Hujan bulan Juni

Setahun telah berlalu sejak itu. Namun hujan di tahun kemarin selalu membekas di hatinya. Ketika itulah hidupnya yang dipenuhi kabut kebohongan terselamatkan untuk pertama kalinya. Pada hujan di penghujung Juni, ia akhirnya menyadari bahwa perlahan luka yang menoreh hati berangsur pulih.

Seseorang menggenggam jemarinya, erat, hangat, dan banyak cinta mengalir naik dari saraf-saraf di antara jari-jemarinya. Ia menoleh, memandang pria berkemeja hitam yang duduk di balik kemudi mobil di sisinya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya lelaki itu padanya.

Wanita itu kembali menoleh pada rintik hujan yang jatuh satu-persatu di kaca mobil. Melihat dunia dari balik embun yang tercipta dari dinginnya udara di luar. “Hujan ini mengingatkanku pada suatu ketika. Sore itu hujan turun lebih deras dari biasanya.”

Lelaki di sampingnya tersenyum. Ia menggenggam tangan wanita itu lebih rapat, “ketika aku tiba-tiba menelfonmu?”

Ia mengangguk, sembari membalas senyum kekasihnya.

“Aku akan selalu kembali, Sayang. Sejauh apapun aku pergi. Kau adalah rumah bagi jiwaku. Setiap pengembara memiliki jiwa, dan jiwa, membutuhkan rumah. Bagiku, kau adalah tempatku untuk pulang. Selalu begitu. Dulu, sekarang, dan selamanya.”

Sore itu sempurna bagi mereka. Tapi benarkah dewi kehidupan berpihak pada hubungan tersebut? Karena sesaat kemudian, satu di antara mereka kembali harus mempertanyakan.

-Goetary-

3 thoughts on “Hujan bulan Juni

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s