Hujan bulan Juni

​Inggit terjaga sesaat sebelum matahari terbangun dari tidur panjangnya. Langit masih cukup gelap di luar, namun garis-garis cahaya mulai menembus tirai tipis jendela kamar.
Semalaman sangat sulit baginya untuk bisa tidur, dan ketika akhirnya ia bisa memejamkan mata, itu pun hanya sebentar. Dengkuran halus pria di sampingnya tak mampu menenangkan tidurnya. 

Terpekur ia memandangi wajah tampan pria itu, merasakan dadanya mulai penuh oleh emosi. Betapa ia bahagia saat ini, namun juga sangat sedih. 

Inggit tak mau mengakui kegundahannya pada pria itu, ia tak ingin merusak semua kebahagiaan hanya dengan satu pernyataan egois yang sejak lama berputar-putar di otaknya sampai membuatnya pening bukan kepalang.

Melihat tenang lelaki itu dalam tidurnya, ia memutuskan untuk menikmati setiap jengkal napasnya. Inggit kembali masuk dalam selimut, menopangkan pipinya pada kedua tangan di atas bantal. Rasanya ingin sekali mencium bibir pria itu, namun ia terlalu takut membuatnya terbangun. Memandangi wajah rupawannya, tanpa sadar ia pulas seiring meningginya matahari di luar.

Goetary

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s