Satu-Satunya Rumah

image

Aku melihat bekas air mata di wajahnya. Yakin ia pasti menangis semalaman.
Dalam hati aku bertanya, siapa yang memeluknya saat ia tersedu-sedu. Siapa yang menghapus air matanya saat ia menangis. Siapa yang menghiburnya waktu ia merasa terpuruk, yang menguatkannya ketika ia tak mampu berdiri karena kakinya yang mati rasa setelah lama bersimpuh.
Dan perasaan cemburu kembali merasukiku…
Aku sadar, kadang kala hal begini harus terjadi.
Hanya saja, aku tak rela.
Aku ingin menjadi orang pertama yang membagi kepedihannya, menjadi orang pertama tempatnya berkeluh kesah, menjadi orang pertama yang ia datangi saat sedih dan ingin menangis…
Aku… dengan egois, ingin menjadi satu-satunya rumah bagi dirinya.

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s