Hujan bulan Juni

yohyoh_media

Mereka sampai di sebuah Halte Busway. Angga memarkir mobilnya di tempat parkir yang disediakan tak jauh dari situ. Mereka berdua turun dari mobil, dan Inggit berjalan di belakang lelaki itu, sembari menahan tangis yang mulai naik ke tenggorokan.

Angga menoleh ke arahnya, menunggunya menyusul langkah. Sekali lagi, Inggit berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa-biasa saja, seakan ia tak terganggu, menampakkan dirinya yang sekuat karang tak peduli ombak menghempas dari berbagai arah sekali pun. Inggit ingin menangis, luka di dadanya semakin melebar. Tapi demi sedikit harga diri yang masih dimilikinya, ia harus menahan semua emosi itu.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Hujan bulan Juni

“Apakah ada wanita lain di antara kita?”

Angga menatap mata Reta satu-persatu. Mencari celah dimana ia bisa melarikan diri. Namun tak ada jalan keluar, Reta tahu semuanya. Reta mengenalnya lebih dari ia mengenal dirinya sendiri, dan menyadari itu membuatnya semakin merasa bersalah.

“Tidak.” Angga menjawab singkat.

Reta menyetuh pipi suaminya penuh sayang, “aku akan mempercayaimu seperti yang sudah kulakukan selama ini, asal kau mau berjanji. Mulai hari ini dan selamanya, tak akan ada lagi orang lain.”

Angga meneguk ludah, matanya berkilat tertangkap basah. Ia lalu mengangguk pelan.

“Aku janji.”

-Goetary-

Hujan bulan Juni

“Aku membiarkanmu masuk ke dalam hatiku, lalu menjadi bagian dari hidupku. Semua itu bukan salahmu. Akulah yang memegang kendali atas hati dan hidupku sendiri, jika aku membiarkanmu terlibat, bagaimana mungkin kau yang bersalah atas semua itu?”

“Kadang-kadang, aku ingin menyalahkan takdir. Tapi sadar bahwa takdir adalah urusan yang Maha Kuasa. Aku tak berhak dan tak diijinkan untuk protes. Kadang juga aku berharap bisa menjadikanmu milikku, dan aku menjadi milikmu. Tapi memikirkan hal itu membuatku malu.”

Hujan jatuh dengan deras di luar. Inggit berdiri di depan jendela kaca, memandangi rintik hujan yang membasahi Kota Jakarta. Hujan deras di luar, namun di dalam sana, di sebuah kamar apartemen sewaan, suaranya tak terdengar hingga ke dalam.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Hujan bulan Juni

​Inggit terjaga sesaat sebelum matahari terbangun dari tidur panjangnya. Langit masih cukup gelap di luar, namun garis-garis cahaya mulai menembus tirai tipis jendela kamar.
Semalaman sangat sulit baginya untuk bisa tidur, dan ketika akhirnya ia bisa memejamkan mata, itu pun hanya sebentar. Dengkuran halus pria di sampingnya tak mampu menenangkan tidurnya. 

Terpekur ia memandangi wajah tampan pria itu, merasakan dadanya mulai penuh oleh emosi. Betapa ia bahagia saat ini, namun juga sangat sedih. 

Inggit tak mau mengakui kegundahannya pada pria itu, ia tak ingin merusak semua kebahagiaan hanya dengan satu pernyataan egois yang sejak lama berputar-putar di otaknya sampai membuatnya pening bukan kepalang.

Melihat tenang lelaki itu dalam tidurnya, ia memutuskan untuk menikmati setiap jengkal napasnya. Inggit kembali masuk dalam selimut, menopangkan pipinya pada kedua tangan di atas bantal. Rasanya ingin sekali mencium bibir pria itu, namun ia terlalu takut membuatnya terbangun. Memandangi wajah rupawannya, tanpa sadar ia pulas seiring meningginya matahari di luar.

Goetary