Hujan bulan Juni

Girl-in-love-mood-face-image-picture-HD-photography

Inggit mengerjap.

Berusaha untuk tidak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pandangannya terus mengarah keluar jendela, jalanan mengabur karena mobil dikemudikan dengan kencang serta bulir-bulir gerimis menempel di kaca mobil. Inggit menggigit bibir dalam diam, berharap hal itu bisa sedikit meringankan luka di hati.

Melihat Inggit sejak tadi diam saja, Angga meraih tangannya dengan sebelah tangannya yang tidak memegang kemudi. “Ada apa, Inggit? Kau diam saja sejak tadi.” Tanyanya.

Inggit mengulum senyum, menggeleng. Dan berkata, “tidak ada apa-apa.”

“Bicaralah.”

“Bicarain apa?”

“Apa saja. Aku ingin mendengar ceritamu.”

Luka di hatinya meretas. Sadar bahwa lelaki di sampingnya tidak sepeka yang ia harapkan, Inggit meradang.

“Kau baik-baik saja?” tanya Angga lagi.

“Iya.” Inggit menjawab singkat. Dalam hati memohon supaya lelaki itu tak banyak bicara.

Bicara hanya menyakitkan. Jika ada yang dipelajari Inggit selama berhubungan dengan Angga. Ia belajar bahwa mempercayai omongan lelaki itu adalah luka. Kebohongan adalah luka. Dan luka yang disebabkan oleh kebohongan yang telah menjadi kebiasaan Angga untuk menutupi hubungan mereka rasanya teramat sangat menyakitkan.

“Inggit.” Angga memanggil.

“Hmm?”

“Aku tak tahu harus bilang apa.”

Inggit menoleh sambil bertanya-tanya kemana pembicaraan ini akan berlanjut.

“Aku berharap lebih dulu bertemu denganmu. Jika begitu semua tak akan terasa seberat ini. Aku tak perlu menyakitimu, dan tak akan ada beban apapun di antara kita.”

Inggit mendengus dalam hati, tapi tak berkata apa-apa. Sadar bahwa omongan apapun tak ada gunanya. Kalau boleh meminta, ia tak ingin bertemu Angga sama sekali. Jatuh cinta pada lelaki yang telah memiliki pasangan, bahkan dalam mimpi pun rasanya segan untuk memikirkannya.

Inggit tidak menggubris perkataan lelaki itu, sebaliknya ia malah bertanya, “aku turun dimana?”

Untuk sesaat, rasa tak enak muncul di raut wajah Angga, tapi jika itu bukan khayalan maka lelaki itu menyembunyikannya dengan sangat baik. “Di Halte depan saja yah? Maaf aku tak jadi mengantarmu pulang. Aku harus…”

“—Aku tahu!” potong Inggit mulai kehilangan kesabaran. Tapi masih berusaha semampu mungkin terlihat tak terganggu dengan ucapan apa pun yang ia tahu akan keluar dari mulut lelaki itu.

-Goetary-

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s