Aku tak marah

beautiful woman

Sekali dua kau kembali dalam benak

Kenyataan menghempas rindu yang tersembunyi rapat di balik genggaman

Dulu kau selalu bilang bahwa hidup ini tidaklah adil

Duhai Tuan yang selalu amat kucintai, hidup memang seperti itu

Tak ada keadilan

Tak ada kepastian

Sebagai manusia kitalah yang dituntut untuk selalu berdamai dengannya

Sama halnya seperti kadang kala kau kembali dalam bentuk kenangan

Menyempit dalam benak, menyakiti hati

Tapi aku tak marah, Tuan

Tidak akan pernah aku marah pada kenangan atas dirimu

Tidak akan pernah aku mengumpat serapah pada rindu yang berkali-kali mengetuk jiwa

Kubilang cinta adalah anugrah

Dan kau adalah hadiah

Meski kita tak lagi bisa kembali

Kau tak akan pernah kehilangan diriku

-Goetary-

Sakit merindukannya

71ac32eb64ed1a31cf08c2c9bb6491f9--people-laughing-photography-laughter-photography

Gerangan Tuan

Pun diriku merasa lucu dengan perasaan itu sendiri

Dia datang dengan ribuan janji

Ribuan rindu

Ribuan lagu yang serta-merta mewarnai kalbu

Tapi kemudian lenyap,

Bagai di telan angin malam

Tak berjejak

Bahkan ketika bintang masih bersinar di angkasa yang luas itu

Ia hilang tersapu ombak

Tenggelam dalam sunyi yang tak bercahaya

Tapi selucu apa pun perasaan itu

Hatiku, tak berdaya oleh rasa rindu yang menyakitkan

Duhai Tuan, aku merindukannya

Aku malu mencintaimu…

184558_10152766593480134_1832241076_n

Aku pasrah.
Jika mencintaimu berarti melukai orang lain. Aku menyerah. Padahal mereka bilang setiap orang berhak untuk bahagia, tapi anehnya kita tidak diperbolehkan memilih sendiri kebahagiaan kita. Mereka bilang setiap pertemuan, setiap kejadian, pasti ada alasannya. Tapi tak ada yang bersedia memberitahu alasan-alasan tersebut.
Aku pun ingin bahagia. Bersamamu. Demi Allah… hanya dirimu yang kuinginkan. Kini, Besok, dan Selamanya. Tapi jika Allah berkehendak lain, Sayang. Aku pasrah.
Aku tak bilang bahwa dengan ini aku menyerah. Tidak. Bukan begitu. Aku tidak sedang berlari menjauhimu. Tidak sedang mencoba menghindarimu. Bukan begitu. Aku hanya tak lagi tahu harus bagaimana.
Aku memikirkannya berkali-kali. Sejak terakhir kali aku melihat wajah familiar yang selama ini selalu menjadi tempatku berlari ketika membutuhkan perlindungan. Kilat di matanya yang menyembunyikan cemoohan akan dirimu dan keluargamu terus membuatku bertanya-tanya apa alasan sebenarnya beliau menolakmu, wahai pria pilihan hatiku.
Selama berpikir, air mata rasanya tak pernah selesai jatuh mengalir di pipi. Aku menangis sampai mata terasa berat. Hingga kepala terasa nyeri sebelum akhirnya jatuh tertidur.
Aku berusaha mencari pembelaan dimana-mana atas sikap keras kepalaku ini. Mencari dukungan yang bisa menguatkan perjuanganku untuk bisa bersamamu. Tapi semakin mencari, semakin tak bisa kutemukan apa yang kuinginkan. Jawaban yang kumau tak ada dimana-mana.
Aku tahu aku sudah mengkhianati dirimu sejak awal. Sadar maupun tidak. Ketika kudengar suara-suara sumbang yang mencoba menjatuhkanmu, ketika orang-orang berusaha melecehkanmu, menilaimu tanpa bukti. Seharusnya akulah yang bersikukuh, lebih lantang dalam membelamu, karena tahu bahwa apa yang mereka katakan tentangmu adalah salah.
Tapi aku, yang mengaku siap menerimamu apa adanya, yang mengaku akan berada disisimu, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah denganmu justru tak sanggup berkata apa-apa. Hanya jeritan kecil yang tertahan di ujung lidah, yang bertanya dari mana mereka mendapatkan semua berita itu. Yang bersikeras meminta bukti jika memang benar kau seperti yang mereka bilang. Dan ketika aku meragukanmu, aku tahu aku telah berkhianat. Dan lagi-lagi menyakitimu dalam diam.
Sayang, aku hampir tak punya muka untuk menemuimu lagi. Dengan segala keterbatasanku aku memohon ampun karena telah menarikmu dalam pusaran yang menghinakan. Aku ingin protes pada penguasa langit dan bumi, jika memang keberadaanku hanya membawa keburukan bagimu, untuk apa kita dipertemukan. Jika memang aku bukan untukmu dan kau bukan untukku, mengapa rasanya begitu benar saat kita bersama.
Jika lagi-lagi aku salah mengartikan tanda dari yang Maha Kuasa. Mungkin aku memang belum pantas untuk bahagia. Jauh sebelum bertemu denganmu ada do’a yang kerap kali kupanjatkan di antara kedua telapak tanganku. Dengan malu-malu karena tahu bahwa diriku belum bisa menjadi wanita yang baik, aku tetap meminta supaya dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menjadi imamku kelak. Lelaki baik yang tidak perlu tampan, yang tidak perlu kaya, yang hanya perlu mencintai-Nya sebelum mencintaiku. Yang menjadikanku urutan kedua setelah ibunya. Yang akan menjadikanku dan anak-anakku kelak sebagai tujuan suksesnya.
Akan tetapi, aku sadar. Ini hanya salah satu misteri yang tak akan pernah kuketahui jawabannya. Sehingga biarkan takdir melakukan tugasnya, dan kita mengupayakan apa yang mampu kita upayakan.
Awalnya kupikir aku menangis karena cintaku diabaikan.
Kini aku sadar. Aku menangis bukan semata karena penolakan demi penolakan yang kuterima, melainkan karena aku malu kepadamu. Aku malu telah memperkenalkan dirimu pada duniaku yang tak sepadan dengan duniamu. Aku malu, atas nama cinta aku membawamu ke kehidupanku yang penuh keangkuhan, dan menjadikan dirimu serta keluargamu santapan empuk para diktator. Aku malu telah mempermalukan dirimu dan keluargamu. Telah membiarkanmu terhina dan terlecehkan.
Hanya karena kau melakukan kebodohan di masa lalu, hanya karena kau melakukan kesalahan, tak berarti kau berhutang pengampunan pada manusia. Bukankah Allah telah menyiapkan ribuan maaf untuk kekhilafan yang dilakukan oleh hamba-Nya? Bukankah Allah berjanji untuk menutup aib yang diperbuat makhluk ciptaan-Nya jika kita berserah diri? Lagipula, manusia yang mana yang luput dari dosa?
Dan siapalah yang berhak menilai seorang hamba selain Penciptanya? Maka jangan takut atas penilaian orang lain atas dirimu, kau, lebih baik dari mereka yang menilaimu.
Jika masih boleh, aku ingin tetap berjuang bersamamu. Aku tahu itu pikiran yang impulsive. Tapi sebagai wanita aku malu karena telah membiarkan rasa cinta mengambil alih logika. Dan jelas, aku tak ingin menjemput murka Allah hanya karena memaksakan kehendakku dan membiarkan mereka yang berjasa dalam kehidupanku bersedih hati.
Jika kebahagiaanku tak sepadan dengan kesedihan yang kusebabkan pada hati orang lain. Jika kebahagiaan kita berdua adalah kebahagiaan yang mengharuskan kita menari di atas penderitaan orang lain. Maka mungkin sebaiknya kita jangan bahagia bersama.
Suatu hari nanti, setelah kita terlalu lelah untuk berjuang, setelah hari-hari kita lalui dengan target yang terus berubah namun tak kunjung tercapai, setelah kita lebih dewasa untuk berpikir dan menerima kenyataan, kuharap, kita sudah cukup bijaksana untuk membiarkan hidup membawa kita kemana takdir kita berada.
Sampai saat itu tiba, maafkan aku karena mencintaimu.