Once Upon A Time

Once Upon A Time

(REMIX from Painfully Loving You)

Author : Gita Oetary as Goetary

Cast : Kim Junsu, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Jung Yunho

Length : One Shoot

Genre : Shonen-Ai, Friendship, Family, Angst!

Rating : PG+13

Length : One Shoot

Inspirational Song : Danny Gokey – Will Not Say Goodbye, Sarah Bareilles – Breathe Again

 

-Ketika satu-satunya yang kau inginkan adalah hal yang paling menyakitimu-

***

Yuchun memandangi sosok lelaki yang kini tengah meliuk-liukan tubuhnya sesuai irama musik yang bergema di dalam studio tari tempat mereka biasa latihan dari sudut ruangan.

Ia senang sekali melihat lelaki itu yang menari dengan begitu baik. Wajahnya yang tampan, kulitnya yang berpeluh, napasnya yang tersengal selalu mampu membuat dadanya berdesir. Padahal ia tak tahu alasannya.

Alunan musik mencapai klimaks. Lelaki itu menyelesaikan tariannya dengan akhir yang mengagumkan. Pertama berputar seratus delapan puluh derajat sebanyak tiga kali, tangannya terbentang ke samping tubuhnya sementara ia menunduk dengan kaki yang di silangkan. Persis seperti orang yang baru saja menyelesaikan pertunjukan Opera.

Plok… Plok… Plok…

Tepukan tangan terdengar lantang di ruangan yang sepi itu. Suaranya bergema. Yuchun disana berdiri dengan kedua tangan saling beradu dengan senyum yang tersungging indah. “Brilliant!” serunya seakan takjub.

“Kau berlebihan Hyung,” sergah Junsu tak acuh.

Yuchun menyodorkan sebotol air mineral kepada Junsu yang langsung diteguk habis lelaki itu. “Thanks,” ujar Junsu seraya mengembalikan botol kosong kepada Yuchun.

Yuchun membuka penutup botol di tangannya dan meneguk udara. Ia meringis melihat Junsu yang terkikik geli kepadanya.

“Kau berharap kusisakan ya Hyung?” goda Junsu.

“Ish… aku juga haus!”

“Kemarilah…” Junsu mendekati Yuchun, menarik bahu lelaki itu. Menyandarkan tubuh mereka satu sama lain, hingga napas mulai tak beraturan.

Dengan susah payah Yuchun menelan ludah ketika Junsu perlahan mendekatkan kepalanya hingga sejajar dengannya.

Hyung…” bisik Junsu samar. Dengan nada suara yang ia buat-buat. Yang terdengar begitu seksi di telinga Yuchun. Sehingga melumpuhkan seluruh respon di dirinya. “Kau dehidrasi!” sambil berkata begitu Junsu melepas tubuh Yuchun, membuat pria itu tanpa sadar terjengkang ke belakang.

Yuchun memandangi Junsu frustasi namun tetap membisu.

Suara tawanya membahana. “Jangan berpikir terlalu jauh deh, Hyung!” ujar Junsu.

Tapi Yuchun tak merespon. Secercah rasa sakit timbul di sudut hatinya.

*

Dari jendela, Yuchun menyaksikan tetes demi tetes air turun deras dari langit. Membuat segala hal, sejauh mata memandang nampak basah dan layu. Ia menyandarkan kepalanya ke tembok.

“Hei! Ngapain disini?”

Yuchun terlonjak kaget . Ia memandang Junsu tanpa ekspresi. “Memangnya kenapa?” ketusnya.

“Ayo pulang.”

“Sebentar lagi, aku masih mau disini.”

Hyung…”

Yuchun kembali menatap Junsu, “kenapa?”

“Kutemani yah? Lagipula payungku juga hilang.” Junsu berjalan mendekat. Yuchun hanya mengangguk sekilas yang lalu disambut senyuman di wajah tampan Junsu.

Mereka duduk berdampingan, duduk bersandar di tembok dekat jendela.

“Dingin tidak?” tanya Yuchun tiba-tiba. Junsu mengangguk sekilas. “Mau pulang saja?”

“Masih hujan.”

“Kau bisa pakai payungku.”

Junsu secara tiba-tiba memandang Yuchun. Ia mendengus. “Kenapa gak bilang dari tadi sih Hyung?”

Yuchun terkikik geli. “Kau tidak menanyakannya.”

“Huh.”

Hening…

Yuchun menoleh keluar jendela lagi. Hujan mulai reda.

“Sudah berhenti,” ujarnya. “Ayo pulang.”

Yuchun baru saja bangun berdiri ketika Junsu tiba-tiba sudah menggenggam ujung sweeternya.

Junsu-a? Ada apa?”

“Sebentar lagi, Hyung. Sebentar saja lagi. Aku ingin disini dulu. Boleh temani aku kan?”

***

Malam datang lagi.

Dilangit New York yang gelap setelah sesore tadi diguyur hujan, bintang bahkan bisa dihitung dengan jari. Junsu menatap langit dari jendela kamarnya yang terbuka lebar. Suara dengkuran teman sekamarnya terdengar lembut dan beraturan. Satu-satunya suara di malam yang senyap selain bunyi detak jam.

Tak ada lagi yang ia lakukan selain menerawang jauh diantara udara yang saling berdesakan. Padahal dulu, saat Jejung masih ada. Ketika mereka masih berteman. Malam selalu terasa berlalu terlalu cepat, membuat mereka tak rela menyudahi kebersamaan. Dulu, Junsu hampir tak pernah melewati sehari saja tanpa Jejung.

Dulu…

Sudah berapa lamakah waktu berlalu?

Sampai ia tak sadar. Dulu itu kapan? Kapan terakhir kali ia bertemu Jejung? Melihat wajahnya yang berseri, senyumnya yang mengembang. Melihat matanya yang seolah selalu mengajaknya bicara. Gerakan tubuhnya, tawanya, aromanya. Kapan terakhir kali ia berbicara dengan Jejung? Mengobrol sepanjang malam atau membaca buku bersama dalam diam.

Kapan terakhir kali semua itu terjadi? Mengingat hal itu membuat dada Junsu berdesir pilu. Kembali menguak luka yang seharusnya masih tersembunyi rapat di hatinya. Kembali membuatnya rindu lelaki itu… Ia rindu Jejung.

 

-Flash Back-

Diluar hujan turun deras.

Dibawah payung berwarna hitam.

Di depan sebuah gedung bertingkat.

Junsu termenung.

Ia tak tahu mengapa ia datang kemari. Tadi seseorang menelponnya dan menyuruhnya kesini. Kata orang itu…

In the shadows of this haunted place

I will laugh, I will cry

Shake my fist at the sky

Junsu sebenarnya tak tahu mengapa ia kemari. Ke rumah sakit ini.

Semuanya terasa begitu menyesatkan. Bahkan perasaannya terasa seperti tempat asing yang tak pernah ia singgahi.

Junsu melangkah maju. Meski tak tahu untuk apa, ia berjalan kedepan. Melipat payungnya dan masuk melewati pintu geser otomatis. Udara di dalam ruangan itu langsung membuatnya menggigil.

Meskipun begitu, ia kembali berjalan. Tak perduli dengan baju dan celananya yang basah. Ia ingin tahu apa alasan sebenarnya ia datang kemari. Untuk apa ia kesini?

Di depan sebuah pintu sebagai akses masuk ruangan lain, seseorang yang ia kenali berdiri disana. Teman-teman dekatnya berkumpul di situ.

“Minnie?” panggil Junsu heran melihat Changmin yang beranjak menghampirinya. “Kau juga kemari?” tanya Junsu.

Changmin mengulum senyumannya. Ia meraih bahu Junsu dan memeluknya. Junsu masih bingung dengan apa yang terjadi. Tapi ia membiarkan Changmin memeluknya. Yang entah mengapa membuat hatinya terasa sedikit hangat.

Dari sudut matanya ia melihat sosok Yuchun yang duduk di dekat Yunho. Ia menatap Junsu seperti menyesali kehadirannya.

Sometimes the road just ends

It changes everything you’ve been

And all that’s left to be

Is empty, broken, lonely, hopin’

-End Of Flash Back-

 

Su-ie.

Bisik suara itu tiba-tiba menarik Junsu dari lamunannya. Membuat ia gelagapan mencari tahu siapa yang memanggilnya barusan.

Hyung…”

Junsu memutar kepalanya saat menyadari suara teman sekamarnya.

“Mengapa belum tidur?” tanya Changmin sambil mengucak matanya yang berat.

“Apa kau kedinginan? Maaf aku lupa menutup jendela.” Junsu berdiri, meraih gagang jendela ketika Changmin kembali buka suara.

“Aku tak apa. Tapi kenapa kau belum tidur Hyung?”

“Aku akan tidur sekarang,” ujar Junsu seraya beranjak menuju tempat tidurnya. Junsu menarik selimut sampai batas dada lalu mematikan lampu kecil di dekatnya. Seketika gelap menyelimuti.

“Tidurlah Su-ie…”

Junsu tersenyum mendengar suara itu. Hanya Jejung yang memanggilnya Su-ie. Sampai sekarang, sampai terakhir kali ia bertemu Jejung, lelaki itu memanggilnya seperti itu. Dengan suaranya yang manis. Dan senyumannya yang menyenangkan.

***

 

November, 2011

Dengan langkah gontai Junsu menerobos masuk kedalam sebuah ruangan. Disana. Ia melihat Jejung yang tengah terduduk lesu di samping ranjang kosong tempat ibunya berbaring sebelumnya.

Junsu mendekat. Ingin tahu apakah Jejung menangis.

Tapi ia terkejut ketika mendapati raut wajah Jejung yang penuh kebencian saat menatapnya. Dengan bibir bergetar Jejung berusaha tersenyum saat menyadari Junsu sedang mendekatinya.

“Jae Hyung, kau baik-baik saja?”

Jejung menggeleng. “Bagaimana mungkin Su…”

“Apa yang sebenarnya terjadi? Mana jasad ibumu?”

Tanpa memerdulikan pertanyaan Junsu, Jejung berkata “Aku akan menikah. Dengan orang yang kucintai.”

“Kau senang?” tanya Junsu.

Jejung tak bergeming, “apa aku harus senang?” Ia mendongak, dan disana, di dalam matanya yang biasanya berbinar saat ia menatap Junsu, kini tersimpan seluruh kesedihan yang juga dirasakan Junsu.

“Kalau kau mencintainya, Hyung. Maka kau harus senang.”

“Kata Omma, lebih baik menikah dengannya ketimbang terus bersamamu Su. Karena ayahmu telah membunuh ayahku.”

Junsu termangu. Jejung kembali mengungkit luka lama. Mengapa selalu ayahnya yang disalahkan? Mengapa ia yang harus menanggung dosa ayahnya? “Memang lebih baik, Jae Hyung.”

Matanya yang berkaca-kaca berkilat ketika kembali menatap Junsu. Junsu yang sudah ia lukai. “Maafkan aku Su. Aku tahu aku sudah berjanji tak akan mengungkit masalah ini lagi. Aku hanya…”

“Tak apa,” potong Junsu cepat-cepat. “Memang lebih baik begini.”

Sama seperti ketika ia datang. Tanpa tahu alasannya. Junsu beranjak pergi, sekali lagi tanpa tahu untuk apa. Padahal, bukankah Jejung membutuhkannya? Tapi, disana sudah ada Yunho. Jadi ia tak punya alasan apa-apa lagi untuk tinggal lebih lama.

Namun belum sempat ia meraih pintu kamar rawat yang tertutup langkahnya berhenti seketika. Ketika ia menoleh Jejung segera menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Junsu.

Jejung memeluknya erat-erat. “Aku tak ingin kau pergi, Su-ie.”

***

 

January, 2012

Satu demi satu petikan dawai gitar mulai melantunkan nada yang terdengar utuh. Saling sahut menyahut. Sesuai gerakannya yang menggetarkan lelaki itu perlahan mulai menyanyikan lirik lagu dikepalanya. Rangkaian kata yang selama ini membekap hatinya dalam gelap yang menyiksa mengalir keluar.

 

Car is parked, bags are packed, but what kind of heart doesn’t look back?

At the comfortable glowth from the porch, the one I will still call yours

All those words came undone and now I’m not the only one

Facing the ghosts that decide if the fire inside still burns

 

All I have, all I need, is the air I would kill to breathe

Holds my love in his hands, still I’m searching for something

Out of breath I am left hoping someday I’ll breathe again

I’ll breathe again

 

Jejung nampak tercengang. Bukan karena permainan gitar Junsu yang begitu apik. Bukan karena petikan gitarnya begitu merdu. Bukan juga karena suara Junsu yang terdengar begitu cocok dengan tiap nada. Tapi karena ia tahu, Junsu sedang menyampaikan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang selama ini tak pernah bisa ia utarakan.

 

Open up next to you and my secrets become your truth

And the distance between that was sheltering me comes in full view

Hang my head, break my heart, built from all I have torn apart

And my burden to bear is a love I can’t carry anymore

 

All I have, all I need, is the air I would kill to breathe

Hold my love in his hands, still I’m searching for something

Out of breath, I am left hoping someday I’ll breathe again

 

Mata Jejung berkaca-kaca. Hatinya tercabik-cabik. Ia ingin sekali bisa berlari kearah Junsu. Dan memeluknya. Membisikkan kata-kata cinta di telinga Junsu. Mencium pipinya, bibirnya, lehernya.

Tapi ia tak pernah bisa berbuat apa-apa.

Meskipun ia tahu, di dalam sana. Di dasar hati Junsu, lelaki itu pasti menangis, seperti hari itu. Ketika dengan terpaksa ia membohonginya dengan berkata ia mencintai orang lain.

 

It hurts to be here

I only wanted love from you

It hurts to be here

What am I gonna do?

 

All I have, all I need, is the air I would kill to breathe

Holds my love in his hands, still I’m searching

All I have, all I need, is the air I would kill to breathe

Holds my love in his hands, still I’m searching for something

Out of breath, I am left hoping someday I’ll breathe again

I’ll breathe again

 

Tiba-tiba saja tepukan tangan membahana diseluruh ruangan. Para tamu undangan yang datang dengan baju dan tatanan indah berbisik dengan nada memuji, mengira Junsu memainkan lagu itu dengan senang hati sehingga mereka ikut bahagia. Karena pada kenyataannya tak ada seorang pun yang benar-benar mengerti maksud lagu tersebut.

Jejung mengerjapkan matanya yang basah berkali-kali sebelum akhirnya ia dan Junsu saling bertatapan. Waktu yang hanya sedetik itu. Diantara detak jam yang saling berdesakan mereka berdua seakan terhisap pada satu titik masa yang tak bergerak.

Junsu menatapnya tanpa ekspresi. Tapi toh Jejung tak membutuhkan apa-apa untuk mengetahui isi hati Junsu. Mereka berdua tak perlu saling berucap satu sama lain untuk mengerti apa yang sedang mereka rasakan. Hanya perlu seperti ini.

Jejung tersentak ketika seseorang menggenggam erat tangannya. Ia menoleh kesamping dan melihat senyum yang terukir indah di wajah Yunho sedang ditujukan padanya. Saat itu, Jejung sadar dimana posisinya. Ia balas tersenyum tapi lalu kembali menoleh ditempat Junsu tadi berdiri. Dan lelaki itu telah lenyap.

Jungie,” bisik Yunho ceria. Jejung menatapnya dan Yunho kembali melemparkan senyuman paling indah yang ia punya. “Aku cinta padamu.”

Deg.

Jejung terpaku untuk beberapa saat. Mengapa hatinya pilu ketika mendengar ucapan pria itu? Apa yang salah?

“Apa yang salah?”

“Eh?”

Boo Jae kau dari tadi diam saja, apa ada sesuatu yang salah?” tanya Yunho penuh perhatian.

Jejung menggeleng. “Tak ada, Yun…”

“Panggil aku yobo.”

“Apa?”

“Aku kan sudah resmi menjadi suamimu, kau seharusnya memanggilku dengan sebutan itu, yobo…”

Tak ada satu kata pun yang bisa terujar dari bibir Jejung. Ia merenung dalam diam. Bukan untuk ucapan Yunho barusan. Bukan juga karena ia tak suka mendengar kenyataan yang selalu ingin ia ingkari. Tapi karena sekarang ia sadar. Tak akan ada lagi jalan untuk dirinya kembali ke masa silam. Semuanya sudah berakhir disini. Dan ia tak bisa berbuat apa-apa.

 

-Flash Back-

“Aku mencintai orang lain, Omma…” bisik Jejung terluka.

Wanita setengah baya yang kini tengah berbaring di atas ranjang berwarna putih tersebut tersenyum lembut, “bukankah kau dulu sangat menyukai Yunho, Jejunga? Bahkan kau bilang ingin menikah dengannya suatu saat nanti. Sekarang Omma mengabulkan permintaanmu…”

“Itu dulu, Omma. Sekarang tidak lagi.” Jejung memandang wajah ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin sekali menolak. Tapi bagaimana caranya supaya tak menyakiti hati ibunya?

“Kalau begitu kau bisa belajar mencintainya lagi. Yunho adalah pria yang sangat baik dan lucu. Saat kau bersamanya dulu kau juga seperti itu kan? Apa dia yang membuatmu berubah, Jejunga?”

“Tidak!” Jejung menggeleng tegas. “Junsu tidak membuatku berubah sama sekali!”

“Jadi Kim Junsu yang kau sukai? Anak dari orang yang telah membunuh Ayahmu?”

Mendengar itu. Jejung mendesis pilu. “Junsu tidak bersalah, Omma!”

“Tapi ayahnya telah membunuh suamiku, Jejung. Ayahnya telah membunuh ayahmu!”

Kini, bukankah tak ada lagi hal yang bisa ia kendalikan? Selama ini ibunya menganggap Ayah Junsu, yang tidak mau membantu hutang keluarga Jejung, meskipun mereka bersahabat, sebagai pembunuh ayahnya. Karena hal itulah yang membuat ayahnya bunuh diri. Dulu, dia juga sangat membenci Junsu. Tapi, tak ada satu hal pun yang  bisa membuat ia dan Junsu bermusuhan. Ia selalu membutuhkan lelaki itu lebih dari apapun.

“Mengapa kalian melakukan hal ini kepadaku, Omma?”

“Karena, Omma tak ingin kau sendirian saat Omma tak ada.”

Air mata jatuh di pipinya. “Apa maksudmu, Omma?”

Wanita itu mengangkat tangannya, membentangkannya lebar-lebar. Jejung bergegas menghampirinya dan memeluk wanita itu. “Maafkan Omma. Omma tahu kau sangat menyukai Junsu. Tapi, hanya kepada mereka kami mempercayakanmu Jejunga. Lagipula ini adalah keinginan ayahmu sebelum ia meninggal. Lakukanlah untuk kami nak.”

Jejung tak menjawab. Tapi perlahan air mata jatuh lagi di pipinya.

-End Of Flash Back-

 

Junsu membiarkan rambutnya dipermainkan angin yang berhembus di atas atap gedung resepsi. Sekarang memang sudah musim panas, tapi pada malam seperti ini, udara masih terasa dingin.

Junsu menoleh ketika suara pintu besi di belakangnya terdorong kebagian luar. Seseorang muncul dari sana. Junsu hanya tersenyum sekilas saat melihat bayangan itu perlahan menghampirinya.

“Apa kabar?” tanya orang itu.

Junsu bersikap acuh seraya berusaha menyembunyikan tangannya dibalik saku celana.

“Su-ie.”

Hanya dia yang memanggilnya begitu. Hanya dirinya. Tapi mengapa tiap kali ia mendengar nama itu disebut, hatinya seketika merasa perih?

“Maafkan aku.”

Junsu diam tak menjawab.

“Kau pasti marah padaku.”

Masih tak ada jawaban.

“Su-ie…”

“Jangan panggil aku seperti itu lagi,” ujar Junsu tiba-tiba.

Tapi Jejung tampak tak terganggu. Ada sesuatu di dalam hatinya yang lebih mengganggu ketimbang apapun.

“Kau tetap Suie-ku.”

Junsu menerawang. Ia ingin sekali bisa mengucapkan sesuatu. Membentak Jejung atau memukulnya. Apa saja. Asal ia tak terlihat seperti orang bodoh yang hanya bisa diam ketika Jejung melakukan apa yang ia suka.

“Aku cinta padamu, Su…” seperti ditampar Junsu menatap Jejung yang sedang tidak melihatnya. “Tapi kau harus berhenti mencintaiku.”

“Cih!”

Jejung memandangnya. Sambil tersenyum. Senyuman yang biasa. Yang hanya untuknya.

“Jangan memandangku seperti itu, Jae Hyung… Aku tahu kau punya rencana jahat.”

Jejung tertawa lepas mendengar lelucon Junsu yang tidak lucu seperti biasa. Membuat Junsu ikut-ikutan terkikik geli.

“Ahhh…” Jejung tiba-tiba mendesah. “Aku rindu sekali tertawa seperti ini. Kau tahu tidak Su?” Jejung menatap Junsu lekat-lekat. “Tanpamu, aku… Sebenarnya, aku hanya tertawa seperti ini saat bersamamu saja. Yah, hanya saat kau ada saja.”

Junsu tersenyum lembut. Perlahan ia beringsut. Membelai rambut Jejung. Gerakan itu mau tak mau membuat jantung mereka berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya.

“Aku ingin kau tetap tertawa seperti itu, walau aku tak ada,” bisik Junsu dengan suara serak. “Aku tak mau merebut kebahagiaanmu, Jae Hyung. Aku ingin kau bahagia. Walau tidak bersamaku lagi.”

Air mata perlahan jatuh di pipi Jejung. Sakit di dadanya kembali muncul.

“Jangan menangis.” Junsu menyeka satu-persatu air mata Jejung dan mengabaikan air matanya sendiri.

Tak butuh waktu lama buat Jejung untuk terisak. “Aku membutuhkanmu, Su…”

“Aku tahu.”

“Mengapa kita tak boleh bersama?”

“Kau yang paling tahu jawabannya Hyung.”

“Bawa aku pergi, Su. Kemana saja. Asal bersamamu. Kumohon…”

Mendengar ucapan Jejung membuat dada Junsu semakin perih. Sebenarnya, ia juga ingin melakukan hal itu. Ia juga ingin membawa Jejung pergi bersamanya. Meninggalkan semua orang yang mencintai mereka. Tapi, ia tak ingin bersikap seenaknya dan menghancurkan masa depan Jejung.

Lagipula, bukankah Jejung selalu bilang mencintai itu bukan berarti harus saling memiliki? Bukankah, cinta sejati akan tetap abadi meski jarak dan waktu memisahkan?

Junsu segera merengkuh Jejung kedalam dekapannya. Memeluknya seerat mungkin. Sekuat mungkin. Seolah dengan begitu perasaan mereka berdua bisa hancur berkeping-keping. Hingga tak akan tersisa sedikit pun. Hingga tak akan ada lagi hal-hal yang bisa menyakiti mereka dimasa depan.

Jika saat itu Yunho tidak tiba-tiba muncul, mungkin mereka berdua akan benar-benar lari dari sana. Meninggalkan pesta pernikahan Jejung dan Yunho lalu memulai dari awal. Tapi saat Yunho datang, Junsu sadar kalau ia belum tentu bisa membahagiakan Jejung.

Yunho tertegun. Ini bukan pemandangan yang sering dilihatnya. Junsu sedang memeluk Jejung erat sekali. Sementara tangisan Jejung terdengar jelas meskipun ia berdiri jauh dari mereka.

Jungie

“Yunho…”

“Sedang apa kalian?” tanya pria itu heran.

Jejung segera melepaskan pelukannya dan menyeka air mata di pipinya. Ia memandang Yunho was-was.

Yunho menoleh kearah Junsu yang sama dinginnya dengan saat ia bermain gitar untuk mereka tadi. “Kenapa kalian menangis?” tanya Yunho lagi.

“Aku akan pergi, Hyung. Tadi Jae Hyung langsung menangis membuat aku ikut-ikutan terharu…”

Yunho tersenyum, ia tahu benar kalau dua pria itu sudah seperti saudara kandung sejak kecil. “Kau mau kemana, Junsu?”

“Aku akan ke New York. Bersama seorang teman.”

Yunho memandang Jejung iba. Jejung memang sudah tidak menangis lagi, tapi wajahnya masih nampak begitu sedih. “Jungie” ia meraih tangan Jejung dan menggenggamnya, “kau pasti sedih.”

“Kapan perginya?”

“Dua hari lagi.”

“Secepat itu? Tapi kan minggu depan kita semua mau pergi ke Hawaii. Kau tak mau ikut?”

Junsu menggeleng. “Tiketku sudah dipesan. Kapan-kapan saja.”

Yunho mengangguk. Ia tersenyum lagi tapi masih menyimpan sedikit rasa tak enak untuk Jejung. Yunho memandang Jejung namun lelaki itu masih belum bisa mengangkat kepalanya.

“Kita masuk yuk, Jae. Disini dingin sekali, nanti kau masuk angin.”

Sebelum berjalan ke pintu, Jejung sempat menengok kearah Junsu yang  masih mematung.

 

Lelaki itu bersembunyi di balik tembok. Membiarkan Jejung dan Yunho menghilang di balik anak-anak tangga menuju ruang resepsi. Sementara ia bergegas naik ke atap.

Junsu sedang memunggunginya. Lelaki itu, entah mengapa, bahkan punggungnya saja selalu terlihat sedih. Yuchun mendekatinya.

“Kenapa gak ikut turun?”

“Sebentar lagi.”

Angin masih berhembus. Ikut mempermainkan rambut Yuchun.

Hyung…”

“Hmm?”

“Aku mau pergi. Tawaran Ayahmu sebelumnya, apakah masih berlaku?”

Yuchun menatap Junsu tak percaya. Ia begitu senang mendengar Junsu mau mengambil kesempatan berkarir di luar negri. Yuchun sendiri tahu, cintanya pada Junsu bertepuk sebelah tangan. Jangankan dirinya, Yunho saja sudah tahu semuanya.

Tapi bukankah Yunho tidak menyerah untuk mendapatkan Jejung? Tidak bisakah ia juga mengambil jalan yang sama yang dilalui sahabatnya itu?

“Kau akan pergi bersamaku, apa tak masalah?”

Junsu mendesah. “Aku justru lega kalau pergi denganmu. Setidaknya kau bisa menjadi body guard kan Hyung?”

“Ya!!” Yuchun memukul bahu Junsu main-main dan mendelik tak suka.

Junsu kembali tertawa melihat reaksi lelaki itu.

***

 

 February, 2012

Dari jendela Yuchun menyaksikan tetes-tetes air turun deras dari langit. Membuat segala hal, sejauh mata memandang nampak basah dan layu. Ia menyandarkan kepalanya ke tembok.

Hyung! Ngapain disini?”

Yuchun terlonjak. Ia memandang Junsu tanpa ekspresi. “Memangnya kenapa?”

“Ayo pulang.”

“Sebentar lagi, aku masih mau disini.”

“Kutemani yah? Lagipula payungku juga hilang.” Junsu berjalan mendekat. Yuchun hanya mengangguk sekilas yang lalu disambut senyuman di wajah tampan Junsu.

Mereka duduk berdampingan, duduk bersandar di tembok dekat jendela.

“Dingin tidak?” tanya Yuchun tiba-tiba. Junsu mengangguk sekilas. “Mau pulang saja?”

“Masih hujan.”

“Kau bisa pakai payungku.”

Junsu secara tiba-tiba memandang Yuchun. Ia mendengus. “Kenapa gak bilang dari tadi sih?”

Yuchun terkikik geli. “Kau tidak menanyakannya.”

“Huh.”

Hening…

Yuchun memandang keluar jendela. Hujan mulai reda.

“Sudah berhenti,” ujarnya. “Ayo pulang.”

Yuchun baru saja bangun berdiri ketika Junsu tiba-tiba sudah menggenggam ujung sweeternya.

Junsu? Ada apa?”

“Sebentar lagi, Hyung. Sebentar saja lagi. Aku ingin disini dulu. Boleh temani aku kan?”

*

Di Seoul sedang hujan. Padahal bukan musim dingin. Sejak beberapa hari sepulang mereka dari Hawaii, Jejung hampir tidak pernah keluar kamar.

Dadanya sesak sekali. Bahkan tiap tarikan napasnya entah mengapa membuat hatinya semakin terluka. Jejung beranjak ke dekat jendela. Air hujan sudah membasahi seluruh balkon kamarnya. Tapi ia tak perduli.

Jejung membuka pintu geser dan seketika angin bertiup kearahnya. Membuat rambutnya yang panjang berayun dan matanya terpejam. Lalu tampias air hujan mengenainya.

Ia terus melangkah maju. Membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Sekali ini saja. Ia ingin melakukan sesuatu yang ia sukai. Sekali saja. Ia ingin mengenang keberadaan Junsu yang menjadi penyebab lumpuhnya seluruh gairah di hidupnya. Sekali saja. Sekali saja. Boleh?

Tiba-tiba Yunho sudah berada di dalam kamar sambil menjerit. “Jungie, apa yang kau lakukan? Nanti kau sakit.”

Tapi Jejung tidak mendengarkannya.

“Ya! Kim Jaejoong, cepat kembali kemari!”

Ketika ia berbalik. Ada air mata yang merembes dari sudut matanya yang lelah. Ia menatap Yunho dengan tatapan sendu. Seakan sudah terlalu banyak derita yang ia kecam.

Yunho mendekatinya. Tahu kalau Jejung tak mungkin kembali kalau hanya diteriaki seperti itu. “Jungie, kemarilah…”

Jejung menatap tangan Yunho. Memandang wajah tampan pria itu. Yang seharusnya ia cintai. Yang seharusnya ia sayangi. Dan sadar kalau satu-satunya yang ia butuhkan bukanlah kenyamanan hidup seperti yang ibunya janjikan. Bukanlah karir yang cemerlang di masa depan. Ia tak butuh semua itu. Sama sekali.

*

Air mata jatuh di pipi Junsu.

“Kenapa kau menangis, Junsu?”

“Tak apa…”

“Rindu Jejung?” tanya Yuchun. Junsu tak menjawab. “Itu wajar kok,” ujarnya.

Junsu membuang muka.

“Karena kau masih mencintainya. Jadi wajar jika sesekali merasa rindu.”

Junsu mendesah, “entahlah.”

“Katakan saja kalau kau memang merindukan Jejung. Kalau ingin menangis, menangis saja. Karena…”

Hyung!!” Junsu tiba-tiba membentak. Membuat Yuchun memandangnya tak mengerti. “Bisa diam ngga sih!?”

“Maaf…”

“Ah tidak, akulah yang minta maaf. Maaf sudah membentakmu, Hyung.”

“Tak apa, Junsu…”

“Entahlah, aku hanya merasa aneh saja ada orang yang sama cerewetnya dengan Jejung.”

Yuchun tertawa renyah mendengar ucapan Junsu. Disampingnya Junsu juga ikut-ikutan tertawa.

Padahal tak ada yang lucu. Tapi mereka tertawa. Hanya untuk mengisi kekosongan diantara mereka. Hanya untuk mencairkan suasana yang membeku diantara rinai hujan.

Karena tanpa seorang pun dari mereka sadari, di dalam sana. Jauh di lubuk hati masing-masing akan selalu ada kekosongan yang tak kentara.

 

-Flash Back-

“Kenapa kau selalu bisa melakukan apa saja dan aku tidak?” tanpa sengaja, perkataan itu terlontar. Begitu saja dan langsung menyakiti hatinya. Bukan karena ekspresi Jejung yang berubah sendu, bukan karena mimik bingung di wajah Jejung yang membuat keningnya bertaut. Tapi karena kesadaran dirinya yang mulai lumpuh. Karena perasaannya yang memaksa keluar.

Jejung seakan tak memerdulikan ucapan Junsu selanjutnya dan perlahan meraih pinggang lelaki itu, melingkarkan lengannya disana. Berlama-lama menghirup aroma keringat dari tubuh Junsu, yang entah mengapa, terasa bagai aroma cologne yang wangi.

Mereka memejamkan mata. Jejung mendekatkan kepalanya, meraih bibir Junsu yang gemetar akibat hasrat yang tertahan.

“Kita tak boleh begini lagi, Su.” Tiba-tiba kata-kata itu meluncur dari bibir yang barusan melumat bibir Junsu. Yang rasanya lebih menyakitkan ketimbang perkataannya sendiri. Yang telah meremas hatinya kuat-kuat.

“Kenapa?”

Jejung menggeleng, seolah-olah dirinya tak mengerti juga. Seolah-olah ia tak perduli. Tubuhnya beranjak menjauh. Membentang jarak yang tadi tak ada. Menghapus hasrat yang tadi bergelora.

“Kenapa?” tanya Junsu lagi, suaranya dalam memilukan. “Mengapa kau selalu saja merusak suasana?”

Jejung terkikik geli.

“Kau sedang bercanda yah?” geram Junsu tak suka.

Jejung menjawabnya dengan gelengan tegas. “Aku mencintai orang lain.”

Junsu dengan susah payah menelan ludah. Sesuatu mendesak dadanya. Tapi ia hanya bisa menatap Jejung, keningnya berkerut, mencari jawaban sebenarnya. “Kenapa kau jahat padaku Jae Hyung?”

-End Of Flash Back-

 

“Aku ingin pulang, Hyung…” ujar Junsu tiba-tiba.

Yuchun menoleh kearah Junsu yang mematung “ke Seoul?”

Tiba-tiba Junsu menatapnya. Membalas pandangan Yuchun.

“Kau kenapa?”

“Hatiku sakit, Hyung. Sakit sekali.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kau tak tahu.”

Yuchun menatap Junsu lekat-lekat. “Aku tahu, Junsu. Aku tahu bagaimana rasanya. Sesakit itu juga yang kurasakan sekarang.”

*

Jae, kumohon kembalilah.”

Jejung kembali mundur selangkah.

“Bahaya Jae!”

“Yunho…”

Yunho mengangkat kepalanya dan saat itu ia langsung bisa melihat air mata di pipi Jejung. “Jungie, apa aku sudah menyakitimu?

Jejung menggeleng. “Tidak, Yunho. Akulah yang sudah menyakitimu.”

Hujan semakin deras. Yunho dan Jejung sekarang sudah sama-sama basah kuyup. Lantai balkon juga licin. Sekali lagi Jejung mundur, ia bisa jatuh kebawah. Hanya ada pot-pot bunga disana dan itu sama sekali tak bisa menahan tubuh lelaki itu.

Jae… maafkan aku. Kumohon kembalilah…”

“Bagaimana caranya?”

Yunho melangkah maju. Ia ingin mencoba menggapai tubuh Jejung tapi lelaki itu mengelak.

“Jangan mendekat, kumohon.”

“Kau bisa jatuh, Jae.”

“Aku sudah lama mati, Yun. Sudah lama sekali.”

“Kau ingin aku berbuat apa?”

Jejung menggeleng dan tersenyum. “Bahagialah, Yunho. Kau pantas merasakannya.”

“Aku tak bisa tanpamu, Jungie.”

“Dan aku tak akan bahagia bersamamu Yun.”

Yunho termenung. Bukankah memang sejak awal pernikahannya dengan Jejung ia sudah tahu bakal begini jadinya? Salah satu dari mereka pasti akan terluka. Hanya saja ia tidak pernah berharap Jejung melakukan hal bodoh seperti ini.

Ia mencengkram rambutnya. Adakah keajaiban yang bisa memutar balikkan waktu? Jika waktu bisa kembali ke masa lalu. Ia akan menjadi orang pertama yang mendukung hubungan Jejung dan Junsu. Bahkan jika dibutuhkan, ia yang akan melindungi kedua orang itu. Ia yang akan melakukannya. Asal Jejung tetap hidup.

*

“Apa maksudmu, Hyung?”

Yuchun diam sesaat. Berusaha menyusun kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

“Memangnya siapa yang menyakitimu?” tanya Junsu lugu.

Lelaki itu menarik napas dalam. “Aku tahu aku tak berhak, Junsu. Tapi aku tak bisa mengendalikan perasaanku ketika ia hanya tertuju kepadamu.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Aku bisa menjadi pengganti Jejung. Aku bisa melakukan apa saja untukmu.”

Junsu membuang muka. “Tak ada seorangpun yang bisa menggantikannya. Kau sekalipun!”

Junsu beranjak berdiri dan berjalan menjauh saat Yuchun kembali mengutarakan sesuatu.

“Su…”

*

“Yunho, maafkan aku. Tolong sampaikan kepada kedua orang tuamu juga. Terima kasih untuk semuanya. Selamat tinggal…”

*

“Hanya Jejung Hyung yang boleh memanggilku seperti itu.”

*

Jae

*

“Aku cinta padamu Junsu. Tak bisakah memberiku kesempatan sekali ini saja?”

*

Su. Maaf!

Kau pasti marah padaku karena melakukan hal bodoh begini. Junsu, sahabatku, cintaku. Temanku yang  terbaik di dunia ini. Sahabat macam apa aku ini Su? Hari itu, aku tahu kau menangis. Kuat sekali, suaramu sampai bisa kudengar. Tangisanmu, membuat hatiku sedih.

Su, aku cinta padamu. Maafkan aku karena pergi dengan cara seperti ini. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Kau tak pantas di persalahkan. Karena dirimu juga berharga. Sama seperti orang lain, kau pun pantas bahagia.

Su… setelah aku pergi, jangan menangis lagi. Jangan terluka lagi. Karena air matamu membuat hatiku pilu, karena tiap kau bersedih aku juga ikut-ikutan sedih.

Aku cinta padamu. Bukan karena wajah kita mirip. Bukan karena orang-orang mengira kita bersaudara. Bukan juga karena kau sahabatku. Aku cinta padamu, karena aku mencintaimu. Kurasa, aku tak butuh alasan lain. Kuharap kau mengerti maksudku.

Aku cinta padamu. Kim Junsu-ku tersayang. Selamat tinggal…

*

“Maafkan aku, Hyung. Tapi aku tak akan bisa membalas perasaanmu.”

“Tak masalah. Aku tak perduli. Kau tak perlu membalas perasaanku. Kau tak perlu balik mencintaiku.”

Junsu memutar badannya. “Jadi apa yang kau inginkan dariku Hyung?”

“Hanya mengijinkanku untuk tinggal disisimu. Itu saja. Semua itu sudah cukup bagiku.”

*

Rasanya tak ada udara lagi yang tersisa untuknya. Semuanya telah lenyap dibasahi hujan. Membuat paru-parunya berkerut. Yunho menangis.

Apakah masih ada yang bisa ia lakukan selain itu?

Bahkan langit pun bersedia menjadi saksi hancurnya kehidupan mereka.

*

“Kau bisa menemukan orang lain yang jauh lebih baik dariku, Hyung.”

Yuchun menggeleng kuat-kuat. “Cuma kamu yang kuinginkan, Junsu. Cuma kamu.”

“Aku akan selalu mencintai Jejung Hyung.”

“Aku tak keberatan.”

“Terkadang, aku mungkin akan sangat merindukannya sehingga melupakan dirimu.”

“Itu juga aku tak keberatan.”

“Jejung Hyung akan selalu menjadi nomor satu bagiku.”

“Aku tahu, aku tahu….” Yuchun mengangguk berkali-kali. “Aku tahu, Junsu-a. Dan itu pun tak apa.”

“Kau pasti akan bosan padaku.”

Yuchun tersenyum lembut, “tak akan, Junsu.”

“Bagaimana jika aku yang merasa bosan?”

Ia menarik napas. “Maka aku bersedia untuk menghilang dari hidupmu, selama apapun yang kau inginkan. Sejauh apapun yang kau minta. Tapi kau harus ingat, aku tak akan pernah melakukannya jika kau tak memintanya.”

“Jae Hyung… jika aku bersedia berada disisi Yuchun, apa kau juga bahagia untukku? Jungie, tolong katakan kepadaku jika keputusan yang kuambil salah.”

Melihat Junsu yang tak bergeming, senyum Yuchun merekah. Ia berlari menuju Junsu. Memeluk tubuh pria itu erat-erat. Membiarkan Junsu merasakan degup jantungnya yang tak pernah bisa normal saat lelaki itu ada di sekitarnya. Membiarkan Junsu memahami isi hatinya tanpa perlu langsung ia utarakan.

Perlahan, Yuchun merasakan lengan Junsu terangkat. Awalnya ia mengira lelaki itu akan melepaskan pelukannya. Tapi salah satu tangannya mendarat di rambutnya, sementara yang lain melingkar di pinggang Yuchun. Junsu balas memeluk pria itu. Dan air mata mengalir seketika, karena Yuchun tahu, Junsu sudah siap membuka hatinya.

Aku cinta padamu, Jae Hyung…

Walau kita tak boleh bersama. Ijinkan aku tetap mencintaimu. Aku senang wajahku mirip denganmu. Aku senang aku bertemu denganmu sejak masih kecil. Dan, aku senang karena kau membalas perasaanku.

Hyung… aku cinta padamu dengan sepenuh hatiku. Kau percaya kan? Meskipun sekarang, aku juga memiliki kewajiban lain, yaitu membahagiakan pria ini. Tapi aku akan tetap mencintaimu, selalu, selamanya…

*The End*

 

Catatan Kaki Author :: Junsu ma Jejung mirip? Maksa bener deh yah~ tapi saya ngeliat Su-ie waktu Tarantallegra tuh bener2 cantik, dan mungkin lebih cantik dari Jungie… So, siapa lagi gitu yang bisa secantik itu di DB5K? Gak bener banget deh kalo Yunnie wkwkwkwk 😛

Please be good reader ^_^

 

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s