Andai cinta menguatkannya, seperti yang dilakukannya pada orang lain

Sudah barang tentu ia tak akan pernah memilih untuk hidup sendiri

Tapi kenyataannya, setiap yang ia panggil cinta selalu senantiasa membuatnya lemah tak berdaya

Cinta mungkin saja menyenangkan

Mungkin saja melegakan memilikinya di akhir hari-hari yang penat dan menyesakkan

Tapi cinta tak serta-merta menambah kekuatannya

Yang terjadi justru sebaliknya

Sebabnya di malam sunyi terutama seperti saat ini, dengan wajah separuh terbenam di atas bantal yang basah oleh kesepian. Ia tak kuasa berbisik…

“Tuan… kumohon. Jangan kau pernah kembali lagi.”

-Hujan Bulan Juni-

Aku lelah tuan…

Bagaimana caramu menyampaikan

Bahwa kau ingin terlepas dari belenggu yang menyiksa jiwa itu

Jika satu kata darinya saja sudah mampu menarikmu ke dalam dimensi waktu yang hanya ada dirinya seorang

 

Tuan, aku lelah…

Jangan menggangguku lagi.

Selamat Tinggal Hujan Bulan Juni

peopletumblrcameraphotographyphotgrapherguy-488d964c41f41ef7fd5d35e5ddfd81c4_h

Cinta…

Hari ini Hujan kembali turun

Pertanyaan mengapa baru sekarang menari-nari di kepala

Juni telah berlalu

Kau yang selalu hadir di waktu yang sama tiap tahunnya, kali ini berubah haluan

Seakan memintaku berhenti berharap

Berhenti mengharapkan hujan yang datang tiap bulan Juni

Tapi kau terlanjur menjadi peringatan bagi diriku yang terlahir baru tiap tahunnya

Bagaimana bisa kulewati semuanya

Dan menerima kepulanganmu di waktu yang berbeda

Kalau memang harus begini, perlukah kuucapkan selamat tinggal?

-Goetary-

Hujan bulan Juni

yohyoh_media

Mereka sampai di sebuah Halte Busway. Angga memarkir mobilnya di tempat parkir yang disediakan tak jauh dari situ. Mereka berdua turun dari mobil, dan Inggit berjalan di belakang lelaki itu, sembari menahan tangis yang mulai naik ke tenggorokan.

Angga menoleh ke arahnya, menunggunya menyusul langkah. Sekali lagi, Inggit berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa-biasa saja, seakan ia tak terganggu, menampakkan dirinya yang sekuat karang tak peduli ombak menghempas dari berbagai arah sekali pun. Inggit ingin menangis, luka di dadanya semakin melebar. Tapi demi sedikit harga diri yang masih dimilikinya, ia harus menahan semua emosi itu.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Hujan bulan Juni

Girl-in-love-mood-face-image-picture-HD-photography

Inggit mengerjap.

Berusaha untuk tidak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pandangannya terus mengarah keluar jendela, jalanan mengabur karena mobil dikemudikan dengan kencang serta bulir-bulir gerimis menempel di kaca mobil. Inggit menggigit bibir dalam diam, berharap hal itu bisa sedikit meringankan luka di hati.

Melihat Inggit sejak tadi diam saja, Angga meraih tangannya dengan sebelah tangannya yang tidak memegang kemudi. “Ada apa, Inggit? Kau diam saja sejak tadi.” Tanyanya.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Hujan bulan Juni

Jika aku yang membiarkanmu terlibat, bagaimana mungkin itu salahmu?

*

Cinta yang bagaimana, baru bisa disebut Cinta?

*

Cinta… yang tidak berbohong.

Hujan bulan Juni

“Apakah ada wanita lain di antara kita?”

Angga menatap mata Reta satu-persatu. Mencari celah dimana ia bisa melarikan diri. Namun tak ada jalan keluar, Reta tahu semuanya. Reta mengenalnya lebih dari ia mengenal dirinya sendiri, dan menyadari itu membuatnya semakin merasa bersalah.

“Tidak.” Angga menjawab singkat.

Reta menyetuh pipi suaminya penuh sayang, “aku akan mempercayaimu seperti yang sudah kulakukan selama ini, asal kau mau berjanji. Mulai hari ini dan selamanya, tak akan ada lagi orang lain.”

Angga meneguk ludah, matanya berkilat tertangkap basah. Ia lalu mengangguk pelan.

“Aku janji.”

-Goetary-