Tiada sesal memilikimu

fazsentido

Kuwarnai lidahku dengan namamu

Gerangan rindu macam apa yang menghantui sepanjang malam

Tak sedikit pun sesal karena memilikimu

Dalam hatiku, Tuan…

Sakit merindukannya

71ac32eb64ed1a31cf08c2c9bb6491f9--people-laughing-photography-laughter-photography

Gerangan Tuan

Pun diriku merasa lucu dengan perasaan itu sendiri

Dia datang dengan ribuan janji

Ribuan rindu

Ribuan lagu yang serta-merta mewarnai kalbu

Tapi kemudian lenyap,

Bagai di telan angin malam

Tak berjejak

Bahkan ketika bintang masih bersinar di angkasa yang luas itu

Ia hilang tersapu ombak

Tenggelam dalam sunyi yang tak bercahaya

Tapi selucu apa pun perasaan itu

Hatiku, tak berdaya oleh rasa rindu yang menyakitkan

Duhai Tuan, aku merindukannya

Kali ini berbeda, Tuan

makro-zima-sneg-vetki-bliki

Tuan,

Betapa mudah hati ini dipenuhi oleh rasa bahagia

Hanya dengan melihat senyum dan tawamu

Aku bahkan tak tahu alasan dibalik semua itu

Ekspresi wajahmu selalu sama

Namun kali ini berbeda

Kali ini berbeda…

I am Not

My life’s not a fire,

To keep you warm

My heart is not a light switch ,

For you to turn on when you please

How does your Coffee?

“How do you like your coffee, Ma’Am?”

“With a couple of bittersweet, one littre of tears, and a chocolate spoon made by longing,” she said.

Batu

56098fda1b00002f00dfdb6c

Jangan kau dorong aku

ke atas bukit itu

kalau hanya untuk berguling kembali

ke lembah ini.

 

Aku tak mau terlibat

dalam helaan nafas, keringat,

harapan, dan sia-siamu.

 

Di lembah ini aku tinggal

menghadap jurang, mencoba menafsirkan

rasa haus yang kekal:

ketentraman ini, sekarat ini.

-Sapardi Djoko Damono-

Hujan bulan Juni

true love has a habit of coming back

98104-they-come-they-go-they-come-back

Lirih terdengar isak tertahan, serta nafas yang bergetar, ketika akhirnya lelaki itu bersuara. “Aku kembali.”

Hujan serentak bergemuruh bersama angin yang marah. Pepohonan miring kian kemari, dunia bergolak seiring keyakinan yang dimilikinya runtuh satu-persatu. Merebut yang paling berarti, yang juga menjadi satu-satunya pegangan yang ia punya sejak hari di mana dunia memaksanya menghadapi kenyataan dan menjadi orang lain. Berpura-pura bahagia ternyata tidak lebih menyiksa, daripada menyaksikan hidup mempermainkannya seperti angin bermain di antara celah pepohonan, menyiksa mereka karena harus bertahan hidup supaya tak tumbang di tengah badai.

-Goetary-