LAST YEAR // 03

One Last Year

Final Invitation

TVXQ

Entah sudah berapa lama Jejung berdiri termenung di depan pigura yang memajang wajah-wajah berlumur senyum bahagia yang masih hangat di benaknya itu. Air mata pelan-pelan merembes keluar dari kelopak matanya yang berkedip. Perih ia rasakan kini di sudut hatinya.
Waktu berjalan demikian lambat namun mampu membuatnya lupa betapa ia suka dengan kebahagiaan yang berjalan di masa lalu. Dan betapa ia merindukan segalanya.
Jejung melirik sekilas ke atas ranjang yang berselimut seprai putih, rapih dan tak tersentuh. Hatinya kembali di selimuti perasaan rindu yang mencekam. Yang membuatnya hampir kehabisan nafas. Dan kembali membuat air mata membanjir di wajah tampannya.
Tak sanggup menahan semua desakan emosi yang menyerangnya secara bertubi-tubi Jejung akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Melupakan kenangan yang hanya menyakitinya lebih dalam. Dan sekali lagi berusaha melepaskan Yunho yang sudah menoreh luka padanya.
Daun pintu apartement tersebut mengayun terbuka ke bagian dalam, serta merta membawa bayangan wajah seseorang dari dalam pigura. Muncul dalam wujud nyata. Wangi khas tubuh lelaki itu, hingga membuat Jejung akhirnya yakin sosok itu adalah Jung Yunho.
“Yunho?” Raut wajah Jejung menegang, nampak ketegangan yang sama dengan yang saat ini di lihatnya.
Mendengar suara lirih Jejung yang berbisik pelan seakan tak yakin dengan kehadirannya membuat lidah Yunho keluh. Dikerjapkannya matanya.
“Bagaimana kau kemari?” tanya Jejung, sekali lagi mencoba untuk memastikan penglihatannya. Tapi Yunho kembali diam, ekspresi tegang di wajahnya perlahan mencair dan berubah menjadi sebuah isyarat sementara tatapannya tetap lekat menatap Jejung.
Ia tak butuh sebuah penjelasan, tak butuh alasan kehadiran Yunho. Karena kehadiran lelaki itu yang membuka lebar luka di hatinya, meskipun perih Jejung tetap bersyukur. Menandakan lelaki itu, jauh di belahan dunia yang berbeda dengannya ternyata juga merindukannya. Begitu rindu padanya. Hingga membawanya kemari, saat ini.
Waktu berhenti berputar. Jejung bersandar nyaman di bidang dada Yunho, menikmati sensasi yang di alirkan oleh sentuhan pria itu.

* * *

“Yuchun?” sapa suara di sebrang sambungan telpon ceria.
“Oh, Hyung…”
“Bisa kemari sekarang?” tanya Jejung tak memedulikan suara sendu Yuchun yang tak bersemangat.
“Hmm, dimana?”
Jejung memberitahukan alamat sebuah tempat karaoke VIP yang disambut dengan acuh tak acuh oleh Yuchun. Lelaki itu juga sepertinya tak begitu menyadari perubahan suara Jejung yang secara tiba-tiba.
“Sudah tahu tempatnya?” tanya Jejung memastikan.
“Iya.”
“Datang sekarang yah, ajak Junsu juga.” Setelah berkata demikian Jejung langsung memutus sambungan telpon secara sepihak.
Yuchun memandang ponselnya tak semangat. “Apa lagi sih?” gumamnya seraya berbaring lagi di atas sofa ruang keluarga.
Sementara itu Junsu berusaha mempercepat larinya, melupakan mobil yang ia parkir tak begitu jauh dari restoran sushi favoritnya dan Changmin sejak dulu. Bulir-bulir peluh berjatuhan dari poninya yang sudah basah oleh keringat. Junsu hanya menyekanya dan kembali berlari, menuju apartement yang kini ia tinggali bersama Jejung dan Yuchun.
“Yuchun…!!” Pintu apartement di gedor-gedor oleh Junsu yang lupa kalau kuncinya ada di dalam mobil.
Dengan kaget dan jengkel Yuchun bangkit berjalan kearah pintu yang tak berhenti di ketuk dari luar. Ketika pintu akhirnya terbuka Junsu langsung saja berhambur memeluk lelaki itu.
“Ya! Junsu lepaskan aku!” teriak Yuchun sambil menggeliat dalam usaha melepaskan pelukan Junsu yang tiba-tiba. “Ada apa sih?” tanya Yuchun dongkol.
“Kau akan senang!!”
“Senang apanya? Kau membuatku jengkel setengah mati. Memangnya kemana kuncimu?”
“Lupakan itu!” cetus Junsu tak acuh. “Sekarang mau dengar tidak kabar bahagia yang kubawa?” tanya Junsu bertingkah.
“Katakan.” Yuchun memutar badan dan berjalan kearah dapur sementara Junsu membuntutinya dari belakang sambil menyeka sisa-sisa keringat di wajahnya.
“Mereka datang ke Jepang.”
“Siapa?”
“Yunho Hyung dan Changmin.”
Langkah Yuchun tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu di hatinya yang secara refleks mengacau sistem sarafnya saat mendengar nama Changmin di sebutkan. Apalagi mengingat sudah bertahun-tahun lamanya mereka tak bertemu. Kini nama itu kembali di ucapkan, tanpa perduli kepedihan yang sudah lama terperangkap di dasar hatinya. Yang selama ini ia sembunyikan sekuat tenaga.
“Chunie…” bisik Junsu lembut memanggil nama Yuchun. Di taruhnya sebelah lengan menyentuh pundak Yuchun ketika lelaki itu sama sekali tak bereaksi. Dan ketika itu pula Junsu sadar kalau Yuchun sedang menangis.
Junsu langsung membalik badan Yuchun yang bergetar kearahnya, memeluk lelaki itu. Yuchun menyandarkan kepalanya ke pundak Junsu, membiarkan Junsu memeluk tubuhnya sementara ia melepas semua beban yang memberatkan hatinya selama ini.
“Mau ikut denganku?” tanya Junsu ketika tangis Yuchun mereda.
Yuchun memandangnya dengan tatapan masih berkaca-kaca. Junsu memegang jemari lelaki itu, “tenang saja, dia masih sama dengan yang dulu.”
“Tapi bagaimana jika ia sudah melupakanku? Melupakan kita?” ujar Yuchun sarkastik.
“Aku akan membuatnya ingat,” canda Junsu. Melihat tawa di bibir Junsu, Yuchun tak kuasa menahan perasaan yang bergejolak di dadanya.
Perlahan Yuchun mendekatkan kepalanya dengan Junsu. Menyadari Yuchun akan menciumnya, tubuh Junsu seketika bergetar hebat. Apalagi saat pada akhirnya bibir mereka bertemu, Junsu tak kuasa menahan degup jantungnya yang liar.
Menyadari reaksi Junsu, Yuchun segera memeluk tubuh lelaki itu. Meredam getaran diantara mereka.
“Aku rindu padamu,” bisik Junsu dengan suara bergetar.
Yuchun menjawab, “aku cinta padamu, Su-ie. Maaf sudah membuatmu kesepian selama ini. Semua itu semata-mata karena aku masih tak kuasa menahan sakit di hatiku sudah meninggalkan mereka.”
“Tak apa, aku sudah memaafkanmu,” jawab Junsu yang disambut oleh Yuchun dengan ciuman di bibirnya.

* * *

Taksi berhenti di depan sebuah karaoke klub elit. Dengan tas tersampir di belakang bahunya yang lebar ia berjalan menaiki tiga anak tangga sebelum mencapai pintu yang di tunggui oleh dua orang penjaga. Seorang wanita langsung menyambut kedatangan Changmin denang senyum dan pandangan memuja yang terang-terangan.
Changmin diajak melewati koridor-koridor berlampu biru temaram sebelum berhenti di depan sebuah ruangan. Setelah memberitahu Changmin bahwa Yunho menunggunya di dalam sana, wanita itu meninggalkannya.
Perlahan pintu didorong oleh Changmin. Wangi khas ruangan kelas atas langsung menyambutnya yang kemudian disusul oleh harum masakan yang membuat dahinya mengernyit heran.
Ruangan itu gelap, tak ada seberkas cahayapun yang berani menyelinap. Changmin mulai merasa kalau ia salah masuk ruangan ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang.
“Sudah lapar belum?”
“Hyung? Yunho Hyung?”
Tek.
Lampu di dalam ruangan itu tiba-tiba menyala. Changmin mengerjapkan matanya berkali-kali akibat pendar-pendar cahaya yang mengelilinginya membuat matanya sakit karena silau.
“Lama tak bertemu,” ujar sebuah suara lagi. Kali ini Changmin mulai bisa mengenali suara tersebut dan matanya pun mulai terbiasa oleh cahaya lampu. Ia memutar kepala dan senyuman seseorang yang baru saja mengajaknya bicara membuat Changmin tak kuat berdiri saking syoknya.
“Sampai kapan kau mau berdiri disana?” Suara yang lain lagi. Changmin tak kuasa menahan perasaan haru, matanya berkaca-kaca. Ditekannya bibirnya dengan jari tangannya. Sementara tas yang tadi tersampir dibahunya kini terkulai bersama sebelah tangannya yang lain.
“Kami rindu padamu,” ujar Jejung kemudian.
Changmin sudah tak sanggup menahan air matanya lebih lama lagi. Akhirnya, ia menangis tersedu-sedu. Bahu bidangnya bergetar sementara ia menutup wajah dengan telapak tangan.
Junsu berjalan mendekati Changmin, menyingkap kedua tangan yang menutupi wajah. Di pandangnya wajah lelaki itu yang tampak kurus dari terakhir dilihatnya. “Kami rindu padamu, Minnie. Aku rindu padamu…”
Air mata menetes di pipi Junsu, bibirnya bergetar. Tiba-tiba saja Yuchun sudah berada dibelakangnya dan meraih tangan Changmin. “Aku juga, rindu padamu,” kata Yuchun.
Tiba-tiba tangis Changmin pecah. “Aku juga, aku juga rindu pada kalian Hyung… huhu uuu…”
Yunho mendekati mereka, meraih tangan-tangan mereka dan menutupnya dengan tangannya sendiri. Sekian detik ditatapnya wajah orang-orang itu. Yang sudah menaruh mimpi mereka bersamanya, membangunnya hingga besar. Orang-orang yang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Selama ini,” ujar Yunho dengan suara begetar, “maaf sudah membuat kalian menunggu,” kata Yunho. Air mata langsung meleleh di wajahnya. Gurat kesedihan terpancar jelas di setiap tetes air mata.

THE END

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s