Dear Cassie…

1196822_orig

At some point of making life decision.

Some people just can’t help but, growing apart.

Sadly…  You grow up. Together or not.

So until someday… have a day for all of us.

Continue reading “Dear Cassie…”

Indah dalam sajak

Sad-alone-girl-missing-her-lover-wallpapers

Setelah ini, entah kapan dan dimana. Kau pasti akan bertanya, “Mengapa?”

Namun jawabannya akan tetap sama.

Cinta… selalu tampak indah dalam tulisan.

Maka menulis namamu dalam sajak-sajak beruntun.

Adalah kesenangan, sekaligus hiburan.

Bagi hati yang terluka akibat mencintaimu.

I miss a lot of things

image

I drink a lot of coffee lately. Guess i try too hard to remember your smell that resemble from a cup of a black coffe. And surprise how much a cup of coffee brings a lot of you. I remember your laugh, your smile, your eyes, your lips, your voice, your hands, your hair, your chest, your belly, and still remember how you used to taste. I miss having a conversation with you, fight for the silly things, and made up with one kisses. I miss having a night walking with my hand in your hand, and my shoulders againts yours, i miss the “sepanjang jalan kenangan” lyrics you onced sang after we spend some time at café. I miss the way you kiss my upper head everytime i pretend to fall asleep anywhere i could. I miss the way you call me with a nickname you gave. Anyway, i miss a lot of things. Mostly your existence. Wish you well sweetheart, wherever you are, whenever you’ve been. Love you with all my heart 💕

Take away everything.

image

You can take this photographs and watch them fade away. You can through away all this letters, i don’t care about what they say.
You can take away everything, leave me lying on the floor. But all those sorrys can’t fix me.

Aku malu mencintaimu…

184558_10152766593480134_1832241076_n

Aku pasrah.
Jika mencintaimu berarti melukai orang lain. Aku menyerah. Padahal mereka bilang setiap orang berhak untuk bahagia, tapi anehnya kita tidak diperbolehkan memilih sendiri kebahagiaan kita. Mereka bilang setiap pertemuan, setiap kejadian, pasti ada alasannya. Tapi tak ada yang bersedia memberitahu alasan-alasan tersebut.
Aku pun ingin bahagia. Bersamamu. Demi Allah… hanya dirimu yang kuinginkan. Kini, Besok, dan Selamanya. Tapi jika Allah berkehendak lain, Sayang. Aku pasrah.
Aku tak bilang bahwa dengan ini aku menyerah. Tidak. Bukan begitu. Aku tidak sedang berlari menjauhimu. Tidak sedang mencoba menghindarimu. Bukan begitu. Aku hanya tak lagi tahu harus bagaimana.
Aku memikirkannya berkali-kali. Sejak terakhir kali aku melihat wajah familiar yang selama ini selalu menjadi tempatku berlari ketika membutuhkan perlindungan. Kilat di matanya yang menyembunyikan cemoohan akan dirimu dan keluargamu terus membuatku bertanya-tanya apa alasan sebenarnya beliau menolakmu, wahai pria pilihan hatiku.
Selama berpikir, air mata rasanya tak pernah selesai jatuh mengalir di pipi. Aku menangis sampai mata terasa berat. Hingga kepala terasa nyeri sebelum akhirnya jatuh tertidur.
Aku berusaha mencari pembelaan dimana-mana atas sikap keras kepalaku ini. Mencari dukungan yang bisa menguatkan perjuanganku untuk bisa bersamamu. Tapi semakin mencari, semakin tak bisa kutemukan apa yang kuinginkan. Jawaban yang kumau tak ada dimana-mana.
Aku tahu aku sudah mengkhianati dirimu sejak awal. Sadar maupun tidak. Ketika kudengar suara-suara sumbang yang mencoba menjatuhkanmu, ketika orang-orang berusaha melecehkanmu, menilaimu tanpa bukti. Seharusnya akulah yang bersikukuh, lebih lantang dalam membelamu, karena tahu bahwa apa yang mereka katakan tentangmu adalah salah.
Tapi aku, yang mengaku siap menerimamu apa adanya, yang mengaku akan berada disisimu, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah denganmu justru tak sanggup berkata apa-apa. Hanya jeritan kecil yang tertahan di ujung lidah, yang bertanya dari mana mereka mendapatkan semua berita itu. Yang bersikeras meminta bukti jika memang benar kau seperti yang mereka bilang. Dan ketika aku meragukanmu, aku tahu aku telah berkhianat. Dan lagi-lagi menyakitimu dalam diam.
Sayang, aku hampir tak punya muka untuk menemuimu lagi. Dengan segala keterbatasanku aku memohon ampun karena telah menarikmu dalam pusaran yang menghinakan. Aku ingin protes pada penguasa langit dan bumi, jika memang keberadaanku hanya membawa keburukan bagimu, untuk apa kita dipertemukan. Jika memang aku bukan untukmu dan kau bukan untukku, mengapa rasanya begitu benar saat kita bersama.
Jika lagi-lagi aku salah mengartikan tanda dari yang Maha Kuasa. Mungkin aku memang belum pantas untuk bahagia. Jauh sebelum bertemu denganmu ada do’a yang kerap kali kupanjatkan di antara kedua telapak tanganku. Dengan malu-malu karena tahu bahwa diriku belum bisa menjadi wanita yang baik, aku tetap meminta supaya dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menjadi imamku kelak. Lelaki baik yang tidak perlu tampan, yang tidak perlu kaya, yang hanya perlu mencintai-Nya sebelum mencintaiku. Yang menjadikanku urutan kedua setelah ibunya. Yang akan menjadikanku dan anak-anakku kelak sebagai tujuan suksesnya.
Akan tetapi, aku sadar. Ini hanya salah satu misteri yang tak akan pernah kuketahui jawabannya. Sehingga biarkan takdir melakukan tugasnya, dan kita mengupayakan apa yang mampu kita upayakan.
Awalnya kupikir aku menangis karena cintaku diabaikan.
Kini aku sadar. Aku menangis bukan semata karena penolakan demi penolakan yang kuterima, melainkan karena aku malu kepadamu. Aku malu telah memperkenalkan dirimu pada duniaku yang tak sepadan dengan duniamu. Aku malu, atas nama cinta aku membawamu ke kehidupanku yang penuh keangkuhan, dan menjadikan dirimu serta keluargamu santapan empuk para diktator. Aku malu telah mempermalukan dirimu dan keluargamu. Telah membiarkanmu terhina dan terlecehkan.
Hanya karena kau melakukan kebodohan di masa lalu, hanya karena kau melakukan kesalahan, tak berarti kau berhutang pengampunan pada manusia. Bukankah Allah telah menyiapkan ribuan maaf untuk kekhilafan yang dilakukan oleh hamba-Nya? Bukankah Allah berjanji untuk menutup aib yang diperbuat makhluk ciptaan-Nya jika kita berserah diri? Lagipula, manusia yang mana yang luput dari dosa?
Dan siapalah yang berhak menilai seorang hamba selain Penciptanya? Maka jangan takut atas penilaian orang lain atas dirimu, kau, lebih baik dari mereka yang menilaimu.
Jika masih boleh, aku ingin tetap berjuang bersamamu. Aku tahu itu pikiran yang impulsive. Tapi sebagai wanita aku malu karena telah membiarkan rasa cinta mengambil alih logika. Dan jelas, aku tak ingin menjemput murka Allah hanya karena memaksakan kehendakku dan membiarkan mereka yang berjasa dalam kehidupanku bersedih hati.
Jika kebahagiaanku tak sepadan dengan kesedihan yang kusebabkan pada hati orang lain. Jika kebahagiaan kita berdua adalah kebahagiaan yang mengharuskan kita menari di atas penderitaan orang lain. Maka mungkin sebaiknya kita jangan bahagia bersama.
Suatu hari nanti, setelah kita terlalu lelah untuk berjuang, setelah hari-hari kita lalui dengan target yang terus berubah namun tak kunjung tercapai, setelah kita lebih dewasa untuk berpikir dan menerima kenyataan, kuharap, kita sudah cukup bijaksana untuk membiarkan hidup membawa kita kemana takdir kita berada.
Sampai saat itu tiba, maafkan aku karena mencintaimu.

Sudah sejauh ini bersama, mampukah kita menyerah…

vintage-bicycle-weddingSering aku berpikir untuk menyerah saja.

Namun sebuah bisikan di hati memaksaku menoleh ke belakang. Tak sadar ternyata sudah cukup jauh kita melangkah. Sudah begitu banyak rintangan yang kita lalui.

Kuakui banyak hal yang telah berubah. Sikapmu, perhatianmu, perkataanmu, bahkan dirimu sendiri telah jauh berbeda. Yang dulu membuatku jatuh cinta kini lenyap sudah. Alasan aku tergila-gila dulu tak ada lagi.

Tapi mungkin inilah cobaan yang mesti kita lewati.

Bukankah sejak awal sudah banyak peringatan yang mewanti-wanti kita bahwa cinta tak bisa bertahan selamanya. Bahwa suatu hari nanti perasaan menggebu-gebu itu perlahan akan hilang. Sementara sudah sejauh ini kita melangkah. Sudah semakin jauh kita dari garis awal sejak kita putuskan untuk bersama. Entah di mana garis akhir itu berada. Bisakah kita mencapainya bersama, atau haruskah nanti kita terpaksa dipisahkan oleh sebuah persimpangan.

Meski masa depan tampak tak menjanjikan. Walau tak tahu kemana hubungan ini akan membawa kita nantinya. Aku yang sekali lagi telah tersadarkan dengan mantap ingin tetap berjalan bersisian denganmu. Menuju sebuah tujuan yang telah diam-diam, sama-sama selalu menjadi pembuka dan penutup setiap do’a kita.

Lagipula, gejolak yang menggebu-gebu itu bisa saja pudar termakan waktu. Dirimu yang dulu bersikap penuh hati-hati untuk merebut simpatiku perlahan tersingkap oleh dirimu yang sebenarnya. Namun alasan-alasan yang membuatku jatuh cinta akan tetap ada disana, hanya dibutuhkan sedikit keihklasan untuk bisa melihatnya dengan jelas. Bahwa sesungguhnya hal yang membuatku jatuh cinta adalah sesuatu yang terdapat di dalam dirimu.

Aku pun percaya cinta yang sebenarnya tak akan pudar termakan waktu. Dia ada. Tak tersentuh memang. Tapi ada.

Semoga

image

Gadis itu termenung di atas sepeda motor, satu tangannya menggenggam erat pinggang sang pengemudi.
Angin menerpa wajah.
Dan untuk sekali ini ia tak berniat untuk bersembunyi di balik punggung kekasihnya.

Tidak seperti biasa.
Jalan pulang kali ini terasa begitu damai.
Banyak pikiran berkecamuk dalam benaknya.
Namun ia menikmatinya.

Besok mereka harus berpisah sekali lagi.
Namun tak seperti perpisahan yang pertama.
Kali ini tak dihiasi dengan air mata apalagi rasa galau.

Tak ada percakapan bagaimana mereka harus menjalani hari demi hari tanpa satu sama lain.
Tak lagi ada pelukan yang tak kuasa dilepaskan.
Hanya ada keheningan.

Dia sadar, hening tak selamanya hening.
Diam bukan berarti tak ada yang ingin diucapkan.

Sementara sang kekasih yang heran melihat tindak-tanduk si gadis berkali-kali bertanya.
“Ada apa? Kenapa diam saja?”
Akan tetapi kepala gadis itu sedang penuh dengan pikiran dan harapan
Hingga tak rela kedamaian tersebut terusik.

Jadi dia diam saja hingga sepeda motor berhenti di depan rumah.
Dalam keadaan harus berpisah.
Setelah mengecup punggung tangan kekasihnya, gadis itu berbalik.

Ia berjalan dengan pelan, hatinya berbisik lirih…

Apakah kita akan baik-baik saja?
Akankah perpisahan kali ini adalah yang terakhir bagi kita?

Sementara itu, sebuah suara serak melirih di antara hembusan angin.
Seolah mendengar suara hati wanitanya.
Ia menjawab, “Semoga…”