Teruntuk Nata yang telah lebih dulu kembali ke hadirat Ilahi.
Teruntuk hati yang tak pernah lepas dari cengkraman rindu.
Betapa penyesalan mengabaikanmu tak lagi ada gunanya.
Betapa air mata mengiring kepergianmu tak akan mampu mengubah kenyataan.
Aku tidak sedang berdiri melawan takdir.
Tidak juga menyerakkan kebencian pada semesta.
Karena aku sadar, kepergianmu yang lebih awal adalah bukti bahwa kematian itu nyata.
Tapi untuk sekali ini, Nata.
Aku ingin mengakui keegoisanku ketika bicara soal cinta.
Betapa aku lelah terus memberi, dan tak mendapatkan balasan darinya.
Betapa aku lelah mendoakan, sementara do’a itu tak sampai padamu.
Aku lelah menangisi keegoisanmu meninggalkanku tepat disaat aku begitu membutuhkanmu.
Lalu kembali seakan tak pernah pergi.
Seakan kata-kata yang menyakitkan darimu bisa dihapus oleh detik jam.
Namun terlepas dari semua itu, yang paling kusesali adalah.
Betapa egois diriku disaat-saat terakhir kita bicara.
Dan betapa jahat aku yang tak sedikit pun tersenyum saat kau melambai pergi. – with Nata

View on Path

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s