Hujan bulan Juni

bc29a2c1499eae8b960aeea0f18995ce

“Abang sudah pergi, Mbak.” Begitu isi pesan Blackberry Messengger-nya.

Pada hari itu, ketika kabar kematian kekasih hatinya sampai kepadanya. Dia tidak menangis. Dia pikir, itu terjadi karena ia memang sudah siap untuk merelakan. Hingga keesokan harinya. Ketika akhirnya, entah bagaimana, ia mulai tersadar. Bahwa kali ini, kepergian lelaki itu adalah untuk yang terakhir, dan untuk selamanya.

Kali terakhir lelaki itu pamit, ia masih bisa mendengar suaranya lewat sambungan telefon. Terakhir kali lelaki itu memutuskan hubungan karena marah padanya, ia masih bisa meminta maaf dan berbaikan. Terakhir kali mereka berpisah, lelaki itu masih sering menghubunginya walau tidak bisa bertemu muka.

Maka meskipun telah berkali-kali ditinggalkan. Ia yakin lelaki itu tidak pernah benar-benar pergi. Dan hari ini, setelah seharian kemarin berlalu biasa saja. Ketika Ia mulai memikirkannya. Ketika ia meresapi rasa kehilangan yang mulai mengosongkan hatinya. Tak kuasa air mata serta-merta memenuhi penglihatannya.

Tak hanya mengaburkan pandangan. Dadanya pun sesak oleh berbagai emosi yang datang dari berbagai arah menghujam tepat hingga ke jantungnya. Wanita itu megap-megap kehabisan napas oleh air mata yang memaksa tumpah keluar.

Sekuat tenaga, Ia memaksa dirinya untuk tetap tegar. “Sebentar lagi,” bisiknya pada diri sendiri. “Jangan menangis sekarang. Kumohon bertahanlah sebentar lagi.” Begitu ia mencoba memaksa air matanya supaya tidak tumpah, sepanjang perjalanan pulang ke rumah.

Ketika taksi berhenti tepat di depan rumahnya, ia membayar ongkos taksi dengan selembar uang lima puluh ribuan tanpa mengambil kembaliannya. Buru-buru ia keluar dari dalam taksi, sementara pengemudi yang keheranan melihat wanita itu begitu tergesa-gesa merasa bahagia dengan uang tip yang lebih banyak dari yang biasa ia dapatkan sehari-hari.

Wanita itu masuk ke rumah dalam keadaan setengah menangis. Masih berusaha menguatkan hatinya supaya tidak tersedu di pintu masuk. Tanpa menyalakan lampu rumah, Ia beringsut masuk ke dalam kamar.

Di pintu ia bersandar. Melepas bekapan tangannya yang tak kuasa ia gigit supaya isakannya tak terdengar. Lalu tangisnya pecah seketika. Tumpah ruah bagai hujan di musim kemarau.

Lelakinya sudah pergi. Kesadaran itu membuatnya kehilangan pegangan. Tak akan ada lagi suara tawa lelaki itu yang kerap membuatnya bahagia. Tak akan ada lagi orang yang dapat menjadi GPS dadakan saat ia tak tahu arah ketika menyetir sendirian di Ibu Kota. Kelak tak bisa lagi mendengar suaranya yang selalu menjadi penyemangat harinya.

Dia sendiri sekarang. Harapan yang ia jadikan pegangan selama dua bulan terakhir ini hilang sudah. Ia sendiri. Kekasihnya sudah pergi. Pergi untuk selamanya menghadap Ilahi. Hatinya perih bukan main, tapi dalam kegamangan yang melingkupinya sekarang, lirih ia berdo’a.

-Goetary-

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s