siapa saja di belakang?

wp-1488266118862.jpg

Kuharap semoga, kau tak perlu melihat dirinya yang sebenarnya

Betapa ia kecewa, marah dan sedih

Betapa ia ingin meminta lebih namun menahan lidahnya untuk berucap

Betapa ia berharap kau bisa menjadi sesuatu yang lain

 

Mungkin dia sudah terlalu terbiasa dengan yang namanya perpisahan

Sampai-sampai ketika seseorang akhirnya memutuskan untuk tinggal

Ia justru bingung menghadapinya

Malah mencari cara bagus untuk mengusir pergi tamu tak diundang tersebut

 

Aku hanya berharap Sayang…

Semoga kau menyadari betapa kau tengah merakit bom waktumu sendiri

Sehingga kau sadar dan menghentikan apapun yang kau lakukan sekarang

Berhenti dan lihatlah, betapa ia mencintaimu dan berusaha menerima dirimu sebagaimana kau ingin diterima

 

Kalau semua yang mampu ia berikan tak cukup memuaskan bagimu

Lalu mengapa kau masih tinggal disisi?

Bukankah kau semestinya menengok ke belakang

Betapa kau menyumbat antrian.

Selamat Tinggal Hujan Bulan Juni

peopletumblrcameraphotographyphotgrapherguy-488d964c41f41ef7fd5d35e5ddfd81c4_h

Cinta…

Hari ini Hujan kembali turun

Pertanyaan mengapa baru sekarang menari-nari di kepala

Juni telah berlalu

Kau yang selalu hadir di waktu yang sama tiap tahunnya, kali ini berubah haluan

Seakan memintaku berhenti berharap

Berhenti mengharapkan hujan yang datang tiap bulan Juni

Tapi kau terlanjur menjadi peringatan bagi diriku yang terlahir baru tiap tahunnya

Bagaimana bisa kulewati semuanya

Dan menerima kepulanganmu di waktu yang berbeda

Kalau memang harus begini, perlukah kuucapkan selamat tinggal?

-Goetary-

Hujan bulan Juni

bc29a2c1499eae8b960aeea0f18995ce

“Abang sudah pergi, Mbak.” Begitu isi pesan Blackberry Messengger-nya.

Pada hari itu, ketika kabar kematian kekasih hatinya sampai kepadanya. Dia tidak menangis. Dia pikir, itu terjadi karena ia memang sudah siap untuk merelakan. Hingga keesokan harinya. Ketika akhirnya, entah bagaimana, ia mulai tersadar. Bahwa kali ini, kepergian lelaki itu adalah untuk yang terakhir, dan untuk selamanya.

Kali terakhir lelaki itu pamit, ia masih bisa mendengar suaranya lewat sambungan telefon. Terakhir kali lelaki itu memutuskan hubungan karena marah padanya, ia masih bisa meminta maaf dan berbaikan. Terakhir kali mereka berpisah, lelaki itu masih sering menghubunginya walau tidak bisa bertemu muka.

Maka meskipun telah berkali-kali ditinggalkan. Ia yakin lelaki itu tidak pernah benar-benar pergi. Dan hari ini, setelah seharian kemarin berlalu biasa saja. Ketika Ia mulai memikirkannya. Ketika ia meresapi rasa kehilangan yang mulai mengosongkan hatinya. Tak kuasa air mata serta-merta memenuhi penglihatannya.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Tak pernah lupa tak pernah pergi

image

Dan Sayang,
Pada hakikatnya.
Rindu memang tak pernah meminta ijin.
Kapan kala ia ingin bertamu.
Maupun kapan ia ingin tetap tinggal.
Rindu adalah tuan rumah.
Yang kehadirannya tak ditentukan oleh jumlah ketukan di pintu yang menandakan kedatangan seseorang.
Rindu, adalah tuan, yang menentukan kapan waktunya mengingat dan kapan harus melupakan.
Tapi kita tetap sering bertanya, kapan Rindu pulang.
Padahal Rindu tak pernah lupa untuk tak pernah pergi.

Tertakdirkan begini

image

Kita telah ditakdirkan untuk bertemu.
Dan saling jatuh cinta.
Namun terkadang ada takdir lain yang datang terakhir.
Menegaskan bahwa kita tak bisa saling memiliki.
Walau telah saling berusaha dalam tindakan dan do’a.

Sudah sejauh ini bersama, mampukah kita menyerah…

vintage-bicycle-weddingSering aku berpikir untuk menyerah saja.

Namun sebuah bisikan di hati memaksaku menoleh ke belakang. Tak sadar ternyata sudah cukup jauh kita melangkah. Sudah begitu banyak rintangan yang kita lalui.

Kuakui banyak hal yang telah berubah. Sikapmu, perhatianmu, perkataanmu, bahkan dirimu sendiri telah jauh berbeda. Yang dulu membuatku jatuh cinta kini lenyap sudah. Alasan aku tergila-gila dulu tak ada lagi.

Tapi mungkin inilah cobaan yang mesti kita lewati.

Bukankah sejak awal sudah banyak peringatan yang mewanti-wanti kita bahwa cinta tak bisa bertahan selamanya. Bahwa suatu hari nanti perasaan menggebu-gebu itu perlahan akan hilang. Sementara sudah sejauh ini kita melangkah. Sudah semakin jauh kita dari garis awal sejak kita putuskan untuk bersama. Entah di mana garis akhir itu berada. Bisakah kita mencapainya bersama, atau haruskah nanti kita terpaksa dipisahkan oleh sebuah persimpangan.

Meski masa depan tampak tak menjanjikan. Walau tak tahu kemana hubungan ini akan membawa kita nantinya. Aku yang sekali lagi telah tersadarkan dengan mantap ingin tetap berjalan bersisian denganmu. Menuju sebuah tujuan yang telah diam-diam, sama-sama selalu menjadi pembuka dan penutup setiap do’a kita.

Lagipula, gejolak yang menggebu-gebu itu bisa saja pudar termakan waktu. Dirimu yang dulu bersikap penuh hati-hati untuk merebut simpatiku perlahan tersingkap oleh dirimu yang sebenarnya. Namun alasan-alasan yang membuatku jatuh cinta akan tetap ada disana, hanya dibutuhkan sedikit keihklasan untuk bisa melihatnya dengan jelas. Bahwa sesungguhnya hal yang membuatku jatuh cinta adalah sesuatu yang terdapat di dalam dirimu.

Aku pun percaya cinta yang sebenarnya tak akan pudar termakan waktu. Dia ada. Tak tersentuh memang. Tapi ada.

Goodbye my Love

I wish you can see me cry, ‘cos I promise this is the last tears for you

If tomorrow comes and I didn’t text you or not even reply your text (if you did), it’s not because I mad at you. No… Though I want, I just can’t stay mad at you.

But because I finally understand, we not meant to be together.

And I don’t want to wait for someone who can trough one day without talking with me when he could.

I will never forget you. As my promise, you will be in my heart forever…

And I love you…

You know it’s hard to write this ‘cos my tears wont stop falling, mostly because I miss you, so I hope you will read this.

So… goodbye my love.