Satu Satunya

Aku telah melakukan banyak sekali kesalahan dalam hidup.

Hal-hal yang kusesali setelah melakukannya.

Hal-hal yang membuatku malu dan berusaha sembunyi darinya.

Tapi dia…

Adalah satu-satunya hal yang terasa benar bagiku.

Pandanglah lekat-lekat

Betapa ia kuat meski sendiri

Seperti Matahari yang tak pernah cemburu

Pada Bulan yang malamnya penuh Bintang

jangan! katanya

large-1

Dan dimana lagi harus disembunyikan

Sedih yang mendekam di dada

Tiap kali seseorang bertanya

 

Siapa gerangan yang ia tunggu

Sungguh,

Jika boleh jujur, ingin ia katakan dengan lantang

Namun waras menahannya

Nurani melarangnya

Bahwa ada kalanya, rasa tak perlu dibesar-besarkan

Rindu…

image

Sudah terlalu lama sejak kepulanganmu, Rindu.
Rasanya asing mendengar suaramu di ujung panggilan telefon.
Aku masih mengingat setiap nada yang biasa keluar dari bibirmu.
Hanya saja rasanya tak lagi sama,
Ketika sosokmu begitu akrab di sampingku.

Jangan menunggu lagi.

image

Aku tak akan kembali, jangan menunggu lagi.
Selalu ada yang lebih baik.
Kau hanya perlu mencari dan menemukannya.
Selamat berjuang di dunia nyata.
Untukmu, yang dulu menjadi satu-satunya di hati.

Tak pernah lupa tak pernah pergi

image

Dan Sayang,
Pada hakikatnya.
Rindu memang tak pernah meminta ijin.
Kapan kala ia ingin bertamu.
Maupun kapan ia ingin tetap tinggal.
Rindu adalah tuan rumah.
Yang kehadirannya tak ditentukan oleh jumlah ketukan di pintu yang menandakan kedatangan seseorang.
Rindu, adalah tuan, yang menentukan kapan waktunya mengingat dan kapan harus melupakan.
Tapi kita tetap sering bertanya, kapan Rindu pulang.
Padahal Rindu tak pernah lupa untuk tak pernah pergi.

Senandung hujan

image

Rindu.
Bagaimana rasanya hujan sepeninggalanku malam itu.
Adakah ia tetap terasa manis di bibirmu.
Ataukah langkahku menyeret pergi gula dari kopi hitam kesukaanmu.
Masihkah kau tersenyum mengingat senyuman di bibirku kala hujan jatuh serentak bersenandung.
Ataukah, justru kini benci meretas tiap bunyi hujan mengaduh di atap rumah.