Jangan Pergi, Jangan Berlalu

image

Sama seperti ciuman malam kemarin yang tak kuasa kuhentikan
Sama seperti pelukan semalam yang tak ingin kulepaskan
Sama seperti itu ketakutan yang bersarang dalam dadaku
Kala aku merasa terlalu bahagia ketika bersamamu
Tak ingin berakhir namun harus berakhir
Bahagia kita, akankah cepat berlalu?

Menahanmu di Sini

Menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik

Yang tidak menghakimi dan tak perlu dihakimi

Dari sana aku belajar banyak hal

Setelah melewati perjalanan penuh lika-liku

Setelah begitu banyak luka dan air mata

Aku belajar untuk lebih bersabar dalam menghadapimu

Jika boleh jujur, tak mudah bagi diriku yang seperti ini

Namun mencintai berarti menaruh ego kita di bawah ego orang yang kita cintai

Dan itulah yang sedang kulakukan sekarang

Semata-mata agar kau kerasan di sisiku

Satu-Satunya Rumah

image

Aku melihat bekas air mata di wajahnya. Yakin ia pasti menangis semalaman.
Dalam hati aku bertanya, siapa yang memeluknya saat ia tersedu-sedu. Siapa yang menghapus air matanya saat ia menangis. Siapa yang menghiburnya waktu ia merasa terpuruk, yang menguatkannya ketika ia tak mampu berdiri karena kakinya yang mati rasa setelah lama bersimpuh.
Dan perasaan cemburu kembali merasukiku…
Aku sadar, kadang kala hal begini harus terjadi.
Hanya saja, aku tak rela.
Aku ingin menjadi orang pertama yang membagi kepedihannya, menjadi orang pertama tempatnya berkeluh kesah, menjadi orang pertama yang ia datangi saat sedih dan ingin menangis…
Aku… dengan egois, ingin menjadi satu-satunya rumah bagi dirinya.

Mencintamu, aku pasrah!

image

Bahagia itu, apa?

Apakah ia adalah senyum yang kerap mengukir di wajah tiap kali kau melintas di pikiran?

Ataukah tawa yang membuat kepala tengadah saat kau ikut tertawa?

Cinta itu…

Apakah perasaan yang membuat hati berbunga saat teringat dirimu?

Ataukah sayatan di hati saat tahu semuanya akan berakhir?

Cinta buat kita, tidakkah ia berbeda, Sayang?

Tidakkah cintamu terbuat dari batu keras yang tak mampu hancur walau terasah rindu sekalipun…

Dan bukankah cintaku lemah, yang tak sanggup hidup tanpamu walau sebentar saja…

Kebahagiaan bagi kita, apakah ia begitu berbeda, Sayang?

Hingga harus bagimu dirinya dan diriku untuk dapat membuatmu merasa lengkap

Sementara bagiku, ia yang membawa sebilah pisau untuk membelah hati. Memberi separuhnya padamu, dan meninggalkan separuhnya dalam keadaan kering kerontang oleh keputusasaan. Namun tetap membuatku bahagia. Dan pasrah.

Karena meski berbeda, walau itu menyakitkan. Aku rela.

Aku mencintamu, itu tak mengapa…

Lebih dari itu, semuanya milikmu.

tired-alone-girl-rain-sad-Favim.com-408942

Sepanjang siang tadi, hujan turun tak berkesudahan. Sejauh mata memandang, langit, rumah-rumah, pepohonan, kendaraan, serta jalanan nampak basah dan layu. Tak terkecuali diriku.

Karena merindukanmu, siangku rasanya menjemukkan. Sedikit menyesakkan. Sedikit menyakitkan. Semuanya karena merindukanmu…

Hampir setiap hari sejak kedatanganku, aku berharap bisa berbicara denganmu. Selalu ada hal baru yang ingin kuceritakan, kabar-kabar yang kerap terlupakan seiring waktu berlalu. Sementara sampai sesore ini, yang masih mampu kuingat hanya satu, betapa aku merindukanmu.

Dimanakah kau berada sekarang? Jika saja kutahu, mungkin gelisah ini dapat sedikit kuredam. Kadang aku berharap bisa bicara denganmu, jika tak diperbolehkan, maka setidaknya bercerita tentangmu pada orang lain. Namun itu pun aku tahu tak boleh. Karena tak ada yang bisa kulakukan selama itu berhubungan dengan dirimu.

Jadi maukah kau memaafkan diriku, jika malam ini aku ingin menangis? Sedikit saja. Cukup sebentar. Karena perasaanku yang gundah kian mengelam. Dan aku telah tenggelam di dalamnya. Jika air mata dapat membebaskanku, karena kau pasti tak bisa. Maka biarkan saja walau hanya secuil perasaan yang mampu ia angkat. Karena lebih dari itu, semuanya milikmu. Dan hanya pemiliknyalah yang berhak mengambilnya, bukan?

Semoga hujan reda malam ini, karena dinginnya udara yang menusuk hingga ke tulang hanya akan membuatku semakin membutuhkan pelukanmu.

Saya lebih ingin dirindukan

Telat makan siang gegara nungguin roti yang lagi pengen banget saya makan. Dua jam telah berlalu ketika sepupu saya datang dengan wajah sumringah bersama sahabatnya sambil menenteng tas belanjaan. Karena kecewa melihat dia tidak bergeming saat menyadari raut wajah saya yang pedih menahan lapar he3x tiba-tiba saja mata saya terasa panas.

Dia pergi dan saya menangis (lho!). Bukan karena amarah yang berjuang untuk keluar dari dada saya lho, bukan. Melainkan karena suara merdu itu mengalun dari speaker laptop yang menohok jantung saya, membuat hati seketika porak-poranda.

Subhanallah… saya ini kenapa? Sejak kemarin perasaan tak enak, hati tak tenang. Tubuh saya gemetar tiap mengingat-Nya. Mungkinkah Allah rindu pada saya? Amin…

Buat semua teman blogger, baik yang sengaja datang berkunjung ke rumah kedua saya ini atau pun tidak di sengaja, saya memohon maaf jika pernah melakukan salah kepada kalian. Baik itu komentar-komentar yang mungkin terlewat sehingga tidak dibalas maupun perkataan saya serta postingan saya yang mungkin menyinggung. Sesungguhnya saya hanyalah manusia biasa, sering membuat dosa dan bangga pada diri sendiri.

InsyaAllah, semoga kita semua menjadi manusia-manusia yang di rindukan oleh Allah SWT. Amin Ya Rabbal ‘Alamin 🙂

 

Masih hujan

Langit pasti mendengar permohonanku semalam suntuk kemarin

Buktinya sampai sekarang hujan masih mengguyur tanah kota di bawah rumahku

DSC_8066

DSC_8074