Dear Cassie…

1196822_orig

At some point of making life decision.

Some people just can’t help but, growing apart.

Sadly…  You grow up. Together or not.

So until someday… have a day for all of us.

Continue reading “Dear Cassie…”

Solo Grey

solo-greys

Aku yakin, Tuhan pasti mengerti bahwa aku berusaha bahagia untukmu.

Karena tak peduli sekeras apa aku berusaha.

Aku tak bisa memaksamu merasakan apa yang tak ingin kau rasakan.

-Lee Junho-

Kau berjanji untuk mencintaiku dalam keadaan bagaimana pun.

Mencintaiku sepenuh hatimu.

Hari ini aku kembali, untuk menagih kata-kata itu.

-Shim Changmin-

Aku bukan orang yang sama, dengan wanita yang kau kenal 2 tahun lalu.

-Kwon Yuri-

Continue reading “Solo Grey”

How does your Coffee?

“How do you like your coffee, Ma’Am?”

“With a couple of bittersweet, one littre of tears, and a chocolate spoon made by longing,” she said.

Hujan bulan Juni

Percayakah jika kubilang, Orang mati bisa tetap hidup dalam mimpi orang lain? Seperti pada malam-malam setelah kepergiannya, dia, masih ada. Dalam mimpi yang terasa begitu nyata. Seolah dia benar-benar masih disini.

“Percaya gak?”
Sebelah kening lelaki itu terangkat mendengar satu kalimat pendek yang selalu menjadi ciri khas tiap kali perempuan cantik di hadapannya ingin mengatakan sesuatu. Seakan apa-apa yang ingin dikatakannya sudah lebih dulu keluar dari bibirnya, atau bisa saja ia berpikir dengan mengatakannya mendadak orang tau apa yang sedang ia pikirkan. 

Tapi seperti biasa dirinya tak sedang ingin berdebat. Lagipula baginya hal kecil seperti itu adalah salah satu daya tarik wanita itu.

“Percaya soal apa?” tanyanya tampak berminat.

Wanita berambut sebahu itu tersenyum membalas ketertarikan yang ditujukan untuk dirinya. Ia berdeham supaya terlihat serius. Atau supaya terlihat pintar di depan pria menarik itu.

“Kamu pernah gak, gak bisa tidur waktu malam padahal udah ngantuk banget?” pria itu mengangguk dan dia segera merebut kesempatan itu untuk melanjutkan ucapannya.

“Jadi, saat kita gak bisa tidur waktu malam padahal udah ngantuk banget itu sebenernya bukan karena hal gaib atau semacamnya. Tapi karena kita hidup di saat itu dalam mimpi seseorang.”

Mendadak terlihat antusias, lelaki itu bertanya, “O ya?”

Wanita itu mengangguk cepat. “Seperti ada kontak batin di antara dua orang, tapi mereka gak sadar. Sering dengar soal kekuatan pikiran kan? Dimana ketika kita memusatkan pikiran pada suatu hal dan itu bisa terjadi. Beda tapi cukup mirip,” ia mengakhiri penjelasannya dengan tampang sok tau. “Percaya gak?” tanyanya kemudian.

Senyum kembali mengukir pipinya, lelaki itu lalu mengangguk. “Aku percaya…”

Hujan bulan Juni

bc29a2c1499eae8b960aeea0f18995ce

“Abang sudah pergi, Mbak.” Begitu isi pesan Blackberry Messengger-nya.

Pada hari itu, ketika kabar kematian kekasih hatinya sampai kepadanya. Dia tidak menangis. Dia pikir, itu terjadi karena ia memang sudah siap untuk merelakan. Hingga keesokan harinya. Ketika akhirnya, entah bagaimana, ia mulai tersadar. Bahwa kali ini, kepergian lelaki itu adalah untuk yang terakhir, dan untuk selamanya.

Kali terakhir lelaki itu pamit, ia masih bisa mendengar suaranya lewat sambungan telefon. Terakhir kali lelaki itu memutuskan hubungan karena marah padanya, ia masih bisa meminta maaf dan berbaikan. Terakhir kali mereka berpisah, lelaki itu masih sering menghubunginya walau tidak bisa bertemu muka.

Maka meskipun telah berkali-kali ditinggalkan. Ia yakin lelaki itu tidak pernah benar-benar pergi. Dan hari ini, setelah seharian kemarin berlalu biasa saja. Ketika Ia mulai memikirkannya. Ketika ia meresapi rasa kehilangan yang mulai mengosongkan hatinya. Tak kuasa air mata serta-merta memenuhi penglihatannya.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Hujan bulan Juni

Aku akan selalu kembali, Sayang. Pengembara sekalipun, membutuhkan rumah. Bagiku kau adalah tempatku pulang. Akan selalu seperti itu. Percayalah…

-Goetary-

Hujan bulan Juni

Setahun telah berlalu sejak itu. Namun hujan di tahun kemarin selalu membekas di hatinya. Ketika itulah hidupnya yang dipenuhi kabut kebohongan terselamatkan untuk pertama kalinya. Pada hujan di penghujung Juni, ia akhirnya menyadari bahwa perlahan luka yang menoreh hati berangsur pulih.

Seseorang menggenggam jemarinya, erat, hangat, dan banyak cinta mengalir naik dari saraf-saraf di antara jari-jemarinya. Ia menoleh, memandang pria berkemeja hitam yang duduk di balik kemudi mobil di sisinya.

Continue reading “Hujan bulan Juni”