Hujan bulan Juni

yohyoh_media

Mereka sampai di sebuah Halte Busway. Angga memarkir mobilnya di tempat parkir yang disediakan tak jauh dari situ. Mereka berdua turun dari mobil, dan Inggit berjalan di belakang lelaki itu, sembari menahan tangis yang mulai naik ke tenggorokan.

Angga menoleh ke arahnya, menunggunya menyusul langkah. Sekali lagi, Inggit berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa-biasa saja, seakan ia tak terganggu, menampakkan dirinya yang sekuat karang tak peduli ombak menghempas dari berbagai arah sekali pun. Inggit ingin menangis, luka di dadanya semakin melebar. Tapi demi sedikit harga diri yang masih dimilikinya, ia harus menahan semua emosi itu.

Ia bertahan. Apakah karena masih menginginkan Angga di hidupnya, tak mau sampai lelaki itu pergi menjauh jika ia meminta hak yang ia sendiri bahkan tak tahu memilikinya atau tidak—menahan sedikit harapan suatu hari kelak ada kesempatan baginya untuk bahagia bersama lelaki itu—ataukah karena ia hanya ingin terlihat kuat. Supaya Angga melihatnya sebagai wanita tegar yang tak akan mampu dikacaukan lelaki seperti dirinya. Inggit tak mengerti. Ia hanya berjalan sesuai arah angin yang menemani langkahnya. Selangkah demi selangkah, hingga sampai ke sisi Angga, dan menemukan tempat favoritnya.

Yaitu lengan Angga untuk bersandar.

Inggit tersenyum gamang. Angga menuntunnya sampai ke Halte. Lalu meninggalkannya di sana. Ia berusaha tegar. Susah payah menelan air mata, Inggit menolak memandang wajah Angga.

“Aku pulang,” kata Angga. Inggit tak menoleh sedikit pun. Lelaki itu mendaratkan kecupan singkat di pipi Inggit dan segera berlalu pergi.

Orang-orang mulai berdatangan. Inggit mungkin sendirian tadi, namun sekarang semakin banyak yang menyesakinya. Dan Inggit yang hatinya hancur memaksa kepalanya tetap terangkat tinggi, karena ia tahu, kapan pun ia menunduk maka air mata akan serta-merta meloloskan diri.

Merasa sudah cukup lama sejak kepergian Angga. Ketika bus yang dinanti tak kunjung tiba. Inggit memberanikan diri menoleh kearah Angga pulang. Jika ada sedikit bayangan dirinya disana yang bisa ia peluk, Inggit akan merasa cukup dengan itu. Namun alangkah kagetnya ia, ketika menoleh dan menemukan lelaki pujaannya masih di situ.

Angga masih berdiri di sana. Di sisinya. Tepat di sampingnya. Sejak tadi ternyata belum pergi kemana-mana. Dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Inggit tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bersyukur karena belum sempat menangis. Ia hampir membuat Angga melihat betapa hancur dirinya karena ditinggal begitu saja oleh lelaki itu setelah melewati malam berdua.

“Apa… yang… kau…” Inggit bertanya terbata-bata, tak mampu menyelesaikan ucapannya.

Tak ada senyum di wajah Angga. Yang terlihat di rautnya justru sebaliknya. Kening Angga mengerut saling bertaut. “Aku takut kamu menangis,” ujar Angga masih tanpa senyum.

Dan Inggit bisa merasakan luka di hatinya perlahan berubah menjadi seekor kupu-kupu. Oh Tuhan. Umpat Inggit dalam hati. Antara bersyukur dan tidak.

“Jangan menangis.”

Masih mencoba mempertahankan harga diri, Inggit membuang muka. “Aku tak akan menangis!”

Angga memaksa Inggit menatapnya. Inggit mengerjap menyembunyikan air mata sebelum menoleh, meyakinkan lelaki itu bahwa dirinya baik-baik saja. Tak perlu dikhawatirkan. Tak perlu dikasihani. Ia baik. Dan kuat. Tegar. Dan…

“Aku pergi sekarang yah? Hati-hati di jalan. Nanti kutelfon.” Begitu kata-kata yang didengar Inggit sebelum melihat langkah lelaki itu benar-benar menjauh darinya. Inggit sempat menoleh sekali lagi, dan Angga masih berdiri jauh disana menatapnya. Lelaki itu melambai, dan Inggit melempar senyum semampunya. Merasa semua baik-baik saja, Angga pergi dan tak pernah lagi menoleh.

Beberapa menit kemudian, menunggu bus yang tak sesuai jadwal membuatnya makin tersiksa, karena pikirannya terus-menerus berlabuh pada Angga. Mau tak mau kembali memutar semua yang terjadi semalam ketika ia menghabiskan waktu berdua saja dengan lelaki itu. Meski sedih lagi-lagi menemukan celah untuk melukai hati, jauh, jauh di dalam sana, anehnya ia merasa bahagia.

Inggit mengeluarkan ponsel dari tas, dan mengetik secarik kalimat lalu mengirimnya sebagai pesan ke ponsel Angga.

“Aku merindukanmu.”

-Goetary-

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s