LAST YEAR // 01

One Last Year
The Story Has Just Begun
YunJae

Setahun.
Dua tahun… Itu saja cukup untuk menjadikanmu berarti…
Dihatiku…
Dihatimu…

Yunho masih berdiri diam menatapi lampu kota yang berwarna-warni dari kaca transparant, masih di tempat yang sama ketika Jejung meninggalkannya.
Pikirannya berkecamuk oleh banyak hal dan terutama tentang kepergian Jejung yang mungkin untuk selamanya. Titik-titik air hujan menempel di kaca di depannya, samar-samar Yunho dapat melihat bayangannya sendiri.
Ia tidak terlihat gembira, kekosongan di belakangnya seakan dapat menelannya sewaktu-waktu. Yunho termenung memandangi pantulan dirinya, sesuatu yang hangat merembes membasahi pipinya dan bayangan dirinya menunjukkan kalau ia sedang menangis tersedu-sedu.

Like a fool without feelings, I refused to talk and I send you off
Leaving like this, how to go on everyday?
Then I cry silently and wordlessly
Cause I want to stay next to you

Yunho meratapi foto yang terpajang di tembok, di dalam foto itu wajahnya bersama keempat member lain terlihat sangat bahagia. Namun dari semua itu wajahnya dan Jejunglah yang paling senang.

I remember the days how we used to laugh

Yunho ingat foto itu dulu di ambil di apartement lama mereka saat pertama kali ia akhirnya mengutarakan perasaannya pada Jejung. Pertama kali dalam hidupnya ia mengambil sebuah keputusan dan memilih mendampingi Jejung tak perduli apapun pendapat orang lain.

I don’t need another person

“Karena aku tak butuh orang lain,” bisik Yunho. Seakan tersadar dari lamunan panjang Yunho menyambar mantelnya beserta kunci mobil dan telpon genggam sambil tergesa-gesa keluar dari apartement.

Even if time flows

Dengan kecepatan tinggi Yunho membawa mobilnya melaju keluar dari parkiran dan melesat di antara mobil-mobil lain.

Even if it’s too late

Dengan tidak sabar Yunho memencet klaksonnya berkali-kali saat mobil di depannya tak juga bergerak setelah lampu berubah hijau. Yunho menggosok tengkuk dan wajahnya, menyukai keputusan yang di ambilnya saat ini.
Tak berapa lama kemudian ia sampai di bandara, dengan lebih tergesa-gesa ia berlari ke loket tempat pemesanan tiket.
“Kapan penerbangan secepatnya ke Jepang?” tanya Yunho pada wanita cantik di depannya yang nampak terkesima melihat rambut Yunho yang berpeluh.
“Lima jam lagi,” ujar wanita itu dengan suara yang di buat-buat halus.
“Aku butuh secepatnya, ini keadaan mendesak,” kata Yunho lagi sedikit memaksa.
“Tapi pak, pesawat sebentar lagi akan lepas landas dan bagasi sudah di tutup. Anda tidak boleh…”
“Aku tidak bawa bagasi.”

Jepang,

Pesawat sudah lepas landas, di atas udara Yunho duduk dengan gelisah. Ia sudah yakin dengan keputusannya, tapi ia tak sabar dengan lamanya perjalanan yang harus  ia tempuh untuk sampai di Jepang tepat waktu.
Yunho melirik arloji yang melingkar anggun di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Yunho membaca intruksi keselamatan berkali-kali berusaha membuang waktu dengan bacaan tersebut.
Beberapa saat kemudian dari kaca jendela kabin Yunho dapat melihat pantulan cahaya berwarna-warni. Jantungnya seketika berdegup kenjang seribu kali lebih cepat. Ia meremas-remas jemarinya yang basah oleh keringat.

Di Jepang sedang musim salju, jalanan licin akibat salju yang mencair. Taksi berjalan stabil di atas aspal menuju alamat yang di ajukan Yunho pada supir taksi. Tak selang berapa lama taksi yang dinaikinya berhenti tepat di depan sebuah gedung apartement.
Setelah membayar ongkos taksi Yunho berjalan tenang masuk ke gedung tersebut. Beberapa security dan petugas parkir menyambutnya saat ia melangkah masuk kedepan elevator dengan kaca transparant.
Pintu lift terbuka perlahan, Yunho melangkah masuk dengan pasti ke dalam kotak kaca tersebut. Ia menekan tombol sembilan dan pintu lift kembali tertutup kemudian merangkak pelan menuju lantai atas.
Yunho berjalan di atas hamparan karpet beludru berwarna merah darah, bau harum yang tercium selama berada di koridor mengingatkannya betapa ia masih mengenali tempat itu dengan sangat baik.
Yunho berhenti di depan pintu yang terletak di ujung koridor, tangannya terulur untuk memencet bel pintu namun di urungnya lagi. Sekali lagi masih dengan ragu-ragu Yunho kembali mengulurkan tangannya.
Tapi belum sempat ia meraih bel pintu tersebut terbuka dari dalam. Seorang pria berstelan rapih nampak dari balik pintu yang terbuka lebar. Mereka saling memandang dalam beberapa detik sebelum kecanggungan berkembang-biak.
“Yunho?” tanya pria berjas itu nampak ragu.
Yunho mengerjapkan matanya, dadanya terasa sesak seakan di timpa beban ribuan kilo. Terlebih lagi menyadari kalau ia sudah sampai di tempat tujuannya tapi tak tahu harus berbuat apa.

Even if i say that i love you a thousand times
Even if i say it ten thousand times

“Jungie…”

I don’t need any words, just you

“Mengapa kau disini?” tanya pria berwajah cantik itu masih ragu dengan apa yang tengah di lihatnya.
Yunho diam saja, ekspresinya mengisyaratkan sesuatu yang hanya Jejung yang dapat mengerti. Waktu berjalan lambat, membiarkan mereka saling memandang selama mungkin.

In the moment i saw your eyes

Jejung seperti ingin menangis, dadanya di penuhi perasaan rindu yang bergejolak meminta untuk di bebaskan.

In the moment my heart was captured by you

Tanpa aba-aba Yunho menarik lengan Jejung dan merengkuh pria itu kedalam pelukannya. Menempelkan kepalanya ke dalam dadanya yang bidang. Jejung diam saja, matanya sempat terpejam untuk menikmati sentuhan itu.
“Yunnie…”

My cold lips keep calling for you

Yunho menjauhkan tubuh Jejung agar bisa menunduk dan mencium bibirnya yang sedikit terbuka. Bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Jejung membiarkan Yunho mendominasinya, membiarkan lidah Yunho menguasai mulutnya.

It’s just you
It’s just you
That’s right it’s only you

* * *

Yuchun duduk diam di ruang keluarga, televisi yang menyala di depannya memutar pertandingan bola yang tak berkesudahan dan menjadi satu-satunya hal yang bergerak di ruangan itu.

Tuhan itu penting. Karena ketika kesusahan membuat kita tak sanggup menatap langit,kita hanya perlu berdoa tanpa memikirkan siapa Tuhan kita sebenarnya.

“Chunie, kenapa Jejung hyung belum kembali juga? Katanya cuma mau mengambil sesuatu di apartementnya yang dulu?” tanya Junsu yang baru saja selesai mandi.
Pria yang ditanyai hanya mengangkat bahu tak acuh. Tiba-tiba suasana rumah kembali menyesakkan.

Mungkin Tuhan sudah menyesal, itu sebabnya perpisahan menjadi jalan tengah.

“Aku lapar…” keluh Junsu berusaha menembus tembok penghalang diantara mereka. Namun Yuchun tak bergeming, matanya menatap lurus televisi tanpa niat untuk benar-benar menonton.
Aku merindukanmu, Chunie… bisik Junsu dalam hati sambil menatap miris kearah Yuchun. Merasa kehadirannya bagai angin lalu. Semoga kau tahu.
Pria itu melangkah menuju pintu depan dan meraih mantel panjangnya yang tergantung di dekat pintu. Tanpa lupa mengambil dompet dan kunci mobil Junsu keluar dari rumah.
Suara pintu tertutup menjadi satu-satunya suara yang terdengar setelah Junsu menutup pintu. Yuchun yang merasa bosan pun telah mematikan televisi, kini ia sepenuhnya dihadapkan dengan kekosongan yang terlalu.

Like a fool without feelings, I refused to talk and I send you off
Leaving like this, how to go on everyday?

Yuchun sedang berusaha menata hatinya kembali saat ia memejamkan mata dan menarik napas panjang. Tanpa ia sadari bukan itu yang sebenarnya ia inginkan, melainkan kehadiran seseorang yang nampak begitu jauh untuk diraih.

Then I cry silently and wordlessly
Cause I want to stay next to you

Bulir-bulis kristal berjatuhan dari kelopak matanya yang tertutup rapat. Dalam diam Yuchun mencurahkan seluruh perasaan yang membelenggunya bersama air mata.

* * *

Jejung memeluk Yunho dengan kerinduan mendalam, tubuhnya mengisyaratkan kepemilikan Yunho seutuhnya. Ia ingin memberikan seluruh dirinya pada pria itu.
Yunho merasa sekujur tubuhnya panas. Sangat panas. Tubuhnya memancarkan gelombang yang berdaya isap, membuat Jejung tak kuasa mendekat. Jejung mendekap Yunho erat-erat, melingkarkan tangannya di pinggang Yunho.
Yunho balas memeluk Jejung. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Jejung yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Jejung yang penuh. Di pegangnya bokong itu dengan lembut, di elusnya, kemudian diremasnya dengan penuh hasrat.
Kejantanan mereka bereaksi. Keduanya saling merasakan hal itu. Desah napas mereka memburu, menggema di seluruh ruang apartement.
Yunho mendesah sambil menciumi rambut Jejung yang basah oleh keringat. Seluruh panca indra Jejung bergetar. Getaran yang merayap masuk kedalam tubuhnya secara halus dan pasti. Kemudian mencapai puncaknya ketika Yunho menjulurkan lidah semakin jauh kedalam mulutnya, lidah pria itu berputar-putar makin cepat sampai akhirnya Jejung merasakan tubuhnya seperti melayang-layang.
Jejung membelai bagian belakang kepala Yunho. Harum sampo Yunho, cologne-nya, aroma tubuhnya yang khas memenuhi penciuman Jejung. Membuatnya mabuk. Jejung menggigit kecil bibir Yunho, ia mengecap mint pasta gigi yang di pakai Yunho.
Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan Yunho membuat napas Jejung semakin memburu dan percaya diri.
Sambil mengangkat kepala, Yunho meletakkan tangannya di pundak Jejung. Mata Jejung yang sayu berbinar-binar menatapnya. Perlahan Yunho membuka risleting celana jinsnya dan menurunkannya.
Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Jejung, ia melemparkan celananya ke samping. Yunho berdiri telanjang bulat di depan Jejung. Mata Jejung beralih ketubuh Yunho.
Ia saja yang seorang pria merasa iri hati melihat bentuk tubuh Yunho. Bentuk tubuh yang tegap, ramping, lagi lentur. Bentuk dadanya bidang dan lebar, kejantanannya kini mengeras dan berdiri tegak mengacung kearahnya.
Yunho membuka kancing jas Jejung satu-persatu, lalu menyelipkan tangannya di balik kemeja putih Jejung dan di lepaskannya lembaran pakaian tersebut. Dengan gerakan yang lebih lincah Yunho dengan cepat menelanjangi Jejung.
“Ya Tuhan, lihat betapa cantiknya dirimu,” gumaman Yunho tak terdengar lagi ketika ia mendaratkan bibirnya di permukaan kulit Jejung yang polos. Sorot matanya memancarkan gairah yang meluap-luap dan seperti hendak menelan Jejung bulat-bulat.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Yunho segera membenamkan tubuhnya kedalam tubuh Jejung. Meresap segala hal yang dapat diraihnya dari Jejung, entah itu hati atau pun raga.

In the moment i saw your eyes
In that moment my heart was captured by you

Jejung mendesah berkali-kali mengimbangi gerakan naik-turun Yunho. Tubuhnya mengejang saat Yunho meremas kejantanannya, bibirnya kelu akibat sentuhan itu.
Yunho menggerakkan tangannya dengan ritme teratur, mempelajari setiap bagian tubuh Jejung dengan seksama. Seakan ingin menandai kepemilikan utuhnya terhadap tubuh pria itu.

Without regrets, i chose just you
It’s only you

“Yunnie… mmph,” Jejung menyerukan nama Yunho di antara tarikan napasnya yang pendek-pendek dan memburu.

My cold lips keep calling for you

“Oooh, Yunnie…”
Tak ada satupun dari mereka berdua yang merasa puas dengan malam itu,  percintaan mereka berulang lagi dan lagi hingga mereka akhirnya kelelahan dan jatuh tertidur dalam keadaan basah dan bahagia.

I don’t care whatever anyone says
Even if anyone curses, i only look at you

“Aku mencintaimu… Jungie,” bisik Yunho serak sesaat sebelum matanya benar-benar terpejam.

My cold lips keep calling for you

“Jungie…”
“Hmm?”
“Tak apa-apa membuat Yuchun dan Junsu menunggu?”

Cause i don’t need another person

“Biarkan saja… Nanti juga mereka mengerti.”

Just you…

“Aku juga mencintaimu, Jung Yunho.”

Let me be with you

*To Be Continue*

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s