[YunJae] More Than Yesterday

Pairing:: Jung Yunho & Kim Jaejoong

Author:: Gita Oetary

Length:: OneShoot

Genre:: Sad Romance

Disclaimer:: DON’T COPAS WITHOUT PERMISSION!! NO PLAGIAT!!

Because I can only look you, I’m sad

“Kupikir kau sudah meninggalkanku,” ujar Yunho setelah keheningan yang terlalu lama lewat di hadapan mereka. “Saat kau tak datang waktu janjian kita kemarin. Kupikir kau benar-benar sudah melupakanku. Aku sangat kecewa.”
Jejung mengangkat kepalanya. Wajahnya di banjiri air mata, namun ia bisa dengan jelas melihat ekspresi kecewa di muka Yunho.
“Aku sudah dengar tentang pernikahanmu dari Changmin.” Yunho menghampiri Jejung dan memegang bahunya, meminta perhatiannya. “Aku tahu kau akan menikah. Tapi, aku tak ingin kamu menjadi milik orang lain. Aku ingin kamu selalu bersamaku.”
Jejung menepis tangan Yunho yang bertengger di pundaknya. Memaksa kakinya untuk berdiri dan meninggalkan pria itu disana. Mungkin pergi tanpa penjelasan akan lebih baik. Mungkin bahkan seharusnya ia tak usah datang kemari. Hanya akan menambah sakit di hatinya.
“Hyung, kau mau kemana?”
“Aku harus pergi. Aku tak seharusnya bersamamu.”
Yunho segera meraih lengan Jejung, menarik lelaki itu ke sampingnya. “Ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba…”
“Aku akan menikah. Aku tak boleh bersamamu. Kau tahu itu.”
Yunho melingkarkan lengannya di pinggang Jejung. Memaksanya untuk tetap tinggal dan berbisik lembut di telinganya, “kau mencintaiku kan? Aku tahu kau mencintaiku.”
“Kau salah, Yunho. Aku tak pernah mencintaimu.”
“Lalu mengapa kau menangis? Kalau kau tak mencintaiku mengapa kau datang padaku?”
“Aku tidak menangis. Dan aku tidak datang padamu. Aku hanya…”
“Jangan berdusta lagi, kau boleh mencintaiku.”
Jejung melepas pelukan Yunho, berusaha melarikan diri dari belenggu yang di ciptakan nalurinya.
“Hyung, tunggu…”
Yunho berusaha mengejarnya tapi tiba-tiba tubuh Jejung ambruk di hadapannya.
“Hyung!!”

***

Yunho melangkahkan kakinya satu persatu dengan langkah-langkah berat. Saat memasuki kamar rawat bau cairan antiseptik langsung menyergap indra penciumannya.
Ruangan itu di dominasi warna putih yang jauh dari kesan hangat. Jendela besar menghiasi satu bagian dinding, hanya taman di bagian luarnya sajalah yang memberi sentuhan warna di dalam kamar tersebut.
Jejung tengah berbaring di atas ranjang besi bercat putih dengan selimut tebal membungkus sampai dadanya. Wajahnya masih sepucat terakhir kali Yunho melihatnya.
Menyadari kehadiran Yunho, Jejung memutar kepalanya sambil berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin. “Wajahmu terlihat seram,” candanya.
“Pernikahan itu. Semua bohong kan?”
Jejung diam sesaat kemudian memandang mata Yunho dengan berani. Ia menggeleng, “maafkan aku.”
“Jangan pergi. Aku cinta padamu.”
“Yunho…”
“Jika kamu memutuskan untuk tetap pergi, sebaiknya aku saja. Yang menghilang dari hadapanmu. Maafkan aku, Hyung. Tapi aku tak bisa melihatmu pergi begitu saja.”
Jejung diam saja. Menyaksikan punggung Yunho yang perlahan menjauh kemudian menghilang di balik pintu yang tertutup. Hatinya perih, sakit teriris sembilu. Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya, meskipun bertahan untuk tidak menangis tetap saja ia akhirnya terisak.

I’m always standing in the shadows
Crying with my face shadowed
I can’t even ask you to turn around
So again I cry…

***

Rasanya, aku sudah di khianati olehnya. Orang pertama yang pernah kucintai, menghianatiku. Hatiku, perih. Jiwaku hancur. Mungkin lebih baik jika aku meninggalkannya saja. Iya, itu pasti lebih bagus. Ujarnya dalam hati.
Yunho kembali menegak minuman beralkohol dalam genggamannya. Entah sudah gelas keberapa. Ketika kerasnya minuman itu tak mampu meredam sakit di hatinya ia langsung meneguk cairan tersebut dari botolnya.
Tapi air mata tak kunjung berhenti. Wajah Jejung kembali menghantuinya. Ia tak bisa melupakan lelaki itu, bahkan sekejap.
Kenapa? Kenapa kamu menyiksaku seperti ini? Bukankah kamu akan meninggalkanku juga pada akhirnya? Hyung, tolong. Kumohon bebaskan aku.

***

Dari ranjang rumah sakit, Jejung terkejut melihat sosok Yunho yang tampak segar dan tampan dengan senyum menghias di wajahnya kini berada di ambang pintu kamar.
“Kenapa…?”
“Aku datang untuk memastikan kau baik-baik saja. Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
“Kenapa kau datang kemari, Yunho?”
Yunho meraih jemari Jejung dengan tangannya, menggenggamnya lembut. Ekspresinya murung saat menatap Jejung, namun ia tersenyum. “Aku cinta padamu, Hyung.”
“Tidak! Jangan! Sebaiknya kau mencari orang lain saja. Jangan mencintaiku, Yunho. Kau tak boleh mencintaiku.” bisik Jejung lirih.
“Aku ingin lebih mencintaimu, hari demi hari semakin cinta padamu,” bisik Yunho sembari merapatkan genggaman tangannya. “Apakah begini kamu tidak bahagia?”
Jejung terharu. Ia bahagia. Mana mungkin tidak bahagia? Namun melihat wajah Yunho yang terluka, meski ia berkali-kali memastikan bahwa ia baik-baik saja tetap membuat Jejung sakit hati. Ia tak menyangka bisa sejauh ini mencintai pria itu. Semua ini jauh dari bayangannya semula.
“Hyung, aku mencintaimu.” Tubuh Jejung jatuh dalam pelukan Yunho. Tubuh pria itu hangat, menghangatkan hatinya yang beku. Air mata mengalir di wajahnya.

I don’t want to be behind you, I want to be beside you
So that’s why I’ll live

***

Yunho mengajak Jejung bermain di taman. Memberi makan burung-burung merpati. Nampak begitu bahagia. Saat menyadari napas Jejung yang mulai tak beraturan dan mengajaknya duduk di salah satu bangku taman yang kosong.
“Aku beli minuman dulu yah?”
“Yunho…”
“Hmm?”
“Aku cinta padamu.”
“Aku tahu.” Sehabis berkata demikian dengan tersenyum Yunho segera berjalan pergi. Mendekati kios minuman terdekat dan memesan coklat hangat untuk dua orang.
Sementara kondisi tubuh Jejung semakin memburuk. Wajahnya kian memucat. Bibirnya kian mengering. Dengan napas tersengal-sengal ia berbisik pada udara musim gugur yang menebarkan aroma kayu kering.
“Kalau aku pergi ke tempat Tuhan… Aku akan memohon padanya. Agar nanti kamu menemukan orang, yang akan selalu berada di sampingmu…”
Air mata mengalir dari sudut matanya yang memerah. “Yunho… aku cinta padamu…”

Even when I see you, I miss you
Even as were together, I’m lonely

Tommorow also, I’ll love you
More than yesterday, I’ll love you

“Hyung?”
Ketika Yunho kembali Jejung tampak tidak bergerak. Tak ada lagi suara napasnya yang satu-satu. Matanya terpejam erat, bibirnya seputih kulit wajahnya.
Tubuh Yunho membeku, sadar kalau Jejung-nya sudah pergi. Gelas yang berisi coklat hangat di kedua tangannya yang lemas terlepas dari genggamannya. Yunho segera berhambur menghampiri tubuh Jejung yang terduduk kaku.
“Hyung? Kenapa? Kenapa secepat ini? Kumohon, bukalah matamu. Sekali saja. Sekali lagi, tolong buka matamu.” Yunho mengecup kening Jejung lama sekali, memeluk erat tubuh lelaki itu. Membenamkan wajahnya yang dipenuhi air mata di lekuk leher Jejung.
Dan akhirnya ia berbisik pilu di samping telinga Jejung, berharap lelaki itu masih bisa mendengarnya untuk yang terakhir kali.
“Hyung, aku cinta padamu. Selamanya…”

Even without being able to show what’s in my heart
Again today, I love you, Only love you…

-The End-

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s