Indah dalam sajak

Sad-alone-girl-missing-her-lover-wallpapers

Setelah ini, entah kapan dan dimana. Kau pasti akan bertanya, “Mengapa?”

Namun jawabannya akan tetap sama.

Cinta… selalu tampak indah dalam tulisan.

Maka menulis namamu dalam sajak-sajak beruntun.

Adalah kesenangan, sekaligus hiburan.

Bagi hati yang terluka akibat mencintaimu.

Batu

56098fda1b00002f00dfdb6c

Jangan kau dorong aku

ke atas bukit itu

kalau hanya untuk berguling kembali

ke lembah ini.

 

Aku tak mau terlibat

dalam helaan nafas, keringat,

harapan, dan sia-siamu.

 

Di lembah ini aku tinggal

menghadap jurang, mencoba menafsirkan

rasa haus yang kekal:

ketentraman ini, sekarat ini.

-Sapardi Djoko Damono-

Abadilah Cinta

Tittle                     :               Abadilah Cinta

Author                 :               Andrei Aksana

Genre                    :               Romance

Penerbit              :               Gramedia Pustaka Utama

Release                :               2003 cetakan pertama, dan 2008 cetakan kedua (ganti cover)

Characters          :               Revan, Ersad, Ardini

Status                   :               Read (burn by fire)

Buy Date             :               Probably 2006

Synopsis:

“Aku hanya memintamu untuk menjaganya, Er!” pekik Revan kecewa, sesaat setelah bebas dari penjara.
“Tapi aku tidak pernah menyuruhmu untuk mencintainya!”

“Lalu, kauanggap apa aku ini?” desis Ersad tersinggung. “Sebentuk robot yang tak memiliki nurani? Sekian tahun kulalui bersamanya, apakah salah jika tumbuh perasaan di hatiku? Adrini istri yang baik. Ia memberikan semua yang kubutuhkan.”
“Karena itulah dulu aku ingin mengawininya. Ia milikku. Dan sekarang aku memintanya kembali darimu!”

Tujuh tahun sebelumnya, karena harus mendekam di balik terali penjara, seorang lelaki meminta sahabatnya untuk menikahi kekasihnya. Dan kini ia meminta kembali semua haknya. Revan dan Ersad, dua lelaki yang memperebutkan cinta suci seorang wanita.
“Kau telah melewati ribuan hari bersama Ardini, Er,” pinta Revan penuh permohonan. “Kini izinkan aku memilikinya hanya untuk satu malam…”

Continue reading “Abadilah Cinta”

The day when you walk away

 

Selangkah demi selangkah, kau berjalan menjauh

Menyisakan kehampaan yang tak berkawan

Detik demi detik, waktu berputar

Membawa kesempatan berlalu bersamanya

Saat kau beranjak pergi

Mengapakah aku tak bisa mengejarmu?

Padahal aku ingin memintamu untuk tetap tinggal bersamaku

Padahal jiwaku bagai rerumputan yang kering di musim kemarau tanpamu

Jangan pergi…

Aku ingat mengucapkan kalimat tersebut

Aku ingat sempat menengok kearah mana kau pergi

Tapi kau tak berhenti, bayanganmu memudar ditelan kabut yang bersarang di mataku

Kau tak lagi menengok ke belakang. Di tempat aku menunggumu penuh harap

Lalu aku sadar, ternyata, ucapanku barusan sudah di telan angin, hingga kau tak mendengarnya, kau tak merasakannya

Disana.

Hanya bayanganmu yang tak mampu di renggut oleh sang waktu

Selamanya bersemayam di hatiku

Bagai hantu yang mengikuti kemanapun diriku pergi

Disana.

Dalam diam, sunyi dan sepi, aku menunggumu

Tapi kau tak kembali.

Sementara aku masih disini.

Dengan hati terluka.

Menangisi kepergianmu.

Tanpa berharap kau kembali lagi…