LAST YEAR // 01

One Last Year
The Story Has Just Begun
YunJae

Setahun.
Dua tahun… Itu saja cukup untuk menjadikanmu berarti…
Dihatiku…
Dihatimu…

Yunho masih berdiri diam menatapi lampu kota yang berwarna-warni dari kaca transparant, masih di tempat yang sama ketika Jejung meninggalkannya.
Pikirannya berkecamuk oleh banyak hal dan terutama tentang kepergian Jejung yang mungkin untuk selamanya. Titik-titik air hujan menempel di kaca di depannya, samar-samar Yunho dapat melihat bayangannya sendiri.
Ia tidak terlihat gembira, kekosongan di belakangnya seakan dapat menelannya sewaktu-waktu. Yunho termenung memandangi pantulan dirinya, sesuatu yang hangat merembes membasahi pipinya dan bayangan dirinya menunjukkan kalau ia sedang menangis tersedu-sedu. Continue reading “LAST YEAR // 01”

One Last Year//Chap.2

One Last Year
:Stay The Same:
YooSuMin

Aku percaya
Seberapa jauh aku berlari
Pada akhirnya akan kembali kepadamu
Memori terakhir…
Tetap menjadi sesuatu yang akan selalu menarikku ke sisimu. Selamanya.
Taksi berhenti tepat di depan sebuah klub elit. Tas tersampir di belakang bahunya yang lebar saat ia berjalan menaiki tiga anak tangga sebelum mencapai pintu yang di tunggui oleh dua orang penjaga.
Seorang wanita menyambut kedatangan pria bertubuh tinggi itu dengan senyuman lebar. Menuntun Changmin melewati koridor sepi dengan lampu berwarna biru temaram.
Setelah melewati beberapa pintu yang tertutup akhirnya mereka sampai di depan pintu yang terletak di ujung koridor. Pelayan itu kemudian meninggalkan Changmin, menghilang di belokan koridor pertama.
Pelan-pelan pintu terayun membuka dari luar. Aroma masakan hangat masuk ke saluran hidungnya. Ia ingat bau itu.
“Sudah lapar belum?” tanya sebuah suara. Changmin mengedarkan pandangannya yang sudah mulai terbiasa dalam gelap namun tak dapat menemukan sesuatu. Continue reading “One Last Year//Chap.2”

One Last Year//Chap.1

One Last Year

YunJae

 

Setahun.
Dua tahun… Itu saja cukup untuk menjadikanmu berarti…
Dihatiku…
Dihatimu…

Yunho masih berdiri diam menatapi lampu kota yang berwarna-warni dari kaca transparant, masih di tempat yang sama ketika Jejung meninggalkannya.
Pikirannya berkecamuk oleh banyak hal dan terutama tentang kepergian Jejung yang mungkin untuk selamanya. Titik-titik air hujan menempel di kaca di depannya, samar-samar Yunho dapat melihat bayangannya sendiri.
Ia tidak terlihat gembira, kekosongan di belakangnya seakan dapat menelannya sewaktu-waktu. Yunho termenung memandangi pantulan dirinya, sesuatu yang hangat merembes membasahi pipinya dan bayangan dirinya menunjukkan kalau ia sedang menangis tersedu-sedu.

Like a fool without feelings, I refused to talk and I send you off
Leaving like this, how to go on everyday?
Then I cry silently and wordlessly
Cause I want to stay next to you

Yunho meratapi foto yang terpajang di tembok, di dalam foto itu wajahnya bersama keempat member lain terlihat sangat bahagia. Namun dari semua itu wajahnya dan Jejunglah yang paling senang.

I remember the days how we used to laugh

Yunho ingat foto itu dulu di ambil di apartement lama mereka saat pertama kali ia akhirnya mengutarakan perasaannya pada Jejung. Pertama kali dalam hidupnya ia mengambil sebuah keputusan dan memilih mendampingi Jejung tak perduli apapun pendapat orang lain.

I don’t need another person

“Karena aku tak butuh orang lain,” bisik Yunho. Seakan tersadar dari lamunan panjang Yunho menyambar mantelnya beserta kunci mobil dan telpon genggam sambil tergesa-gesa keluar dari apartement.

Even if time flows

Dengan kecepatan tinggi Yunho membawa mobilnya melaju keluar dari parkiran dan melesat di antara mobil-mobil lain.

Even if it’s too late

Dengan tidak sabar Yunho memencet klaksonnya berkali-kali saat mobil di depannya tak juga bergerak setelah lampu berubah hijau. Yunho menggosok tengkuk dan wajahnya, menyukai keputusan yang di ambilnya saat ini.
Tak berapa lama kemudian ia sampai di bandara, dengan lebih tergesa-gesa ia berlari ke loket tempat pemesanan tiket.
“Kapan penerbangan secepatnya ke Jepang?” tanya Yunho pada wanita cantik di depannya yang nampak terkesima melihat rambut Yunho yang berpeluh.
“Lima jam lagi,” ujar wanita itu dengan suara yang di buat-buat halus.
“Aku butuh secepatnya, ini keadaan mendesak,” kata Yunho lagi sedikit memaksa.
“Tapi pak, pesawat sebentar lagi akan lepas landas dan bagasi sudah di tutup. Anda tidak boleh…”
“Aku tidak bawa bagasi.”

Japan,

Pesawat sudah lepas landas, di atas udara Yunho duduk dengan gelisah. Ia sudah yakin dengan keputusannya, tapi ia tak sabar dengan lamanya perjalanan yang harus  ia tempuh untuk sampai di Jepang tepat waktu.
Yunho melirik arloji yang melingkar anggun di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Yunho membaca intruksi keselamatan berkali-kali berusaha membuang waktu dengan bacaan tersebut.
Beberapa saat kemudian dari kaca jendela kabin Yunho dapat melihat pantulan cahaya berwarna-warni. Jantungnya seketika berdegup kenjang seribu kali lebih cepat. Ia meremas-remas jemarinya yang basah oleh keringat.

Di Jepang sedang musim salju, jalanan licin akibat salju yang mencair. Taksi berjalan stabil di atas aspal menuju alamat yang di ajukan Yunho pada supir taksi. Tak selang berapa lama taksi yang dinaikinya berhenti tepat di depan sebuah gedung apartement.
Setelah membayar ongkos taksi Yunho berjalan tenang masuk ke gedung tersebut. Beberapa security dan petugas parkir menyambutnya saat ia melangkah masuk kedepan elevator dengan kaca transparant.
Pintu lift terbuka perlahan, Yunho melangkah masuk dengan pasti ke dalam kotak kaca tersebut. Ia menekan tombol sembilan dan pintu lift kembali tertutup kemudian merangkak pelan menuju lantai atas.
Yunho berjalan di atas hamparan karpet beludru berwarna merah darah, bau harum yang tercium selama berada di koridor mengingatkannya betapa ia masih mengenali tempat itu dengan sangat baik.
Yunho berhenti di depan pintu yang terletak di ujung koridor, tangannya terulur untuk memencet bel pintu namun di urungnya lagi. Sekali lagi masih dengan ragu-ragu Yunho kembali mengulurkan tangannya.
Tapi belum sempat ia meraih bel pintu tersebut terbuka dari dalam. Seorang pria berstelan rapih nampak dari balik pintu yang terbuka lebar. Mereka saling memandang dalam beberapa detik sebelum kecanggungan berkembang-biak.
“Yunho?” tanya pria berjas itu nampak ragu.
Yunho mengerjapkan matanya, dadanya terasa sesak seakan di timpa beban ribuan kilo. Terlebih lagi menyadari kalau ia sudah sampai di tempat tujuannya tapi tak tahu harus berbuat apa.

Even if i say that i love you a thousand times
Even if i say it ten thousand times

“Jungie…”

I don’t need any words, just you

“Mengapa kau disini?” tanya pria berwajah cantik itu masih ragu dengan apa yang tengah di lihatnya.
Yunho diam saja, ekspresinya mengisyaratkan sesuatu yang hanya Jejung yang dapat mengerti. Waktu berjalan lambat, membiarkan mereka saling memandang selama mungkin.

In the moment i saw your eyes

Jejung seperti ingin menangis, dadanya di penuhi perasaan rindu yang bergejolak meminta untuk di bebaskan.
In the moment my heart was captured by you
Tanpa aba-aba Yunho menarik lengan Jejung dan merengkuh pria itu kedalam pelukannya. Menempelkan kepalanya ke dalam dadanya yang bidang. Jejung diam saja, matanya sempat terpejam untuk menikmati sentuhan itu.
“Yunnie…”

My cold lips keep calling for you

Yunho menjauhkan tubuh Jejung agar bisa menunduk dan mencium bibirnya yang sedikit terbuka. Bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Jejung membiarkan Yunho mendominasinya, membiarkan lidah Yunho menguasai mulutnya.

It’s just you
It’s just you
That’s right it’s only you

Yuchun duduk diam di ruang keluarga, televisi yang menyala di depannya memutar pertandingan bola yang tak berkesudahan dan menjadi satu-satunya hal yang bergerak di ruangan itu.
Tuhan itu penting. Karena ketika kesusahan membuat kita tak sanggup menatap langit, kita hanya perlu berdoa tanpa memikirkan siapa Tuhan kita sebenarnya.
“Chunie, kenapa Jejung hyung belum kembali juga? Katanya cuma mau mengambil sesuatu di apartementnya yang dulu?” tanya Junsu yang baru saja selesai mandi.
Pria yang ditanyai hanya mengangkat bahu tak acuh. Tiba-tiba suasana rumah kembali menyesakkan.
Mungkin Tuhan sudah menyesal, itu sebabnya perpisahan menjadi jalan tengah.
“Aku lapar…” keluh Junsu berusaha menembus tembok penghalang diantara mereka. Namun Yuchun tak bergeming, matanya menatap lurus televisi tanpa niat untuk benar-benar menonton.
Aku merindukanmu, Chunie… bisik Junsu dalam hati sambil menatap miris kearah Yuchun. Merasa kehadirannya bagai angin lalu. Semoga kau tahu.
Pria itu melangkah menuju pintu depan dan meraih mantel panjangnya yang tergantung di dekat pintu. Tanpa lupa mengambil dompet dan kunci mobil Junsu keluar dari rumah.
Suara pintu tertutup menjadi satu-satunya suara yang terdengar setelah Junsu menutup pintu. Yuchun yang merasa bosan pun telah mematikan televisi, kini ia sepenuhnya dihadapkan dengan kekosongan yang terlalu.

Like a fool without feelings, I refused to talk and I send you off
Leaving like this, how to go on everyday?

Yuchun sedang berusaha menata hatinya kembali saat ia memejamkan mata dan menarik napas panjang. Tanpa ia sadari bukan itu yang sebenarnya ia inginkan, melainkan kehadiran seseorang yang nampak begitu jauh untuk diraih.

Then I cry silently and wordlessly
Cause I want to stay next to you

Bulir-bulis kristal berjatuhan dari kelopak matanya yang tertutup rapat. Dalam diam Yuchun mencurahkan seluruh perasaan yang membelenggunya bersama air mata.

Jejung memeluk Yunho dengan kerinduan mendalam, tubuhnya mengisyaratkan kepemilikan Yunho seutuhnya. Ia ingin memberikan seluruh dirinya pada pria itu.
Yunho merasa sekujur tubuhnya panas. Sangat panas. Tubuhnya memancarkan gelombang yang berdaya isap, membuat Jejung tak kuasa mendekat. Jejung mendekap Yunho erat-erat, melingkarkan tangannya di pinggang Yunho.
Yunho balas memeluk Jejung. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Jejung yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Jejung yang penuh. Di pegangnya bokong itu dengan lembut, di elusnya, kemudian diremasnya dengan penuh hasrat.
Kejantanan mereka bereaksi. Keduanya saling merasakan hal itu. Desah napas mereka memburu, menggema di seluruh ruang apartement.
Yunho mendesah sambil menciumi rambut Jejung yang basah oleh keringat. Seluruh panca indra Jejung bergetar. Getaran yang merayap masuk kedalam tubuhnya secara halus dan pasti. Kemudian mencapai puncaknya ketika Yunho menjulurkan lidah semakin jauh kedalam mulutnya, lidah pria itu berputar-putar makin cepat sampai akhirnya Jejung merasakan tubuhnya seperti melayang-layang.
Jejung membelai bagian belakang kepala Yunho. Harum sampo Yunho, cologne-nya, aroma tubuhnya yang khas memenuhi penciuman Jejung. Membuatnya mabuk. Jejung menggigit kecil bibir Yunho, ia mengecap mint pasta gigi yang di pakai Yunho.
Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan Yunho membuat napas Jejung semakin memburu dan percaya diri.
Sambil mengangkat kepala, Yunho meletakkan tangannya di pundak Jejung. Mata Jejung yang sayu berbinar-binar menatapnya. Perlahan Yunho membuka risleting celana jinsnya dan menurunkannya.
Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Jejung, ia melemparkan celananya ke samping. Yunho berdiri telanjang bulat di depan Jejung. Mata Jejung beralih ketubuh Yunho.
Ia saja yang seorang pria merasa iri hati melihat bentuk tubuh Yunho. Bentuk tubuh yang tegap, ramping, lagi lentur. Bentuk dadanya bidang dan lebar, kejantanannya kini mengeras dan berdiri tegak mengacung kearahnya.
Yunho membuka kancing jas Jejung satu-persatu, lalu menyelipkan tangannya di balik kemeja putih Jejung dan di lepaskannya lembaran pakaian tersebut. Dengan gerakan yang lebih lincah Yunho dengan cepat menelanjangi Jejung.
“Ya Tuhan, lihat betapa cantiknya dirimu,” gumaman Yunho tak terdengar lagi ketika ia mendaratkan bibirnya di permukaan kulit Jejung yang polos. Sorot matanya memancarkan gairah yang meluap-luap dan seperti hendak menelan Jejung bulat-bulat.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Yunho segera membenamkan tubuhnya kedalam tubuh Jejung. Meresap segala hal yang dapat diraihnya dari Jejung, entah itu hati atau pun raga.

In the moment i saw your eyes
In that moment my heart was captured by you

Jejung mendesah berkali-kali mengimbangi gerakan naik-turun Yunho. Tubuhnya mengejang saat Yunho meremas kejantanannya, bibirnya kelu akibat sentuhan itu.
Yunho menggerakkan tangannya dengan ritme teratur, mempelajari setiap bagian tubuh Jejung dengan seksama. Seakan ingin menandai kepemilikan utuhnya terhadap tubuh pria itu.

Without regrets, i chose just you
It’s only you

“Yunnie… mmph,” Jejung menyerukan nama Yunho di antara tarikan napasnya yang pendek-pendek dan memburu.

My cold lips keep calling for you

“Oooh, Yunnie…”
Tak ada satupun dari mereka berdua yang merasa puas dengan malam itu,  percintaan mereka berulang lagi dan lagi hingga mereka akhirnya kelelahan dan jatuh tertidur dalam keadaan basah dan bahagia.

I don’t care whatever anyone says
Even if anyone curses, i only look at you

“Aku mencintaimu… Jungie,” bisik Yunho serak sesaat sebelum matanya benar-benar terpejam.

My cold lips keep calling for you

“Jungie…”
“Hmm?”
“Tak apa-apa membuat Yuchun dan Junsu menunggu?”

Cause i don’t need another person

“Biarkan saja… Nanti juga mereka mengerti.”

Just you…

“Aku juga mencintaimu, Jung Yunho.”

Let me be with you

*To Be Continue*

Everlasting [Yaoi Version]

Author: Gita Oetary/Goetary21

Pairing: YunJaeSu [Jung Yunho/Kim Jaejoong/Kim Junsu]

Disclaimer: Fanfic ini sebagian besar saya salin dari komik Everlasting Potrait penerbit m&c by Rina Morio. Klo udah ada yang baca komiknya mungkin gak akan terlalu berasa feelnya waktu baca fanfic ini. Tapi gak ada salahnya baca lagi *hehe.

WARNING!! Meskipun ide ceritanya saya ambil dari komik bukan berarti ada yang boleh COPAS ff ini tanpa seijin saya!!

Tulisan yang dicetak miring itu isi hati. Yang cetakannya miring trus bold itu flash back yah…

~oOoOoOoOoOo~

Busan,

Langit cerah. Udara hangat di penghujung musim gugur. Birunya laut. Kami bertemu di kota ini…

Selamanya, tak akan kulupakan. Hari-hari yang pernah kulewati bersama mereka. Continue reading “Everlasting [Yaoi Version]”

THE REASON #3 END

Cast: Kim Jaejoong, Jung Yunho & Kim Junsu.
Genre: Sad romance
PART III / Final

Manusia ibarat bulan. Yang selalu membutuhkan orang lain untuk bisa membuatnya nampak indah.

 

Hujan tumpah diluar. Memang hanya air yang berguguran. Tak bisa melukai. Namun hujan sanggup membatalkan tekadnya. Juga mendatangkan bencana.

Sepeti saat ini ketika Jejung terperosok dalam kubangan air yang berlumpur, membuat seluruh tubuhnya yang sudah basah menjadi kotor dan lengket. Ia memang tak perduli dan terus berlari. Walau tak mengerti dengan apa yang sedang ia rasakan. Walau tak tahu kemana seharusnya ia pergi.

“Jungie, ini aku Yunho.” Itu kata pertama yang ia baca dari surat yang diselipkan di antara pita merah yang menghiasi kue tiramisu di lemari penyimpanan kue di restorannya.

“Maaf selama ini sudah membohongimu tentang identitasku. Aku datang untuk memastikan kalau kau baik-baik saja.”
Derasnya hujan seperti ribuan jarum yang ditumpahkan ke tanah. Pedih. Apakah langit ikut menangis untuk dirinya? Ikut menanggung penderitaannya?

Tak ada yang mampu menghalangi Jejung. Badai sekalipun. Ia berlari menerobos curahan air seperti menerjang tirai demi tirai yang menjuntai dari angkasa. Siramannya serentak menusuk, menghujam kulitnya. Tapi ia tak perduli. Cucuran air diwajahnya tak juga reda. Bukan hanya sisa hujan yang tertinggal. Tapi juga tangis yang tak bisa berhenti.
Meyakini bisikan relung kalbunya yang mendesaknya untuk terus berlari, ia pun berlari sekuat mungkin untuk bisa menemukan orang yang dicarinya. Orang yang selama ini membohonginya. Orang yang selama ini berada disampingnya. Orang yang sampai saat ini masih sangat dicintainya.

“Karena kau sudah bahagia. Kurasa, inilah saatnya bagiku untuk pergi…”

Tangannya masih memegang lembaran kertas yang basah terkoyak hujan. Semua mimpi dan harapan kini hancur bersamaan dengan Jejung meremas kertas lembab itu.

“Aku akan selalu mencintaimu, Jungie.”

Remuk. Robek. Tanpa suara. Sesunyi hidupnya kini yang dibungkam kenyataan.

 

Junsu kembali memandang apartement milik Jejung yang sudah didekorasinya. Balon-balon serta ratusan kuntum bunga mawar mengelilingi ruang tamu yang di dominasi warna oranye itu. Jam yang menggantung di dinding sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Tak ada tanda-tanda kepulangan Jejung, handphone genggamnya juga di matikan. Telpon restoran juga tak ada yang mengangkat.

Ia tak ingin berprasangka buruk, tapi ia merasa seolah-olah Jejung memang sengaja menghindarinya. Sejak kedatangan pria yang mengaku bernama Daiji.

Mengingat nama Daiji dada Junsu terpanggang oleh kecemburuan.

Lama ia masih tertegun di depan buket bunga yang diatur sehingga menyerupai bentuk hati di atas meja. Perlahan Junsu berusaha menegakkan kepalanya sedikit demi sedikit. Sakit dan tersiksa yang dirasanya. Seperti sedang berjuang untuk menerima kenyataan pahit yang menimpanya. Dan baru saat itu ia sadari kalau ada air yang menetes dari matanya.
Akhirnya Junsu memilih untuk meninggalkan rumah Jejung. Membiarkan dekorasinya terbuang sia-sia.

Berlari sekuat mungkin ternyata malah membawa Jejung kembali ke apartement miliknya. Ia tak ingat kalau sudah menyalakan lampu apartementnya, tapi pendar-pendar berwarna kuning memantulkan bayangan benda-benda di sekitar ruangan tersebut.

Jejung baru akan masuk kedalam rumah saat seseorang memanggilnya. Perlahan ia memutar badan, dan orang yang selama ini membohonginya dan mengaku sebagai Daiji sudah berdiri di depannya.
“Mengapa?” Bibir Jejung bergetar. Air matanya mengalir. “Mengapa kau melakukan semua ini kepadaku? Kenapa?” Ia mulai terisak.

 

-flash back-

Dalam kebingungan ia terbangun di atas ranjang besi rumah sakit yang dingin dengan kepala pening. Refleks ia mencabut infus yang ditempel di lengannya. Saat itu ia tak tahu sedang berada di rumah sakit mana tepatnya. Tapi ia justru mengikuti suara hati yang mencoba untuk menuntunnya ke suatu tempat. Tempat seseorang mungkin masih menunggu kedatangannya.

Perlahan pintu membuka. Diam-diam Yunho melongok keluar, ia hanya melihat seorang pria berperut buncit tengah berdiri di depan pintu kamar lain tapi tidak menyadari kehadirannya. Setengah berlari Yunho menghilang di belokan koridor.

Yunho merogoh saku celana untuk mencari ponselnya, tapi ia lupa kalau saat itu pakaiannya sudah diganti dengan baju rumah sakit sementara barang-barang pribadinya entah ditaruh dimana.

Jalanan lengang, memengaruhi kewaspadaan Yunho. Ia menyebrang jalan, ketika itu sebuah cahaya dari lampu mobil menyorot dirinya. Yunho tak sempat menghindar saat mobil itu menabrak tubuhnya.

Kepalanya terasa berat dan pusing, bau amis bercampur aroma aspal yang basah sehabis hujan menyergap masuk kedalam hidungnya. Menyakiti tenggorokannya dengan aromanya yang menusuk. Yunho berusaha mengerjapkan matanya, namun air mata malah semakin mengaburkan pandangannya.

Sedih, perih. Rasanya bukan hanya tubuhnya yang tersakiti namun juga perasaannya remuk redam. Mungkin Tuhan memang tidak menakdirkannya untuk bisa bersama Jejung.

Mungkin usahanya selama ini memang hanya proses untuk memisahkan mereka berdua. Air mata mengalir ke ujung hidung dan jatuh ke tanah, di penghujung hidupnya Yunho tetap memikirkan Jejung.

-end of flash back-

 

“Jawab aku. Mengapa kau lakukan ini semua padaku?!”

Lamunan Yunho terhenti. Suara Jejung meninggi. Air mata semakin deras di pipinya.
Yunho berjalan mendekati Jejung. Meraih tangan Jejung dan menggenggamnya. “Aku tak bisa menjelaskannya padamu. Semuanya terjadi begitu saja.”

“Itu tak penting, aku tak perlu mendengar alasanmu. Yang penting sekarang kau ada disini.”

“Maaf…” Air mata mengenang. Bibir tebal Yunho bergetar. Parau ia berbisik, “aku mencintaimu, Jungie.”

“Aku juga…” Jejung mulai terisak. Walau tak tahu sebabnya.

Yunho menarik Jejung kedalam dekapannya. Memeluk tubuh ringkih pria itu erat-erat. Tangisan Jejung semakin menjadi namun Yunho tak berniat untuk menghentikannya. Ia justru ingin Jejung menangis sekerasnya. Karena setelah malam ini ia tak akan ada lagi untuk Jejung ketika ia sedih.

Pelan-pelan akhirnya tangisan Jejung menjadi isakan kecil. Yunho menaruh kedua tangannya di pipi Jejung, menyeka sisa-sisa air mata di pipinya. Perlahan ia mendekatkan kepalanya dengan Jejung, mencari bibir Jejung yang masih bergetar karena tangisannya. Mengulum lembut bibirnya yang merekah.

Ketika Yunho mengakhiri ciumannya, Jejung kembali menangis akibat firasat buruk yang dirasanya.

“Jangan menangis lagi. Kumohon.”

Jejung menjadi histeris. “Jangan pergi,” katanya. “Tolong aku, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku takut sendiri. Aku tak ingin tanpa dirimu. Rasanya berat, Yunho. Sakit. Hatiku sakit tanpa dirimu, kumohon. Tolong aku. Tinggallah di sisiku. Tolong aku, tolong aku…”

“Maafkan aku, Jungie. Aku sayang kamu.”

“Tidak. Jangan katakan itu.” Mata Jejung membesar. Sosok Yunho mulai memudar di matanya. Genggaman tangannya tak lagi terasa. Jejung merasa tak yakin dengan pandangannya, ia menggapai-gapai tapi tak bisa menyentuh apapun. Hanya udara yang terus bergerak menghindari kebasan tangannya.

Sebuah payung meneduhi Jejung. Hujan tiba-tiba berhenti untuknya.

Jejung memutar tubuhnya pasrah. Air mata masih mengenang, wajahnya basah oleh air mata.

Junsu segera menarik Jejung kedalam pelukannya. “Aku ada disini,” bisiknya di telinga Jejung. “Kau akan baik-baik saja, hyung.”

Mengapa di dunia ini ada begitu banyak air mata…?

Sebelum bertemu denganmu aku tak pernah berpikir akan meneteskan air mata sebanyak ini ketika akan pergi meninggalkanmu. Jujur. Aku takut. Takut kehilangan dirimu untuk yang kesekian kalinya. Takut kehilang senyum yang paling kusuka di dunia ini. Takut berhenti mendengar suaramu.

Tapi hal yang paling kutakutkan adalah tangisanmu. Aku takut jika nanti kau menangis dan aku tak ada di sampingmu. Jadi sayang, jangan menangis dan tersenyumlah.

Karena aku akan selalu memegang tanganmu tak perduli kemanapun aku pergi.

Aku… Sangat mencintaimu. Kau adalah satu-satunya alasan aku hidup di dunia ini.

Jungie, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Mengisi hari-hariku. Aku ingin kau tetap tersenyum dengan senyum yang kusuka. Aku cinta padamu…

*Three months later*

“Hyung, sedang apa kau disitu?” Teguran Junsu menarik Jejung dari lamunannya. Ia menoleh lalu tersenyum singkat.
Junsu menghampirinya, menyelimuti bahu Jejung dengan mantel berwarna merah yang di bawanya. “Disini dingin, sebaiknya kita masuk saja.”

Jejung menggeleng, “biarkan aku disini sebentar lagi.”

Junsu masuk kedalam rumah. Jejung duduk di atas salah satu kursi yang terletak di beranda halaman belakang. Angin berhembus, Jejung pun merapatkan mantelnya, melipat tangan di dada rapat-rapat.

Ia mendesah kearah langit, gumpalan asap mengepul keluar dari hidung dan mulutnya. Suhu di luar rumah semakin dingin, sebentar lagi musim salju. Mengingat musim salju akan segera tiba Jejung tersenyum lemah. Ia paling suka dengan musim hujan, tapi seseorang yang ia kenal di masa silam justru menyukai musim salju. Seoul saat bersalju seperti kanvas kosong katanya, yang siap diwarnai.

Langit berwarna hitam buulan kelihatan menakjubkan, meskipun ia membutuhkan matahari untuk membuatnya terlihat indah.

Tiba-tiba Junsu datang lagi.

“Aku tak ingin membiarkanmu sendirian. Kalau-kalau kau membutuhkan bahuku untuk bersandar.”

Jejung tersenyum dengan tulus. Matanya berkaca-kaca. Junsu duduk disamping Jejung dan meraih pria itu, menyandarkan tubuhnya di bahunya.

“Terima kasih, Su-ie.”

Junsu tergelak pelan mendengar nama panggilan baru yang diberikan padanya. Rasanya aneh memang, tapi ia suka. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya saat Jejung memeluknya.

“Sama-sama.”

Tiba-tiba salju mulai turun. Diam-diam Jejung menangis tanpa suara saat butiran es yang berjatuhan semakin banyak. Ia berbisik pelan, “aku merindukanmu.”

Kejadian dan perasaan yang pernah singgah ada karena sebuah sebab. Sebab itu pula yang membawa Yunho kembali kepada Jejung meskipun tidak untuk selamanya.

*The End*

Cuap-cuap* waduh gimana tanggapan reader? Maap kalo gak nyambung dari awal sampe akhir. Maap juga kalo endingnya gak sebagus yang diharapkan ☺HË•⌣•HË•⌣•HË•⌣•HË☺..
Gomawo udah baca 🙂

LEAVE

Cast: Kim Junsu
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Genre: fluff

Menatap pilu kearah pria yang kini berdiri di hadapannya, Junsu tak kuasa menahan gejolak di dalam dada. Getaran yang menyakitkan itu hampir meloloskan air mata yang tak ingin dikeluarkannya.
“Junsu, aku tahu ini menyakitkan bagimu. Tapi, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita. Hatiku sakit saat memikirkannya.”
Junsu mendelik ketika air mata mengenangi matanya yang sipit.
“Aku ingin mendampinginya. Kumohon, ijinkan aku. Lepaskan diriku.”
Kini Junsu menangis, tanpa suara. Hatinya sakit bukan main, jiwanya hancur terkoyak. Ia tak sanggup menjawab permintaan yang di ajukan kepadanya. Tak ingin orang itu pergi namun terlebih tak ingin menyakitinya.

Dua hari kemudian.
Junsu berjalan beriringan dengan Jejung di tepi pantai. Angin berhembus kencang dan dingin, hari mulai menjelang malam. Matahari hampir terbenam, langit berwarna kemerahan.
Jejung menghentikan langkahnya. Ia berbalik menoleh pada Junsu yang sedari tadi diam saja.
“Junsu…”
“Dingin yah.”
“Iya.”
Mereka diam sesaat, menimang-nimang ucapan yang baik diucapkan disaat begini.
“Junsu, aku…”
“Kalau begitu, sebaiknya aku duluan. Kau tak keberatan kan?” Potong Junsu berusaha menghindari percakapan yang terlalu serius dengan Jejung. Berpisah seperti ini saja sudah sangat menyakitkan baginya.
“Baiklah. Terima kasih sudah mengantarku.”
Junsu memutar badannya, dan mulai melangkah menjauh. Ini adalah saat terakhir baginya bisa bertemu Jejung. Mungkin pria itu tak akan pernah kembali, ia juga tak sanggup merebutnya dari orang yang sudah menjadi pilihannya.
“Junsu…” Teriakan Jejung menggema masuk ke saluran pendengaran Junsu. Tapi ia tak kuat untuk membalikkan badan untuk menjawab panggilan tersebut apalagi sambil tersenyum.
Junsu menghentikan langkahnya, “selamat jalan, Jungie. Selamat tinggal.” ia berkata tanpa melihat Jejung lagi. Kemudian segera melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.
Samar-samar Junsu dapat mendengar tangis lirih Jejung. Hatinya kembali teriris-iris. Ingin rasanya ia kembali dan memeluk pria itu, namun ia yakin Jejung sudah tidak membutuhkannya. Apalagi sekarang sudah ada orang yang akan selalu menemaninya. Orang yang akan memeluknya saat ia menangis.
Junsu semakin jauh meninggalkan Jejung di belakang, di saat yang sama seorang pria berperawakan gagah melintas di sebelahnya. Merasa tertarik Junsu menoleh dan mendapati pria itu perlahan mulai mempercepat langkah kakinya hingga hampir berlari.
Junsu pun tahu kalau pria itu adalah Jung Yunho, lelaki yang di pilih Jejung.
Akhirnya Junsu terus melangkah pergi. Menjauh tanpa sekalipun pernah menoleh lagi. Ini memang akan menjadi kenangan menyakitkan baginya dan akan perlu waktu lama untuk menyembuhkan luka di hati. Namun Junsu percaya bahwa suatu saat nanti luka itu akan hilang, dan mungkin menjadi kenangan yang manis baginya.

The Reason #2

THE REASON 02

Tittle ;; DAY AND NIGHT

Author ;; Goetary21

Pairing ;; YUNJAE/JAESU

Cast ;; Kim Jaejoong/Jung Yunho/Kim Junsu

Rating ;; General/PG-13

Genre ;; Romance/Broken heart/Drama/Yaoi

Length ;; 2 shoot (?) mini series

Disclaimer ;; This fanfic is purely mine.

Warning ;; Don’t copas without my permission!!

So, Enjoy!!

Mungkin tuhan marah padaku

Karena sering menyakitimu

Bersamaan dengan hantaman besi beroda besar tersebut tubuh Yunho terlempar. Di antara kesadarannya yang semakin menipis satu-satunya harapan yang masih tersisa hanyalah Jejung. Ia merindukan pria itu. Ia ingin menjelaskan semua hal yang membuat mereka berdua tak jadi menikah. Namun mungkin semua itu tak akan pernah bisa terjadi, karena di sisi Yunho ia merasa tak sanggup hidup lagi. Seolah bayangan malaikat pencabut nyawa sedang menanti kedatangannya segera sesaat sebelum ia menutup mata. Continue reading “The Reason #2”