Semoga

image

Gadis itu termenung di atas sepeda motor, satu tangannya menggenggam erat pinggang sang pengemudi.
Angin menerpa wajah.
Dan untuk sekali ini ia tak berniat untuk bersembunyi di balik punggung kekasihnya.

Tidak seperti biasa.
Jalan pulang kali ini terasa begitu damai.
Banyak pikiran berkecamuk dalam benaknya.
Namun ia menikmatinya.

Besok mereka harus berpisah sekali lagi.
Namun tak seperti perpisahan yang pertama.
Kali ini tak dihiasi dengan air mata apalagi rasa galau.

Tak ada percakapan bagaimana mereka harus menjalani hari demi hari tanpa satu sama lain.
Tak lagi ada pelukan yang tak kuasa dilepaskan.
Hanya ada keheningan.

Dia sadar, hening tak selamanya hening.
Diam bukan berarti tak ada yang ingin diucapkan.

Sementara sang kekasih yang heran melihat tindak-tanduk si gadis berkali-kali bertanya.
“Ada apa? Kenapa diam saja?”
Akan tetapi kepala gadis itu sedang penuh dengan pikiran dan harapan
Hingga tak rela kedamaian tersebut terusik.

Jadi dia diam saja hingga sepeda motor berhenti di depan rumah.
Dalam keadaan harus berpisah.
Setelah mengecup punggung tangan kekasihnya, gadis itu berbalik.

Ia berjalan dengan pelan, hatinya berbisik lirih…

Apakah kita akan baik-baik saja?
Akankah perpisahan kali ini adalah yang terakhir bagi kita?

Sementara itu, sebuah suara serak melirih di antara hembusan angin.
Seolah mendengar suara hati wanitanya.
Ia menjawab, “Semoga…”

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s