Hujan bulan Juni

“Mulai hari ini, jadilah seperti bunga mawar, indah namun berduri. Supaya hanya yang terbaik yang bisa memilikimu.”
“Apa selama ini aku masih kurang dingin, dan sekarang kau memintaku menanam duri? Kapan giliranku menemukan yang sejati, jika yang berusaha mendekat sudah lebih dulu kubuat menggigil hingga berdarah-darah?”

“Percayalah, yang memang ditakdirkan untukmu tak akan pernah pergi bagaimana pun caramu menolaknya. Hal tersebut juga bisa dijadikan tolok ukur keseriusan seseorang kepadamu, kan?”

Gadis itu mendesah berat, “aku bosan mendengar ungkapan itu, Bang. Aku ingin bukti, bukan cuma sekedar kata-kata. Aku sudah terlalu lelah meloncat dari hati yang satu ke hati yang lain. Aku ingin berhenti, entah pada siapa. Asal tak lagi perlu mencari-cari jawaban dari orang-orang yang datang silih berganti. Yang hanya datang kemudian pergi lagi.”

Lelaki di hadapannya tak menyahut. Namun di balik kopi yang disesapnya ia tersenyum simpul. “Tunggulah sebentar lagi. Biarkan semesta menyiapkan dirinya,” batinnya dalam kebisuan.

•Goetary •

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s