The Bed Side

THE BED SIDE

Pairing: Yunjae

Genre: Romance

Rating: PG

Author: Gita Oetary/Goetary21

x x x

“Apa kau tak ingin punya anak?” Tanya Jejung tiba-tiba di suatu sore.
“Ada apa?”
“Jawab saja.”
“Tentu saja aku mau, aku bahkan ingin punya banyak anak. Tapi itu sebelum menikah denganmu.”
“Apa maksudmu?”
“Sekarang dirimu saja sudah cukup.”
Jejung mendengus kesal. Ia tahu Yunho hanya sedang berusaha untuk membesarkan hatinya.
“Memangnya ada apa tiba-tiba menyinggung masalah anak?”
“Mungkin bagimu ini bukan masalah besar, tapi bagiku sebaliknya. Kita sudah menikah selama lima tahun tapi tidak juga di karuniai seorang bayi mungil, padahal aku sangat mendambakan perasaan menjadi seorang ibu.” Mata Jejung berkaca-kaca saat menyelesaikan kalimat terakhirnya. Melihat itu Yunho segera meraihnya ke dalam dekapan.
“Jangan memaksakan diri seperti ini. Kalau-kalau kau lupa bahwa kita berdua ini adalah laki-laki yang memang tidak punya rahim.” Yunho terkekeh kecil merasa geli dengan fakta yang seakan dilupakan oleh pasanganya itu.
“Tapi lain soal jika kita punya rahim kann?” Jejung tiba-tiba kembali bersemangat.
“Memangnya bisa dengan jalan oprasi?” Tanya Yunho heran.
“Bukan, melainkan pinjam rahim seorang wanita untuk melahirkan bayi kita.” Kata Jejung pasti.
“Kau sudah gila yah? Mana ada wanita yang mau meminjamkan rahimnya?”
“Ada kok. Aku sudah menemukannya.” Mata Jejung berbinar, “Yunie, hanya ini permintaanku. Maukah kau mengabulkannya?”
Yunho tak merespon, tepatnya belum bisa. Saat ini ia baru saja sedang mencerna arti maksud perkataan pasangan hidupnya yang sudah di sahkan dalam pernikahan itu. Tapi lama waktu berselang tak ada penjelasan logis yang bisa membuatnya mengerti apalagi memberi keputusan.

“Kau sudah gila!!” Yunho mulai frustasi dengan cercaan Jejung yang memaksanya untuk meniduri seorang wanita panggilan.
Di pojokan sofa Jejung terisak, tak suka dengan emosi Yunho yang meluap-luap.
“Apa tak masalah bagimu melihat suamimu tidur seranjang dengan wanita lain? Kau benar-benar sinting!!”
“Aku ingin punya anak. Aku tahu kau juga pasti menginginkannya.”
“Tapi tidak harus dengan cara seperti ini,” ujar Yunho gemas. “Kita bisa mengadopsi. Berapa banyak pun yang kau mau tak masalah. Kita dapat mengambil bayi-bayi yang baru lahir. Banyak cara untuk bisa punya anak tanpa harus melahirkannya sendiri boo.”
“Aku ingin bayi yang darahnya mengalir darahmu. Kalau kau tak mau melakukannya itu artinya kau tak sayang lagi padaku.”
Sehabis berkata begitu Jejung segera berhambur masuk kedalam kamar. Menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk tempat ia sering memadu kasih bersama Yunho sambil terisak-isak.
Yunho mengetuk pelan daun pintu yang terbuka dan segera menghampiri Jejung yang hanya memandangnya sekilas lalu. Ia memeluk tubuh ramping Jejung dari belakang. Menyandarkan kepala pria berwajah cantik itu di dadanya yang bidang.
“Aku akan melakukannya,” bisik Yunho. “Jika memang itu yang kau inginkan maka akan kulakukan. Jadi Jungie, kumohon. Berhentilah menangis.”
Jejung mendongak, perasaannya campur aduk antara bahagia dan tak rela, tapi ia merasa ini adalah keputusan yang benar jadi ia tersenyum. Mencium pipi Yunho sekilas sebelum kembali membenamkan kepalanya dalam pelukan Yunho.

9 bulan 14 hari kemudian
Jejung duduk di kursi tunggu dengan gelisah. Wajahnya pucat. Diremas-remas tangannya dalam usaha mempercepat waktu yang terasa bergulir lambat. Sudah lebih dari dua jam ia menunggu sendirian di depan pintu ruang bersalin. Merasa menyesal mengapa tadi ia memaksa suaminya masuk kedalam untuk menemani kelahiran anak pertama mereka sementara ia sendiri butuh ditemani.
Jejung tersentak berdiri dari duduknya saat melihat pintu geser ruang bersalin membuka. Yunho keluar dari dari dalam dengan wajah lelah.
Jejung menangis tanpa sadar. Ia memeluk tubuh Yunho tanpa terlebih dulu meminta jawaban. “Anak kita baik-baik saja kann?” Yunho mengangguk. “Anak kita?”
“Perempuan.” Mendengarnya Jejung menutup bibir dengan kedua tangannya. “Cantik, sepertimu,” lanjut Yunho tanpa bermaksud mebesarkan hati Jejung.
“Syukurlah kalau begitu. Lalu kapan kita di ijinkan untuk melihatnya?”
“Nanti saat Sooeun di pindahkan ke kamarnya kita bisa langsung kesana melihat mereka.”
Jejung hanya mengangguk tanpa memperhatikan Yunho. Ia penasaran dengan wujud malaikat mungil buah cinta suaminya. Tapi tiba-tiba ia merasa khawatir.

Dengan ditemani oleh Jung Yunho suaminya, Jejung melangkah pasti kedalam kamar rawat wanita bernama Sooeun yang sudah memberinya anak. Jantungnya berdegup kencang, di remasnya semakin erat jemari Yunho yang menggenggam tangannya. Ia mendongak untuk memandang Yunho, pria yang di tatapnya hanya tersenyum lalu mengecup keningnya singkat.
“Tenanglah,” bisik Yunho lembut. “Ia akan baik-baik saja.”
Ia siapa? Jerit batin Jejung. Siapa yang kau maksud? Bayi itu kah? Wanita itu kah? Batinnya lagi kesal.
Yunho mendahului menghampiri ranjang yang di tempati Sooeun yang saat ini sedang memeluk bayi milik Yunho dalam pelukannya.
Sesaat berlalu Jejung bagai terasing. Ia hanya bisa melihat Yunho yang kini sudah memeluk anaknya dengan tatapan miris. Ia cemburu. Sangat cemburu.
Memang semua ini idenya pada awalnya. Tapi ia merasa semua ini sudah terlalu jauh. Seakan Yunho sudah dapat menerima kehadiran wanita itu dalam hidupnya. Sementara ia, Kim Jaejoong mulai terlupakan.
Hatinya sakit. Ingin rasanya ia menangis keras-keras untuk menarik perhatian Yunho kepadanya.

Dua minggu berlalu lambat dan menyesakkan bagi Jejung. Anaknya sudah semakin besar dari hari kehari, begitu pula dengan kesehatan Sooeun yang berangsur-angsur membaik. Namun posisinya sebagai nyonya rumah seakan tak pernah bisa kembali lagi.
Yunho semakin terikat dengan anak gadisnya sementara anak itu juga terikat oleh ibu kandungnya.
Perlahan mimpi yang ia rajut di masa lalu perlahan memudar dan berubah menjadi mimpi buruk.
Saat pertama kali ide itu muncul dikepalanya ia tak pernah berpikir ibu sang bayi akan terlibat sejauh ini. Tapi pada kenyataannya justru berbeda.
Meskipun tahu kalau sudah terlambat untuk menyesali keadan, Jejung tetap tak tahan dengan situasi yang ia hadapi sekarang.
Sementara itu kecemburuan yang ia pendam tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Sehingga akhirnya Jejung sekali lagi di hadapkan dengan keputusan yang sulit.
Pagi-pagi sekali Jejung sudah bangun, membersihkan seluruh rumah dan menyiapkan sarapan pagi dengan menu lengkap. Sehabis melakukan semua pekerjaan rumah ia masuk ke dalam kamar, mandi dan berganti pakaian.
Yunho masih terlelap dengan kepala di atas sebelah tangan yang tertindih bantal. Wajah tampannya terlihat bercahaya, bibir tebalnya semerah buah jambu. Jejung pun tak kuasa menahan perasaan dan segera berhambur memeluk tubuh Yunho.

Di taman, seorang gadis kecil berlari lincah mengejar bola yang di lempar oleh ibunya. Setiap kali berhasil menangkap bola tersebut ia akan kembali kepada sang ibu dan di beri hadiah kecupan di kedua pipi. Suara tawa gadis kecil tersebut membahana renyah. Air mukanya yang polos penuh dengan kebahagiaan.
Sementara itu Jejung duduk di temani seorang wanita di salah satu bangku taman.
“Aku ingin kau pergi.” Ungkap Jejung setelah sekian lama memikirkan hal tersebut. “Tinggalkan kami, lupakan Yunji,” tegasnya.
“Aku mengerti, tapi…”
“Sejak setahun yang lalu kita sudah sepakat. Kau bahkan sudah menandatangani kesepakatan itu. Jangan harap kau bisa membatalkannya.”
“Bagaimanapun, aku adalah ibu Yunji…”
“Tapi Yunji juga anak suamiku.”
Wanita itu terisak. Sadar akan posisinya yang rapuh. Namun ia berharap sedikit saja hati Jejung mau terbuka untuknya, agar ia tak perlu benar-benar meninggalkan anak semata wayangnya itu.
“Aku akan pergi,” bisik Sooeun parau. “Tapi, bisakah sesekali aku datang menjenguknya?”
Jejung diam. Kembali menimbang keputusan di benaknya. Bisa saja kedatangan Sooeun lagi menjadi sebuah ancaman. Bagi dirinya, bagi Yunji dan bagi Yunho.
“Kumohon?”
“Selama kau berjanji tidak akan menampakkan wajahmu di depannya.”
“Aku janji.”

Malamnya Yunji terus-terusan menangis kehausan. Jejung dan Yunho mulai kelabakan saat gadis kecil itu menolak semua susu formula yang mereka berikan.
Yunho kelihatan lelah dan putus asa. Sementara Jejung tak bisa berhenti menangis melihat penderitaan anaknya. Jejung memeluk Yunji, berusaha menenangkan anak itu namun tak berhasil.
“Dasar bodoh!” geram Yunho. “Mengapa kau harus mengusir Sooeun pada saat seperti ini? Coba lihat apa yang sudah kau perbuat. Lalu bagaimana jika anak ini mati kehausan?!”
Jejung terenyak melihat reaksi Yunho yang di anggapnya berlebihan. Yang menyalahkan dirinya atas semua kejadian yang terjadi saat ini. Jejung ingin melawan, berargumen dengan suaminya. Namun ia tak merasa memiliki kekuatan lagi. Hatinya sekarang sakit, terlebih menyaksikan Yunji yang tak mau minum sedikit pun.
Akhirnya Jejung masuk kedalam kamar, mengambil ponsel dan menelpon Sooeun. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Bagaimanapun Yunji memang lebih membutuhkan ibu kandungnya ketimbang dirinya.
Tak berapa lama setelah  Sooeun tiba, Yunji dengan tenang meminum semua susu dari ibunya dan segera terlelap. Jejung merasa dirinya tak lagi di butuhkan dirumahnya sendiri. Dengan berat hati ia merapikan pakaiannya. Memasukkan semua kedalam koper.
Malam beranjak larut, Yunho terlelap di sofa ruang keluarga dengan tv yang menyala di depannya. Sooeun tak di ijinkan pulang jadi wanita itu tidur di kamar tamu bersama Yunji. Setelah yakin semua orang di rumah itu sudah tertidur, pelan-pelan Jejung menyeret kopernya bersamanya.
Tapi sebelum itu ia masuk ke kamar Sooeun dan mengecup pelan pipi buah hatinya. Jejung mematikan televisi dari remote kontrol yang tergeletak di samping Yunho. Di perhatikannya lama wajah tampan suaminya itu lekat-lekat. Sesak menghampiri dadanya. Menyumbat saluran pernafasannya ketika air mata mengalir deras di wajah cantik Jejung.
Dengan berat hati ia mengecup bibir Yunho berusaha untuk tak membangunkan pria itu. Sebuah amplop berwarna merah yang sejak tadi di bawanya di taruhnya di atas tangan Yunho yang terlipat. Jejung kemudian berjalan keluar rumah setelah melihat sekali lagi seluruh isi rumah dan sosok Yunho dari belakang. Seluruh lampu di rumah menjadi padam bersama pintu yang di tutup oleh Jejung.

Yunho meringis pilu saat membaca secarik surat yang di tinggalkan Jejung untukknya. Saat itu pagi masih belum menyapa, namun sesuatu dalam mimpinya memaksanya untuk segera bangun. Dan ketika tersadar Jejung sudah tak ada dimanapun di rumah itu. Hanya sepucuk surat yang di tinggalkannya untuk Yunho.
Lemari pakaian milik Jejung sudah kosong, pria itu membawa semua barang miliknya. Bahkan sikat giginya di dalam kamar mandi juga lenyap. Seakan ia ingin menghapuskan sisa-sisa tanda kehadiran dirinya di rumah itu. Mengira dengan begitu Yunho akan benar-benar merelakannya.
Yunho berlari keluar rumah. Masuk kedalam mobil dan segera menyalakannya. Di putarinya seluruh kompleks siapa tahu Jejung bermalam di salah satu rumah tetangga. Yunho bahkan menelpon semua kenalannya dan sahabat-sahabat Jejung, tak perduli meskipun hal tersebut dapat membuat mereka khawatir atau bahkan terganggu tidurnya.
Yang Yunho tahu saat ini ia harus bisa menemukan istrinya.
Tiga hari berlalu dan Yunho masih harus menghabiskan waktunya di luar untuk mencari keberadaan Jejung. Saat ini matahari sudah berada di puncak kepala. Yunho sudah mengelilingi seluruh kota Seoul, mencapai di setiap hotel dan motel bahkan di sudut-sudut gang yang sebenarnya mustahil di datangi oleh Jejung.
Namun sampai saat ini Jejung tak bisa ia temukan. Telpon genggamnya ia matikan. Jaringan GPS di ponsel dan mobilnya pun di matikan. Yunho sudah putus asa. Tapi bagaimanapun juga ia sangat merindukan Jejung, ia bosan harus makan di luar setiap hari, pulang kerumah hanya untuk tidur sebentar. Ia rindu dengan harum masakan Jejung, rindu dengan kecupannya setiap kali ia pulang kerumah.
Saking rindunya Yunho bahkan tak sadar dirinya menangis. Mengabaikan seluruh pasang mata yang menatapnya dengan bermacam-macam ekspresi. Ia ingin Jejung pulang, hatinya menjerit.

“Jungie, jangan pergi…” Yunho mengeluh. Memanggil nama Jejung berkali-kali. Namun tak ada jawaban. Tak pernah ada jawaban  yang ia terima.
Air mata semakin deras di wajahnya. Ia tak ingin Jejung pergi. Ia tak ingin kehilangan orang yang paling ia cintai di dunia ini. Hanya Jejung satu-satunya orang yang berarti untuknya. Ia bahkan rela menukar semua miliknya agar tetap bisa bersama dengan Jejung.
Sesuatu menyentuh keningnya. Hangat. Nyaman. Sensasi akrab yang dikenalnya.
Yunho membuka matanya yang lengket oleh air mata. Seulas senyum cerah menyambutnya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Yunho mengerjapkan matanya, melihat keseliling rumahnya yang lengang. Ia terbangun dengan tubuh berkeringat di sofa ruang keluarga.
“Yunnie, kau baik-baik saja?” suara lembut itu menyegarkan hatinya.
“Boo, aku tak ingin punya anak.” kata Yunho masih setengah sadar.
Jejung heran namun tetap tersenyum, “mengapa?” tanyanya.
“Dirimu saja sudah cukup. Aku tak ingin meminta apa-apa lagi. Aku mencintaimu.”
Jejung tertawa renyah. Sedikit rasa syukur di hatinya. Karena sebenarnya semalam ia juga bermimpi buruk, seorang wanita melahirkan anak Yunho dan setelah anak itu lahir justru membuat hubungannya dengan Yunho memburuk sampai-sampai harus berpisah.
Memikirkan hal itu benar-benar terjadi di dunia nyata membuat Jejung bergidik ngeri.
Di peluknya erat tubuh Yunho. Mengecup puncak kepalanya. Yunho meraih tengkuk Jejung, mencari bibirnya. Perlahan ciuman lembut itu memanas. Yunho menidurkan Jejung di atas sofa sementara ia menindih tubuh pria itu. Membelai, merengkuh, menjilat dengan bebas keseluruhan milik Jejung. Hingga akhirnya mereka pun siap untuk bercinta.

-The End-

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s