tak pernah cukup

hujan bulan juni

Hatimu terbuat dari apa? Sulit sekali meluluhkannya…

Akhir-akhir ini aku sering mendengar ucapan itu datang dari berbagai macam orang. Mulai dari orang yang sudah lama kukenal, yang baru kukenal, hingga yang tidak kukenal. Bagi mereka aku mungkin nampak seperti alien. Orang asing, yang hatinya tidak terbuat dari gumpalan darah melainkan arus listrik yang tak bernyawa.

Tapi Tuan, kau tak perlu menanyakan hal yang sama kepadaku. Kau tau hatiku selalu, dan selalu mudah untuk kau selami.

Kau hanya perlu bertanya, siapa yang kuinginkan. Dan jawabannya pasti akan segera kau dengar, meluncur mulus tanpa pembatas dari bibirku yang gemetar.

Masalahnya adalah… aku tak pernah cukup bagimu.

Masih menanti janjimu

hujan bulan juni

-Sayang, kau tak perlu mencariku. Biarkan aku yang menemukanmu.-

Begitu katamu di penghujung waktu itu Tuan. Saat itu, bisa dibilang hatiku berbunga. Bunga yang tumbuh di hatiku yang telah lama merana ini adalah Mawar merah yang wangi sekali, namun durinya panjang, tajam dan merobek kulit.

Aku melihat sosokmu datang membawa sekotak besar harapan, mimpi, dan berjuta janji manis. Sesaat senyum merekah di dadaku, sakitnya tergores mawar berduri tidak lagi begitu penting. Tak ada yang lebih penting selain dirimu.

Tapi lalu dari belakangmu sesosok bayang mulai nampak semakin nyata. Kau tidak sendiri. Kau bersamanya…

Tuan, kau bilang akan datang mencariku. Kau janji akan menemukanku. Tapi mengapa gerangan kau membawa serta wanita itu. Lalu bagaimana denganku…

Hujan bulan Juni

yohyoh_media

Mereka sampai di sebuah Halte Busway. Angga memarkir mobilnya di tempat parkir yang disediakan tak jauh dari situ. Mereka berdua turun dari mobil, dan Inggit berjalan di belakang lelaki itu, sembari menahan tangis yang mulai naik ke tenggorokan.

Angga menoleh ke arahnya, menunggunya menyusul langkah. Sekali lagi, Inggit berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa-biasa saja, seakan ia tak terganggu, menampakkan dirinya yang sekuat karang tak peduli ombak menghempas dari berbagai arah sekali pun. Inggit ingin menangis, luka di dadanya semakin melebar. Tapi demi sedikit harga diri yang masih dimilikinya, ia harus menahan semua emosi itu.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Hujan bulan Juni

Girl-in-love-mood-face-image-picture-HD-photography

Inggit mengerjap.

Berusaha untuk tidak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pandangannya terus mengarah keluar jendela, jalanan mengabur karena mobil dikemudikan dengan kencang serta bulir-bulir gerimis menempel di kaca mobil. Inggit menggigit bibir dalam diam, berharap hal itu bisa sedikit meringankan luka di hati.

Melihat Inggit sejak tadi diam saja, Angga meraih tangannya dengan sebelah tangannya yang tidak memegang kemudi. “Ada apa, Inggit? Kau diam saja sejak tadi.” Tanyanya.

Continue reading “Hujan bulan Juni”

Hujan bulan Juni

Jika aku yang membiarkanmu terlibat, bagaimana mungkin itu salahmu?

*

Cinta yang bagaimana, baru bisa disebut Cinta?

*

Cinta… yang tidak berbohong.

Hujan bulan Juni

“Apakah ada wanita lain di antara kita?”

Angga menatap mata Reta satu-persatu. Mencari celah dimana ia bisa melarikan diri. Namun tak ada jalan keluar, Reta tahu semuanya. Reta mengenalnya lebih dari ia mengenal dirinya sendiri, dan menyadari itu membuatnya semakin merasa bersalah.

“Tidak.” Angga menjawab singkat.

Reta menyetuh pipi suaminya penuh sayang, “aku akan mempercayaimu seperti yang sudah kulakukan selama ini, asal kau mau berjanji. Mulai hari ini dan selamanya, tak akan ada lagi orang lain.”

Angga meneguk ludah, matanya berkilat tertangkap basah. Ia lalu mengangguk pelan.

“Aku janji.”

-Goetary-

Hujan bulan Juni

“Aku membiarkanmu masuk ke dalam hatiku, lalu menjadi bagian dari hidupku. Semua itu bukan salahmu. Akulah yang memegang kendali atas hati dan hidupku sendiri, jika aku membiarkanmu terlibat, bagaimana mungkin kau yang bersalah atas semua itu?”

“Kadang-kadang, aku ingin menyalahkan takdir. Tapi sadar bahwa takdir adalah urusan yang Maha Kuasa. Aku tak berhak dan tak diijinkan untuk protes. Kadang juga aku berharap bisa menjadikanmu milikku, dan aku menjadi milikmu. Tapi memikirkan hal itu membuatku malu.”

Hujan jatuh dengan deras di luar. Inggit berdiri di depan jendela kaca, memandangi rintik hujan yang membasahi Kota Jakarta. Hujan deras di luar, namun di dalam sana, di sebuah kamar apartemen sewaan, suaranya tak terdengar hingga ke dalam.

Continue reading “Hujan bulan Juni”