Hujan bulan Juni

Pagi meretas, langit penuh oleh gurat cahaya keemasan. Mendadak dia sadar tak banyak waktu tersisa. Hari bagi kebersamaan yang hanya bisa mereka rapal sembunyi-sembunyi akan berakhir secepat kedipan mata.
Dan semua dibenarkan oleh gegasnya pria kekar itu merapikan diri. Inggit hanya bisa menyaksikan pemandangan di hadapannya dengan hati teriris.

“Aku tak ingin kamu pergi,” bisik Inggit menyerah oleh kegamangan dalam dirinya.

Mendengar rintihan itu, ia menoleh. Dengan senyum mengambang seakan mencemooh. “Belum lama kau bilang ingin berpisah denganku. Sekarang kau bilang tak ingin aku pulang?” tanyanya sarkastik. “Apa aku terlihat selucu itu, Inggit?”

Kembali diam-diam, Inggit menggigit lidahnya. Menelan air mata yang membayangi pandangan. Tapi ia tak kuasa meredam perihnya hati yang memuja lelaki milik orang lain. 

Inggit menarik napas dalam-dalam, membuat paru-parunya penuh hingga hampir meledak. Lalu menghembuskannya seiring luka yang kembali tertoreh di jantungnya.

Sambil memaksakan senyum, ia beranjak mendekat. Membantu lelaki itu memakai setelan jasnya, dan merapikan dasi, yang sebenarnya tak dibutuhkan. Karena lelaki itu tahu benar apa yang baik bagi dirinya, dan ia ahli dalam segala hal termasuk merapikan dasi. Terutama menjungkir balikkan perasaan wanita, yang rapuh seperti dirinya.

Goetary

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s