Hujan bulan Juni

Percayakah jika kubilang, Orang mati bisa tetap hidup dalam mimpi orang lain? Seperti pada malam-malam setelah kepergiannya, dia, masih ada. Dalam mimpi yang terasa begitu nyata. Seolah dia benar-benar masih disini.

“Percaya gak?”
Sebelah kening lelaki itu terangkat mendengar satu kalimat pendek yang selalu menjadi ciri khas tiap kali perempuan cantik di hadapannya ingin mengatakan sesuatu. Seakan apa-apa yang ingin dikatakannya sudah lebih dulu keluar dari bibirnya, atau bisa saja ia berpikir dengan mengatakannya mendadak orang tau apa yang sedang ia pikirkan. 

Tapi seperti biasa dirinya tak sedang ingin berdebat. Lagipula baginya hal kecil seperti itu adalah salah satu daya tarik wanita itu.

“Percaya soal apa?” tanyanya tampak berminat.

Wanita berambut sebahu itu tersenyum membalas ketertarikan yang ditujukan untuk dirinya. Ia berdeham supaya terlihat serius. Atau supaya terlihat pintar di depan pria menarik itu.

“Kamu pernah gak, gak bisa tidur waktu malam padahal udah ngantuk banget?” pria itu mengangguk dan dia segera merebut kesempatan itu untuk melanjutkan ucapannya.

“Jadi, saat kita gak bisa tidur waktu malam padahal udah ngantuk banget itu sebenernya bukan karena hal gaib atau semacamnya. Tapi karena kita hidup di saat itu dalam mimpi seseorang.”

Mendadak terlihat antusias, lelaki itu bertanya, “O ya?”

Wanita itu mengangguk cepat. “Seperti ada kontak batin di antara dua orang, tapi mereka gak sadar. Sering dengar soal kekuatan pikiran kan? Dimana ketika kita memusatkan pikiran pada suatu hal dan itu bisa terjadi. Beda tapi cukup mirip,” ia mengakhiri penjelasannya dengan tampang sok tau. “Percaya gak?” tanyanya kemudian.

Senyum kembali mengukir pipinya, lelaki itu lalu mengangguk. “Aku percaya…”

Hujan bulan Juni

Setahun telah berlalu sejak itu. Namun hujan di tahun kemarin selalu membekas di hatinya. Ketika itulah hidupnya yang dipenuhi kabut kebohongan terselamatkan untuk pertama kalinya. Pada hujan di penghujung Juni, ia akhirnya menyadari bahwa perlahan luka yang menoreh hati berangsur pulih.

Seseorang menggenggam jemarinya, erat, hangat, dan banyak cinta mengalir naik dari saraf-saraf di antara jari-jemarinya. Ia menoleh, memandang pria berkemeja hitam yang duduk di balik kemudi mobil di sisinya.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Hujan bulan Juni

true love has a habit of coming back

 

alone-baby-cry-rain-favim-com-2056544

Tiap kenangan yang ia punya. Cinta yang ia miliki. Hancur lebur, koyak bagai kertas di tengah badai hujan dan angin. Tak yakin siapa yang harus ia percaya. Kebohongan apa yang selama ini ia hidup di dalamnya. Mendadak merasa seakan tiap orang tengah melakukan tipu muslihat kepadanya. Ia merasa dipermainkan. Cinta yang dibangun oleh kenangan ternyata tak cukup kuat menanggung kepedihan oleh pengkhianatan, yang rasanya ribuan kali lebih memilukan dari apapun yang pernah ia rasa.

-Goetary-

Senandung hujan

image

Rindu.
Bagaimana rasanya hujan sepeninggalanku malam itu.
Adakah ia tetap terasa manis di bibirmu.
Ataukah langkahku menyeret pergi gula dari kopi hitam kesukaanmu.
Masihkah kau tersenyum mengingat senyuman di bibirku kala hujan jatuh serentak bersenandung.
Ataukah, justru kini benci meretas tiap bunyi hujan mengaduh di atap rumah.

Hanya aku…

Sore ini hujan lebih deras dari biasanya

Ataukah hanya aku yang melihatnya demikian?