Tidak pernah benar-benar mendengarkan

Langit itu tinggi

Sesungguhnya Langit selalu menunjukkan betapa tingginya ia

Alasan kita tak pernah mendengarnya mengucapkan hal tersebut

Adalah karena Langit tidak bicara dengan bahasa manusia

Kenyataannya Langit senantiasa mengingatkan betapa tinggi dirinya

Ia buktikan dengan rintik dan rinai hujan

Ia tetapkan bersama bisikan angin yang bertalu-talu

Alasan kita tak menyadarinya mungkin karena kita tak peka

Atau memang tak ingin belajar untuk pernah benar-benar mendengarkan

Seharusnya tidak lagi

Aku seharusnya tidak merindukanmu malam ini

Tapi rindu menelusup dalam hati, sekali saja mengetuk dadaku dan mendadak seluruh pikiranku diisi oleh namamu

Setiap celah hatiku terus membayang wajahmu

Lalu tangan dan bibirku kembali mengingat rasamu

Begitu saja…

Tidak lebih dari rasa suka yang ringkih

Aku tak percaya dengan kata orang bahwa cinta sejati tidak memudar

Yakin dan percaya bukan cinta yang membuat pasangan tua bertahan dalam susah senangnya hidup bersama

Tapi karena rasa terbiasa

Terbiasa hidup bersama

Terbiasa bercanda berdua

Terbiasa bertengkar lalu berbaikan

Terbiasa ada satu dan yang lainnya

Tapi cinta tidak abadi

Dia sama seperti rasa suka yang ringkih

Yang hangatnya hanya seperti sekelebat asap rokok mengepul memerih di mata

…tidak lebih dari itu

tak pernah cukup

hujan bulan juni

Hatimu terbuat dari apa? Sulit sekali meluluhkannya…

Akhir-akhir ini aku sering mendengar ucapan itu datang dari berbagai macam orang. Mulai dari orang yang sudah lama kukenal, yang baru kukenal, hingga yang tidak kukenal. Bagi mereka aku mungkin nampak seperti alien. Orang asing, yang hatinya tidak terbuat dari gumpalan darah melainkan arus listrik yang tak bernyawa.

Tapi Tuan, kau tak perlu menanyakan hal yang sama kepadaku. Kau tau hatiku selalu, dan selalu mudah untuk kau selami.

Kau hanya perlu bertanya, siapa yang kuinginkan. Dan jawabannya pasti akan segera kau dengar, meluncur mulus tanpa pembatas dari bibirku yang gemetar.

Masalahnya adalah… aku tak pernah cukup bagimu.

Aku tak marah

beautiful woman

Sekali dua kau kembali dalam benak

Kenyataan menghempas rindu yang tersembunyi rapat di balik genggaman

Dulu kau selalu bilang bahwa hidup ini tidaklah adil

Duhai Tuan yang selalu amat kucintai, hidup memang seperti itu

Tak ada keadilan

Tak ada kepastian

Sebagai manusia kitalah yang dituntut untuk selalu berdamai dengannya

Sama halnya seperti kadang kala kau kembali dalam bentuk kenangan

Menyempit dalam benak, menyakiti hati

Tapi aku tak marah, Tuan

Tidak akan pernah aku marah pada kenangan atas dirimu

Tidak akan pernah aku mengumpat serapah pada rindu yang berkali-kali mengetuk jiwa

Kubilang cinta adalah anugrah

Dan kau adalah hadiah

Meski kita tak lagi bisa kembali

Kau tak akan pernah kehilangan diriku

-Goetary-

Satu Satunya

Aku telah melakukan banyak sekali kesalahan dalam hidup.

Hal-hal yang kusesali setelah melakukannya.

Hal-hal yang membuatku malu dan berusaha sembunyi darinya.

Tapi dia…

Adalah satu-satunya hal yang terasa benar bagiku.

Pandanglah lekat-lekat

Betapa ia kuat meski sendiri

Seperti Matahari yang tak pernah cemburu

Pada Bulan yang malamnya penuh Bintang

jangan! katanya

large-1

Dan dimana lagi harus disembunyikan

Sedih yang mendekam di dada

Tiap kali seseorang bertanya

 

Siapa gerangan yang ia tunggu

Sungguh,

Jika boleh jujur, ingin ia katakan dengan lantang

Namun waras menahannya

Nurani melarangnya

Bahwa ada kalanya, rasa tak perlu dibesar-besarkan

Rindu…

image

Sudah terlalu lama sejak kepulanganmu, Rindu.
Rasanya asing mendengar suaramu di ujung panggilan telefon.
Aku masih mengingat setiap nada yang biasa keluar dari bibirmu.
Hanya saja rasanya tak lagi sama,
Ketika sosokmu begitu akrab di sampingku.

Jangan menunggu lagi.

image

Aku tak akan kembali, jangan menunggu lagi.
Selalu ada yang lebih baik.
Kau hanya perlu mencari dan menemukannya.
Selamat berjuang di dunia nyata.
Untukmu, yang dulu menjadi satu-satunya di hati.

Tak pernah lupa tak pernah pergi

image

Dan Sayang,
Pada hakikatnya.
Rindu memang tak pernah meminta ijin.
Kapan kala ia ingin bertamu.
Maupun kapan ia ingin tetap tinggal.
Rindu adalah tuan rumah.
Yang kehadirannya tak ditentukan oleh jumlah ketukan di pintu yang menandakan kedatangan seseorang.
Rindu, adalah tuan, yang menentukan kapan waktunya mengingat dan kapan harus melupakan.
Tapi kita tetap sering bertanya, kapan Rindu pulang.
Padahal Rindu tak pernah lupa untuk tak pernah pergi.

Senandung hujan

image

Rindu.
Bagaimana rasanya hujan sepeninggalanku malam itu.
Adakah ia tetap terasa manis di bibirmu.
Ataukah langkahku menyeret pergi gula dari kopi hitam kesukaanmu.
Masihkah kau tersenyum mengingat senyuman di bibirku kala hujan jatuh serentak bersenandung.
Ataukah, justru kini benci meretas tiap bunyi hujan mengaduh di atap rumah.

Menitip Rindu pada Setapak Jalan

image

Rindu…
Semoga kau berumur panjang.
Seperti hujan hari ini.
Kutitipkan Cinta yang tak habis dimakan waktu.
Pada semilir angin sepanjang jalan setapak.
Berharap bertemu denganmu tepat waktu.

Hidup setelah mati

image

Namun tak ada yang lebih hidup,
Dari kematian itu sendiri.

Adalah rindu…

Masalahnya adalah Rindu.
Yang menguras jiwa hingga lebam.
Tak mau pergi meski telah susah payah mengabaikan.

View on Path