Aku mulai bosan mencintaimu.
Terlalu lelah merindukanmu.
Dan sangat sakit memikirkanmu.

View on Path

Hujan bulan Juni

“Aku ingin kau bersiap-siap,” kata pria itu tegas, yang artinya tak boleh ada jawaban selain, iya. “Setengah jam lagi aku sampai di rumahmu.”

“Mau kemana?” tanya Inggit sembari melirik jam tangan sebelum sambungan telepon diputus.

“Makan siang.”

Berkali-kali mengecek penampilannya di cermin, Inggit masih merasa tak cukup puas. Ia hanya memakai make up seadanya, karena lelaki itu tak suka melihatnya dengan make up tebal. Kadang-kadang mengingat ucapannya yang lalu, mau tak mau Inggit masih sering tersenyum. Suatu waktu lelaki itu datang ke rumah secara mendadak, dan Inggit tidak memoles apapun di wajahnya bahkan bedak tabur sekalipun. Tapi dengan manis lelaki itu menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan berkata.

“Anaknya siapa sih ini? Cantik sekali.”

Sampai sekarang kenangan itu selalu membangkitkan rasa yang sama. Hatinya berbunga bahkan meskipun itu hanya sekedar ingatan semata. 

Kenangan, apakah kenangan jika rasanya masih persis sama?

Goetary

Hujan bulan Juni

Pagi meretas, langit penuh oleh gurat cahaya keemasan. Mendadak dia sadar tak banyak waktu tersisa. Hari bagi kebersamaan yang hanya bisa mereka rapal sembunyi-sembunyi akan berakhir secepat kedipan mata.
Dan semua dibenarkan oleh gegasnya pria kekar itu merapikan diri. Inggit hanya bisa menyaksikan pemandangan di hadapannya dengan hati teriris.

“Aku tak ingin kamu pergi,” bisik Inggit menyerah oleh kegamangan dalam dirinya.

Mendengar rintihan itu, ia menoleh. Dengan senyum mengambang seakan mencemooh. “Belum lama kau bilang ingin berpisah denganku. Sekarang kau bilang tak ingin aku pulang?” tanyanya sarkastik. “Apa aku terlihat selucu itu, Inggit?”

Kembali diam-diam, Inggit menggigit lidahnya. Menelan air mata yang membayangi pandangan. Tapi ia tak kuasa meredam perihnya hati yang memuja lelaki milik orang lain. 

Inggit menarik napas dalam-dalam, membuat paru-parunya penuh hingga hampir meledak. Lalu menghembuskannya seiring luka yang kembali tertoreh di jantungnya.

Sambil memaksakan senyum, ia beranjak mendekat. Membantu lelaki itu memakai setelan jasnya, dan merapikan dasi, yang sebenarnya tak dibutuhkan. Karena lelaki itu tahu benar apa yang baik bagi dirinya, dan ia ahli dalam segala hal termasuk merapikan dasi. Terutama menjungkir balikkan perasaan wanita, yang rapuh seperti dirinya.

Goetary

Hujan bulan Juni

“Aku ingin berpisah,” ujarnya seraya berbisik.
Lelaki itu menoleh tak percaya. Kening tebalnya berkerut, bibirnya menipis, dan entah bagaimana Inggit tahu dia sudah merusak suasana romantis di antara mereka. Sudah kepalang basah, runtuknya dalam hati.

“Lepaskan aku. Karena untuk melepasmu butuh kekuatan dan keberanian besar, padahal aku tak punya semua itu.”

Lelaki itu masih membisu. Menuntut penjelasan lewat tatapannya yang menyipit.

“Jelaskan.”

Serta-merta kelu mengerayangi tengkuknya. Membuat lidahnya beku dan lututnya lemas. Inggit meraba-raba mencari ujung meja untuk bersandar sebelum ia jatuh tersungkur. Baru satu kata yang keluar dari bibir lelaki yang dipujanya itu. Ternyata ia memang tak butuh banyak untuk membuatnya kehilangan semua harga diri.

Goetary

Hujan bulan Juni

​Inggit terjaga sesaat sebelum matahari terbangun dari tidur panjangnya. Langit masih cukup gelap di luar, namun garis-garis cahaya mulai menembus tirai tipis jendela kamar.
Semalaman sangat sulit baginya untuk bisa tidur, dan ketika akhirnya ia bisa memejamkan mata, itu pun hanya sebentar. Dengkuran halus pria di sampingnya tak mampu menenangkan tidurnya. 

Terpekur ia memandangi wajah tampan pria itu, merasakan dadanya mulai penuh oleh emosi. Betapa ia bahagia saat ini, namun juga sangat sedih. 

Inggit tak mau mengakui kegundahannya pada pria itu, ia tak ingin merusak semua kebahagiaan hanya dengan satu pernyataan egois yang sejak lama berputar-putar di otaknya sampai membuatnya pening bukan kepalang.

Melihat tenang lelaki itu dalam tidurnya, ia memutuskan untuk menikmati setiap jengkal napasnya. Inggit kembali masuk dalam selimut, menopangkan pipinya pada kedua tangan di atas bantal. Rasanya ingin sekali mencium bibir pria itu, namun ia terlalu takut membuatnya terbangun. Memandangi wajah rupawannya, tanpa sadar ia pulas seiring meningginya matahari di luar.

Goetary

Hujan bulan Juni

Percayakah jika kubilang, Orang mati bisa tetap hidup dalam mimpi orang lain? Seperti pada malam-malam setelah kepergiannya, dia, masih ada. Dalam mimpi yang terasa begitu nyata. Seolah dia benar-benar masih disini.

“Percaya gak?”
Sebelah kening lelaki itu terangkat mendengar satu kalimat pendek yang selalu menjadi ciri khas tiap kali perempuan cantik di hadapannya ingin mengatakan sesuatu. Seakan apa-apa yang ingin dikatakannya sudah lebih dulu keluar dari bibirnya, atau bisa saja ia berpikir dengan mengatakannya mendadak orang tau apa yang sedang ia pikirkan. 

Tapi seperti biasa dirinya tak sedang ingin berdebat. Lagipula baginya hal kecil seperti itu adalah salah satu daya tarik wanita itu.

“Percaya soal apa?” tanyanya tampak berminat.

Wanita berambut sebahu itu tersenyum membalas ketertarikan yang ditujukan untuk dirinya. Ia berdeham supaya terlihat serius. Atau supaya terlihat pintar di depan pria menarik itu.

“Kamu pernah gak, gak bisa tidur waktu malam padahal udah ngantuk banget?” pria itu mengangguk dan dia segera merebut kesempatan itu untuk melanjutkan ucapannya.

“Jadi, saat kita gak bisa tidur waktu malam padahal udah ngantuk banget itu sebenernya bukan karena hal gaib atau semacamnya. Tapi karena kita hidup di saat itu dalam mimpi seseorang.”

Mendadak terlihat antusias, lelaki itu bertanya, “O ya?”

Wanita itu mengangguk cepat. “Seperti ada kontak batin di antara dua orang, tapi mereka gak sadar. Sering dengar soal kekuatan pikiran kan? Dimana ketika kita memusatkan pikiran pada suatu hal dan itu bisa terjadi. Beda tapi cukup mirip,” ia mengakhiri penjelasannya dengan tampang sok tau. “Percaya gak?” tanyanya kemudian.

Senyum kembali mengukir pipinya, lelaki itu lalu mengangguk. “Aku percaya…”

Hujan bulan Juni

Sudah malam, waktu tak terasa ketika kita bersenang-senang,” kata lelaki itu sumringah.

Ia membalas dengan mencibir karena merasa sedikit tersinggung, “maaf membuang waktumu seharian hanya untuk mendengar ceritaku.”

Lelaki berperawakan tinggi di hadapannya kembali menyungging senyum seperti yang sudah-sudah, sekejap memicu desir di nadinya. “Aku senang, sungguh. Berceritalah kapan pun kau mau, aku akan selalu menyiapkan waktu untukmu.”

“Terima kasih,” ujarnya bersungguh-sungguh. Continue reading “Hujan bulan Juni”