan Hyerin juga. Bagaimanapun dia masih membutuhkan seorang ayah.”
“Aku tahu itu. Meskipun bercerai dengan Jessica aku masih bisa memperjuangkan Hyerin.”
“Oppa,” Hyoyeon menaruh tangannya di lengan Hangeng. “Kita tidak boleh egois seperti ini. Kau tahu apa yang paling di butuhkan Hyerin bukan?”
“Bagaimana denganku?” tanya Hangeng frustasi. “Apa aku tak berhak mendapatkan apa yang kubutuhkan? Apa aku tak boleh bahagia dengan memilih sendiri orang yang akan mendampingiku?”
Hyoyeon menggeleng.
“Kumohon. Jangan suruh aku pergi. Jangan menyudahi hubungan kita. Tanpamu, bagaimana aku harus hidup, Hyona?”
“Kau akan baik-baik saja, oppa.”
Hangeng diam seribu bahasa. Ia mengenal baik karakter Hyoyeon, sekali gadis itu memutuskan sesuatu maka sulit untuk mengubahnya kembali. Bahkan terkadang hampir mustahil. Jadi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Hangeng duduk di ujung tempat tidurnya, menundukkan kepala dalam-dalam. Hyoyeon datang menghampiri dan memeluknya di dadanya. Perlahan suara isakan mulai terdengar, Hyoyeon sedikit terkejut dengan kenyataan bahwa seorang pria seperti Hangeng bisa juga menangis.
“Hatiku sakit, Hyona. Tanpamu, aku pasti menderita.” Isak Hangeng.
Hyoyeon mempererat pelukannya, membelai lembut kepala Hangeng. Tangisan Hangeng perlahan memudar. Ia mengangkat kepalanya, dan mencari bibir Hyoyeon. Pelan-pelan bibir mereka bertemu. Hyoyeon menautkan jemarinya di rambut tebal Hangeng. Mengeratkan pelukannya sementara bibir Hangeng terus mengulum bibirnya tanpa jeda.
Mereka terhanyut dalam gelora, gairah perlahan tersulut. Tubuh mereka saling menarik, tangan Hangeng mencari ujung baju Hyoyeon dan segera melucutinya hingga gadis itu hanya tinggal memakai baju dalam saja. Sementara Hyoyeon tak kalah gesit, di bukanya kancing kemeja Hangeng satu-persatu dan langsung menelanjangi tubuh kekar pria itu.
Bibir mereka terpisah sesaat. Hangeng memperhatikan wajah cantik Hyoyeon seakan ini untuk yang terakhir kalinya. Air mata mengenang di mata Hyoyeon saat bertemu pandang dengan Hangeng, saat ia menutup mata air mata itupun lolos di pipinya.
Hangeng menyeka air mata Hyoyeon dengan bibirnya. Tangannya membelai mesra payudara Hyoyeon. “Aku mencintaimu,” bisik Hangeng di dekat telinga Hyoyeon. Yang di jawab gadis itu dengan ciuman.
Hangeng merasa sekujur tubuhnya panas. Ia balas memeluk Hyoyeon. Tangannya mengelus punggung ramping Hyoyeon. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Hyoyeon yang penuh. Di pengangnya bokong itu dengan lembut, dielusnya, kemudian diremasnya dengan penuh hasrat.
Kejantanan Hangeng bereaksi. Keduanya merasakannya. Desah napas mereka memburu.
Hangeng mendesah sambil menciumi rambut Hyoyeon, lalu menjauhkan tubuh wanita itu agar bisa mencium bibirnya yang membuka. Sekali lagi bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Hyoyeon memasrahkan dirinya pada Hangeng, membiarkan pria itu mendominasinya.
Dengan penuh cinta lidah Hangeng menjelajah, menjilat, berputar-putar di dalam mulut Hyoyeon. Seluruh panca indra Hyoyeon bergetar. Getaran tersebut merayap masuk kedalam tubuhnya secara halus.
Jemari Hangeng beranjak turun, mengelus paha Hyoyeon dan dengan lembut membelai kewanitaannya. Hyoyeon membalas setiap sentuhan dengan desahan tertahan. Namun tiba-tiba kesadaran Hyoyeon mengambang. Pandangannya mulai kabur ketika bibir Hangeng bergerak turun menemukan sasaran yang lebih intens. Mengalirkan gelombang kenikmatan yang menyiksa dan teramat menggairahkan.
Hyoyeon merintih, tubuhnya melengkung di bawah tubuh kekar Hangeng yang menindihnya. Kedua tangannya terulur dan mencengkram rambut Hangeng, menarik lelaki itu, mencari sesuatu yang dapat menjawab kebutuhan yang meledak-ledak dalam dirinya.
Ketika Hangeng memasukkan tubuhnya, badan Hyoyeon bergetar. Hyoyeon dapat merasakan Hangeng bergerak semakin dalam. Dan gairah dalam dirinya mulai menggila.
Hangeng merasa Hyoyeon menghimpit kejantanannya, sesuatu meledak di dalam sana. Hangeng menggerakkan tubuhnya semakin cepat, naik-turun dan sebentar memutar. Tubuh Hyoyeon bergetar tiap kali Hangeng mengangkat tubuhnya, lalu mendesah hebat ketika pria itu memasukinya lagi dan semakin menggila setiap kali Hangeng memutar kejantanannya dalam tubuh Hyoyeon.
Malam semakin larut, gairah seakan tak pernah terpuaskan. Mereka bercinta, menemukan puncak kenikmatan berkali-kali. Namun tak pernah cukup. Setiap mencapai puncak gairah, semakin mereka merasa haus dan tak pernah cukup air untuk melepas dahaga mereka.

Desahan napas teratur menggema. Hyoyeon terjaga di sebelah Hangeng. Setitik air menetes di hidungnya saat pandangannya tak bisa lepas dari wajah tampan Hangeng yang tengah terlelap. Ia membelai rambut lelaki itu dan mengecup singkat keningnya, takut membangunkannya.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah lima subuh. Pelan-pelan Hyoyeon bangkit dari tempat tidur, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Tak ingin Hangeng menyadari kepergiannya.
Ia memakai bajunya yang semalam dengan tergesa-gesa namun dalam diam. Hangeng masih nampak nyenyak.
Hyoyeon berjalan mengendap-ngendap keluar kamar setelah menaruh secarik surat untuk Hangeng. Tanpa Hyoyeon ketahui Hangeng ikut bangkit dari ranjangnya ketika pintu kamarnya di tutup dari luar, lelaki itu beranjak ke meja rias dan mengambil surat yang di tinggalkan Hyoyeon untuknya.
Setibanya ia di luar rumah, langit masih terlalu gelap untuk dirinya pulang berjalan kaki. Sementara taksi tak satupun terlihat melintas. Ia pun mengambil ponselnya dan memencet angka satu. Terdengar nada sambung yang panjang dan berkali-kali sebelum seseorang akhirnya mengangkat telpon tersebut.
“Yobseyo?” suara mengantuk di ujung sana.
“Kyuhyun ssi, apa aku mengganggu?” Hyoyeon tidak serius dengan ucapannya. Ia tahu kalau saat ini ia memang mengganggu.
“Hmm, ada apa?”
“Kau bilang akan membantuku kapan saja aku butuh…” Hyoyeon diam sejenak sebelum kembali berkata, “aku perlu bantuanmu sekarang.”
“Kau dimana?”

Sebuah sedan mercedess berwarna putih mengkilat melesat dalam kecepatan tinggi di jalan raya Seoul yang masih belum memulai aktifitas. Ban mobil berdecit pelan ketika Kyuhyun secara tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan Hyoyeon.
Dibukanya sedikit kaca dan berseru, “masuklah.”
“Maaf sudah memintamu untuk menjemputku pada jam segini,” kata Hyoyeon bersungguh-sungguh.
Kyuhyun tersenyum dan berkata, “aku tak punya pilihan lain. Aku tak bisa membiarkanmu berjalan pulang sendirian pada jam segini.”
“Pokoknya terima kasih Kyuhyun ssi…”
“Kapan saja.”
Hening.
“Jadi kau mau kuantar pulang sekarang?”
Hyoyeon diam sesaat, “aku tak ingin pulang.”
“Mau lihat matahari terbit? Kita masih sempat jika kesana sekarang.”
“Boleh…”
Kyuhyun mengemudikan mobilnya tanpa banyak bicara lagi. Ia tahu Hyoyeon butuh waktu untuk menenangkan pikirannya tapi tak ingin sendirian. Jadi ia akan membiarkan Hyoyeon sampai perempuan itu mau bicara sendiri.
Tak memakan waktu lama untuk sampai ke pantai. Masih ada beberapa menit sebelum matahari terbit. Kyuhyun menoleh kearah Hyoyeon yang sedang memandang jauh keluar jendela. Lelaki itu mematikan mesin mobilnya, menurunkan sandaran mobil dan jatuh terlelap.
Hyoyeon merasa kasihan melihat Kyuhyun, namun juga bersyukur karena pria itu tak meninggalkannya sendirian. Perlahan cahaya kekuningan mulai nampak di garis  horisontal.
Hyoyeon keluar dari dalam mobil dan berjalan ke pesisir pantai tanpa mengenakan alas kaki. Pasir pantai yang basah membuatnya merasa nyaman meskipun sedikit menggigil. Hyoyeon duduk di atas batu besar, dan kembali memandang jauh.
Mata Kyuhyun mengerjap membuka. Matanya mengernyit silau. Tak mendapati Hyoyeon di samping, tergesa-gesa Kyuhyun bangkit dari tidurnya. Tapi segera merasa lega saat melihat sosok ramping Hyoyeon di atas batu karang besar di tepi pantai.
Kyuhyun datang menghampiri Hyoyeon. “Cantik yah?” tanyanya saat sudah berada di samping gadis itu.
Hyoyeon mengangguk dengan senyum manis di wajahnya. Tiba-tiba bagai sengatan listrik Kyuhyun merasa jantungnya berdebar demikian cepat melihat senyuman itu. Kyuhyun duduk di samping Hyoyeon.
“Terima kasih sudah membawaku kesini, Kyuhyun ssi…” Hyoyeon mengalihkan pandangannya dari pantai menatap Kyuhyun yang terlihat salah tingkah. “Aku suka…”
Kyuhyun semakin gelagapan.
“Aku suka melihat matahari terbit,” jelas Hyoyeon kembali tersenyum sumringah.
Kyuhyun hanya bisa merespon dengan tersenyum. Bibirnya sedikit bergetar karena gugup. Hyoyeon tak pernah terlihat secantik saat ini dan hal itu membuat jantungnya berdegup tak karuan.
“Kyu…” bisik Hyoyeon.
“Hmm?”
“Tawaran semalam, apakah masih berlaku?” Tanya Hyoyeon penuh harap.
“Tawaran yang mana?”
Hyoyeon menimang-nimang ucapannya, “tawaran untuk menjadi kekasihmu.”
Kyuhyun tak bisa menahan perasaannya. Senyum bahagia tersungging indah di wajah tampannya. Tak kuasa ia tertawa, menunjukkan deretan giginya yang kecil dan putih. Hyoyeon suka melihat tawa pria itu. Dan merasa bersyukur disukai olehnya.
Melihat Kyuhyun belum bisa menjawabnya Hyoyeon segera mengambil inisiatif dan mengaitkan tangannya di lengan Kyuhyun. Jantung Kyuhyun berdegup semakin cepat saking bahagianya.
Kyuhyun berpaling menatap Hyoyeon. Mendekatkan wajahnya dengan Hyoyeon. Mencari bibir gadis itu. Meskipun hanya berlalu singkat, namun bibir Kyuhyun terasa begitu manis bagi Hyoyeon.
Kyuhyun lalu meraih tubuh Hyoyeon dan menyandarkan gadis itu di bahunya. Sinar matahari perlahan-lahan mulai merangkak naik. Udara sudah tidak sedingin tadi, bahkan terasa hangat.
Keduanya memandang ke arah fatamorgana, jauh dengan pikiran masing-masing. Untuk melupakan Hangeng, Hyoyeon mungkin membutuhkan bantuan Kyuhyun. Namun ia percaya, tak akan butuh lama untuk dapat mencintai pria ini seutuhnya dengan sepenuh hati.
Karena degup jantung Hyoyeon saat ini sudah membuktikan kalau Kyuhyun dapat membuat detakannya lebih cepat dari biasanya. Lagipula, tak ada senyuman yang lebih manis dari senyum Kyuhyun yang pernah dilihatnya seumur hidup.

-The End-