Setelah Menikah, Pilih Karir atau Keluarga?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzaab : 33]

***

Beberapa hari lalu seorang teman bertanya, haruskah istri berada di rumah setelah menikah? 

Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan, sebelumnya teman saya sempat mengutarakan keprihatinannya terhadap warga ibukota, terutama keluarga-keluarga muda yang suami dan istrinya bekerja, dengan kemacetan yang luar biasa setiap harinya setelah seharian di kantor, membuat dia geleng-geleng kepala. Tak habis pikir bagaimana mereka mampu membagi waktu antara keluarga dan karir. Teman saya bahkan sempat berkata, “tinggal di Jakarta setelah menikah pasti berat.”

Pertanyaan seputar istri tinggal di rumah atau bekerja membuat saya dan ketiga teman saya yang saat itu sedang makan malam bersama di luar terlibat dalam argumen singkat (sangat disayangkan itu bukan sebuah diskusi karena masing2 dari kami ingin merasa benar sendiri). Sebagai informasi, hanya satu dari kami berempat yang sudah menikah dan berkeluarga sementara kami bertiga belum mencapai tahap itu. Saya sendiri mengamini bahwa wanita tidaklah wajib berada di rumah, hanya jika ada alasan yang memperbolehkan. Dan akhirnya argumen kami terhenti tanpa ada yang benar-benar mahfum dan paham dengan pendapat satu sama lain. Seakan tidak ingin menambah panas suasana, kami seolah sepakat untuk melupakan masalah itu. 

Tapi sebenarnya pertanyaan tersebut sedikit menggelitik rasa penasaran saya. Sebagai wanita yang belum menikah, tentu saya tidak paham betul. Tapi jaman sekarang, dimana begitu mudahnya mendapatkan informasi hanya dari seujung jari sebenarnya cukup mudah mengetahui bagaimana pendapat istri-istri bekerja juga istri yang memilih mengabdikan diri pada keluarga. Masing-masing orang tentu punya pendapat sendiri, dan tingkat kepuasan yang berbeda yang memaksa mereka memilih antara tinggal di rumah atau tidak.

Jadi, bolehkah istri bekerja membantu suami mencari nafkah?

Sayangnya, isu tentang emansipasi wanita yang kini telah tersebar rata di hampir seluruh pelosok dunia membuat banyak wanita merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pria. Menjadikan sebagian wanita terpengaruh untuk keluar rumah dan melalaikan tugas utamanya dalam mengurus keluarga yang telah menjadi kodratnya.

Keberadaan seorang istri amat penting dalam sebuah rumah tangga. Istri, tak peduli bekerja atau memilih tinggal di rumah memiliki peran yang sama, yaitu mengatur keberlangsungan hidup keluarga. Tak bisa dipungkiri bahwa wanita-wanita yang mengambil peran ganda sebagai seorang istri dan pencari nafkah adalah contoh wanita yang luar biasa. Tapi pertanyaannya, haruskah?

Haruskah istri mengambil peran ganda sebagai ibu juga sebagai pencari nafkah? Jawabannya harus! Dengan catatan jika memang wanita tersebut tidak memiliki suami yang bisa dijadikan tulang punggung, tidak ada yang bisa dijadikan sandaran maka hal itu memang seharusnya dilakukan. Tapi bagaimana jika masih memiliki suami? Terutama suami yang punya pekerjaan bagus, penghasilan tinggi, kendaraan dan rumah juga sudah di miliki. Lalu apa lagi yang dicari? Mengapa seorang wanita masih ingin mencari penghasilan di luar? Sementara dalam islam yang wajib mencari nafkah adalah suami. Seorang istri tidak diperbolehkan keluar rumah kecuali dengan izin suami.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ.

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar, syaitan akan menghiasinya dari pandangan laki-laki.” 

Setahu saya tidak ada larangan bagi seorang wanita yang ingin memiliki penghasilan sendiri, jelas hal itu boleh. Bahkan, penghasilan istri sejatinya hanya miliknya seorang kecuali dia merelakannya untuk suami dan keluarganya. Tapi untuk mendapatkan penghasilan sepertinya tidaklah harus keluar rumah. Banyak istri-istri pintar yang berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang sekaligus memelihara keluarganya hanya dari rumah. Memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa meninggalkan kewajibannya.

Allah Ta’ala telah memberikan rizki kepada seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Istri dan anak dikaruniai rizki oleh Allah dengan perantaraan suami dan orang tua. Karena itu, seorang istri harus bersyukur dengan nafkah yang diberikan suami. Sekecil apa pun wajib disyukuri dan harus merasa cukup dengan apa yang telah diberikan. 
Sedangkan bagi orang yang tidak bersyukur, maka Allah ‘Azza wa Jalla justru akan membuat dirinya seakan-akan serba kekurangan dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia dapatkan. 
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ.

“Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaga dirinya dan barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada dirinya.” 

Jadi kembali lagi dengan pertanyaan bolehkah seorang istri membantu suami mencari nafkah? Walau pun dengan alasan cinta sekalipun, jawabannya adalah tidak boleh kecuali seperti poin di atas jika tidak lagi memiliki suami.

Sekarang beras mahal, cabe mahal, susu anak mahal, kebutuhan hidup terus meningkat tapi gaji suami segitu-segitu aja! Mau gak mau istri mesti turun tangan.

Akrab dengan kalimat di atas? 

Sungguh beruntung seseorang yang masih diberi rizki serba berkecukupan oleh Allah. Dan lebih beruntung lagi mereka yang senantiasa bersyukur dengan besar kecilnya pemberian suami. Maka terimalah dengan lapang dada, jangan memberatkan hidup dengan keinginan yang tidak akan pernah terpuaskan. Berterima kasihlah pada suami yang rela banting tulang, memilih bekerja tak peduli seletih apa mereka hanya supaya anak istrinya hidup dengan tenang. Berterima kasih dengan cara ikhlas menerima nafkah pemberian suami, jika memang terasa kurang maka perbanyaklah do’a supaya Allah melapangkan rizki suami. Dan jika sudah diberi kelapangan rizki, puaslah dengan itu saja. 

Percuma sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya di dapur aja. Capek-capek ngejar sarjana tapi gak bisa berkarir!

Setiap wanita kelak akan menjadi istri, dan seorang istri akan menjadi ibu, sebagai seorang ibu sudah sepatutnya berpendidikan. Jangan merasa sudah menyia-nyiakan gelar pendidikan yang telah susah payah diraih, sejatinya seorang ibu adalah madrasah pertama anak-anaknya. Untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang kuat, pintar dan soleh juga solehah memang sudah menjadi tugas para ibu, untuk itu seorang wanita sepatutnya berpendidikan tinggi. Bukan untuk bekerja di kantoran, bukan untuk pangkat tinggi, tapi untuk melahirkan generasi penerus terbaik.

Terkadang kita melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput di rumah. Jika begitu, luangkan waktu yang cukup untuk merawat rumput sendiri, rumput dari jenis apapun akan terlihat indah jika rajin dirawat. Jangan hanya bisanya mengagumi milik orang lain lalu lupa menjaga dan merawat milik sendiri. Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa pun, baik istri pun suami, melainkan hanya sarana berpendapat. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang pandai bersyukur dan rajin memperbaiki diri. 

Aamiin Allahumma Aamiin.

Credit: almanhaj

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s