Hujan bulan Juni

“Apakah ada wanita lain di antara kita?”

Angga menatap mata Reta satu-persatu. Mencari celah dimana ia bisa melarikan diri. Namun tak ada jalan keluar, Reta tahu semuanya. Reta mengenalnya lebih dari ia mengenal dirinya sendiri, dan menyadari itu membuatnya semakin merasa bersalah.

“Tidak.” Angga menjawab singkat.

Reta menyetuh pipi suaminya penuh sayang, “aku akan mempercayaimu seperti yang sudah kulakukan selama ini, asal kau mau berjanji. Mulai hari ini dan selamanya, tak akan ada lagi orang lain.”

Angga meneguk ludah, matanya berkilat tertangkap basah. Ia lalu mengangguk pelan.

“Aku janji.”

-Goetary-

Hujan bulan Juni

writing-writing-27456811-1277-955

“Bukan cinta namanya jika selesai hanya dalam semalam,” ujarnya hati-hati.

“Mungkin ada nama lain untuk itu.”

“Hasrat.”

“Nafsu.”

“Jadi kau mau mengakui kesalahanmu?” tanya pria itu.

“Salah dimana?”

“Salah menamainya cinta. Padahal kau jelas paham, itu hanya nafsu.”

Keningnya berkerut saling bertaut. Ia membuang muka, berusaha menyembunyikan rasa tak suka yang tergambar jelas di wajah. Lelaki itu tepat sasaran, tapi ia tak ingin mengakuinya. Setidaknya, belum sekarang.

“Jangan mengadakan sesuatu yang tak pernah ada. Jika itu hanya akan melukai diri sendiri. Bukankah kau sudah terlalu sering menangis karena putus cinta?”

“Tapi sakitnya putus cinta tidak serta-merta membuat kita jera merasainya lagi kan, Bang.”

-Goetary-

Pernah bersama

image

Kau pernah menjadi satu-satunya orang yang membuatku tertawa saat hatiku sedang terluka.
Pada akhirnya.
Kita mungkin pernah saling menyakiti.
Sampai hati berdarah.
Tapi kita tak pernah lupa untuk saling menguatkan.
Dan meski sedih itu masih ada.
Ingatlah kita pernah bahagia bersama.

Begini Saja.

https://goetary.files.wordpress.com/2015/10/tumblr_laafryo1so1qcsk7wo1_500_large.jpg

Aku tak berlari supaya kau mengejarku. Sungguh. Kutahu itu melelahkan.

Aku pergi, karena keberadaanku tak membawa kebaikan apapun dalam hidupmu.

Dan aku menyadari setelah kau benar-benar telah berpaling. Ternyata, pertengkaran kita, masalah yang datang bertubi-tubi, rasa lelah untuk tetap bertahan dengan keyakinan yang makin menipis, tak sebanding dengan rasa sakit yang kini mengeram di dadaku.

Tapi aku tak ingin kita kembali menoleh ke belakang. Untuk kembali mengingat masa lalu yang semestinya kita tinggalkan.

Aku ingin kau hidup dengan baik. Inginnya kebahagiaan itu berasal dariku. Namun kusadari justru akulah penyebab utama ketidakbahagiaanmu.

Mungkin jarak telah mengambil keyakinan yang tersisa dariku atas dirimu. Aku menyesali semua sikapku padamu. Yang membuatmu sedih dan terluka. Yang selama ini tak kusadari.

Kuharap permintaan maaf cukup untuk merubah kenyataan. Tapi aku tak akan sesombong itu. Aku yakin, jika memang ini akhirnya maka inilah yang terbaik bagi kita berdua. Terutama karena aku tak mampu berjanji untuk tidak pernah melukaimu lagi.

Jangan Pergi, Jangan Berlalu

image

Sama seperti ciuman malam kemarin yang tak kuasa kuhentikan
Sama seperti pelukan semalam yang tak ingin kulepaskan
Sama seperti itu ketakutan yang bersarang dalam dadaku
Kala aku merasa terlalu bahagia ketika bersamamu
Tak ingin berakhir namun harus berakhir
Bahagia kita, akankah cepat berlalu?

Untuk lelaki baik yang mencintaiku

Dia lelaki yang baik kan?

Karena dia tak perlu mencintaiku, tapi dia melakukannya

Saat itu, adalah hari terbaik dalam hidupku. Mungkin bukan terbaik, tapi hanya itu yang ku ingat hahaha~

Tapi, dia memang baik bukan?

Karena dia selalu mendengar ceritaku, dengan sabar dan penuh perhatian

Dia memang baik, itu sebabnya dengan senang hati kuserahkan hatiku padanya

Berharap dia dapat menjaganya seperti yang ku inginkan

Dan jika kami berpisah, seperti hari ini, aku sungguh berharap dia bahagia

Karena kehadirannya yang singkat telah membahagiakanku, jadi semoga ketidak beradaanku dapat membuatnya lebih bahagia

Semoga dia bahagia…