Hujan bulan Juni

“Aku ingin kau bersiap-siap,” kata pria itu tegas, yang artinya tak boleh ada jawaban selain, iya. “Setengah jam lagi aku sampai di rumahmu.”

“Mau kemana?” tanya Inggit sembari melirik jam tangan sebelum sambungan telepon diputus.

“Makan siang.”

Berkali-kali mengecek penampilannya di cermin, Inggit masih merasa tak cukup puas. Ia hanya memakai make up seadanya, karena lelaki itu tak suka melihatnya dengan make up tebal. Kadang-kadang mengingat ucapannya yang lalu, mau tak mau Inggit masih sering tersenyum. Suatu waktu lelaki itu datang ke rumah secara mendadak, dan Inggit tidak memoles apapun di wajahnya bahkan bedak tabur sekalipun. Tapi dengan manis lelaki itu menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan berkata.

“Anaknya siapa sih ini? Cantik sekali.”

Sampai sekarang kenangan itu selalu membangkitkan rasa yang sama. Hatinya berbunga bahkan meskipun itu hanya sekedar ingatan semata. 

Kenangan, apakah kenangan jika rasanya masih persis sama?

Goetary

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s