[Oneshoot] December Story

Tittle :: December Story

Author :: Gita Oetary
Character :: Lee Taemin/Kim Yeonmi/Choi Minho
Genre :: Romance/Straight
Disclaimer :: They belong to they self and God. But this fanfic is purely mine. So if you want to shared it please ask!!!

Prelude…
Gadis itu tersenyum memandang langit kelabu yang sudah seharian mengguyur kota New York. Di tengah-tengah lautan orang yang berteduh Yeonmi menjulurkan

telapak tangannya, membiarkan jemarinya dibasahi air hujan.
Sebuah cincin bertakhtah berlian berwarna putih melingkar anggun di jari manisnya. Pandangan gadis itu terpusat pada berlian mungil tersebut, pikirannya kembali melayang dihari yang sama tiga tahun yang lalu.

* * *
With you…

Di dalam bus yang lumayan penuh Taemin duduk di bangku paling belakang. Satu-persatu para penumpang turun di setiap halte semetara lelaki itu tak berniat untuk pulang. Mereka tiba di halte terakhir dan bus pun sudah kosong.
Samar-samar lelaki itu mendengar isakan tangis, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Tak ada penumpang lain di bus itu selain dirinya, takut-takut ia memandang sekelilingnya dan saat tak terduga ketika ternyata ada seorang wanita berambut panjang di sampingnya.
Taemin terlonjak kaget hingga terjatuh dari kursi. “Nuguseo?” tanyanya terbata. Gadis itu kemudian berpaling menatapnya. Gadis itu berwajah cantik namun kulitnya terlihat pucat. Bibirnya sedikit merekah menampakkan jejeran gigi putih yang terawat.
“Kau… hantu?!” antara percaya dan tidak akhirnya kata itu keluar juga dari bibirnya. Seakan menikmati ketakutan yang terpancar dari sepasang mata pria di depannya gadis itu mendekat.
Ia tersenyum lagi, kini senyumnya terlihat jauh lebih menakutkan. Tubuh Taemin gemetar, ia ingin lari namun posisinya saat itu tak memungkinkan dirinya untuk mundur lebih jauh. “Jangan takut padaku,” bisik gadis berambut panjang itu kembali tersenyum.
“Jangan….” pinta pria ketakutan itu.
“Weo??”
“Kumohon.”
Gadis itu merentangkan lengannya hingga hampir menyentuh wajah Taemin yang berpeluh. Namun sebelum ia benar-benar dapat menyentuhnya Taemin memberontak, “Jangan!!”
Tak terjadi apa-apa setelahnya, pelan-pelan ia membuka kelopak matanya dan ketakutan itu datang lagi. Gadis cantik di depannya diam mematung namun tatapan matanya terlihat menyelidik.
“Dasar penakut!” katanya. “Aku hanya mau mengambil 50sen ini,” katanya lagi kembali menjulurkan tangannya ke daun jendela yang tertutup dan meraih uang 50sen yang tergeletak disana.
“Kau manusia?” tanya Taemin masih penasaran.
Gadis itu kembali menatapnya, matanya yang bengkak sehabis menangis tadi nampak lucu. “Tentu saja, bodoh!” setelah berkata begitu ia berjalan keluar dari bus.
“Ahjussi,” teriak gadis itu pada supir bus. “Ini dimana?” tanyanya.
“Perhentian terakhir.”
“Bagaimana caraku pulang?” tanyanya lagi.
“Sudah tidak ada bus yang jalan, akan beroprasi jam 6 pagi besok.” Pria itu kemudian berjalan masuk ke dalam pos yang di dalamnya banyak supir bus yang lainnya.
Baru saja menapakkan kakinya, tiba-tiba ada air yang menetes serempak dari langit. Langit memang terlihat gelap dan tak berbintang, jadi wajar saja jika saat itu turun hujan. Gadis itu segera berlari mencari tempat untuk berlindung, tapi dia tak bisa menemukan tempat lain selain kotak telpon umum berwarna merah yang berdiri sendirian menantang hujan.

Kotak telpon itu terasa sesak menampung kedua tubuh mereka yang berhimpitan dan saling membelakangi. Yeonmi sempat kaget menemukan ternyata sudah ada seseorang yang terlebih dulu berlindung di kotak telpon tersebut, dia sempat ragu sesaat memikirkan jika mereka berdua harus berada dalam satu wadah yang sama. Tapi, belum selesai dia berfikir, lelaki itu sudah menariknya masuk ke dalam.
“Sepertinya hujan tak akan segera berhenti,” ujar Taemin berusaha menarik perhatian gadis yang membelakanginya. Karena tak mendapat respon sedikitpun ia berkata lagi, “menurutmu kita harus bermalam disini?”
“Dasar orang gila,” gumam gadis itu.
“Aku bukan orang gila,” jawab Taemin. Wajah gadis itu tiba-tiba memerah. “Hanya sedikit tak waras,” candanya lagi.
Merasa terganggu dengan keakraban yang ditawarkan pria tak dikenal itu Yeonmi buka suara, “jangan berdiri terlalu dekat denganku!”
“Nggak kok.”
“Menjauh sedikit,” sergah gadis itu lagi.
“Aku sudah hampir tidak bisa bernafas karena menjauhimu.”
“Apa maksudmu?”
“Pantatmu yang terlalu besar makanya sempit,” jawab Taemin masih tak acuh.
“Ya! Kau minta dipukul yah?”
Sementara mereka berdebat, pintu kotak telpon di ketuk-ketuk dari luar oleh seorang pria bersetelan jas kantoran. Dengan terpaksa mereka berdua pun membuka pintu dan segera berlari keluar, sedangkan lelaki dengan setelan jas di belakang masih mengomel-ngomel tak jelas.
Tubuh mereka sudah setengah kuyup, sambil tertawa riang mereka berteduh di bawah atap sebuah supermarket. Yeonmi yang menyadari bahwa kehangatan tersebut bukanlah miliknya sendiri, langsung menarik tangannya yang sedari tadi digenggam erat oleh Taemin. Sedang Taemin merasa sangat malu atas sikapnya tersebut, padahal mereka tidak saling mengenal.
“Bagaimana ini, hujan masih belum reda,” keluh Yeonmi sambil mengacungkan telapak tangannya menatap langit.
“Dimana rumahmu?” tanya Taemin.
“Weo?”
“Biar kupanggilkan taksi.”
“Memangnya tidak dengar kata ahjussi tadi? Malam begini sudah tak ada taksi.”
“Sudah jam berapa sekarang?” tanya Taemin.
Yeonmi melirik jam tangannya, “jamku rusak,” keluh gadis itu.
“Punyaku juga, mungkin kemasukan air,” kata Taemin.
“Berikan ponselmu,” pinta Yeonmi.
“Lupa bawa, pakai punyamu saja.”
“Jika aku punya mana mungkin meminjam milikmu,” jawab Yeonmi ketus.
“Pinjam saja dari dalam toko,” kata Taemin.
“Bisa saja, kalau toko itu belum tutup.”
“Memangnya sudah tutup? Kupikir hanya mati lampu saja.” Yeonmi menatap frustasi kearah pria di dekatnya.
“Bagaimana ini?” tanya Taemin sambil berjalan mondar-mandir.
“Jangan bergerak,” seru Yeonmi.
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan bergerak,” desak gadis itu lagi.
“Ada apa sih,” keluh Taemin menatap kakinya.
“Jangan dilihat!” paksa gadis itu lagi. “Pokoknya diam saja dulu!”
“Ya! Kau mau membuatku gila yah? Bilang saja ada apa?!”
“Sssssssssssssst…”
“Kau sedang menggodaku kan?” tanya Taemin cengengesan.
“Ada ular di kakimu.”
“Muo? Huaaaaa~” Taemin berlari terbirit-birit, ia melompat dari tempat mereka berteduh sementara hujan sama sekali tak berhenti.
Melihat itu Yeonmi justru tertawa terpingkal-pingkal melihat kebodohan pria asing tersebut.

In the end, you left me behind
Like something temporarily forgotten…

Burung berkicau, desiran angin memecah ombak. Taemin terbangun ketika matahari sudah berdiri kokoh di bagian timur laut, cahanyanya masuk melalui celah tirai jendela yang sedikit terungkap.
Taemin melihat ke sekelilingnya, ia berada di dalam ruangan yang kosong. Hanya ia sendiri. Semalam karena tak ada satupun kendaraan yang lewat dan pula hari sudah larut pria itu menyewa satu kamar kecil untuk ia dan gadis yang baru saja ditemuinya. Tapi sejak ia membuka mata gadis itu tak lagi terlihat.
Taemin keluar dari kamar tersebut dan air laut yang berombak langsung menyambutnya. Desisan kagum terdengar samar-samar dari bibirnya yang terkatup rapat. Sambil tersenyum ia melirik arloji di tangannya.
“Muoya?! Bukannya semalam rusak?” Taemin merasa bingung saat menyadari kalau ternyata jam tangannya baik-baik saja padahal semalam jarumnya sama sekali tak bergerak.
Pintu berdecit dan seorang wanita tua pemilik rumah muncul dari sana, Taemin menghampiri orang tua itu.
“Haramony, anda lihat gadis yang bersamaku tadi malam tidak?” tanya Taemin.
“Pagi-pagi sekali dia sudah pulang,” jawab orang tua itu. “Sarapan saja dulu anak muda, biar kusiapkan.”
“Anya, gwenchana haelmony. Aku harus buru-buru pulang,” Taemin membungkukkan tubuhnya di depan wanita tua itu dan bergegas ke halte bus.

* * *
Yeonmi duduk di bangku taman dengan seorang pria sambil memegang segelas kopi. Tatapannya menerawang.
“Sebaiknya kita jangan bertemu lagi,” ujar pria yang duduk disampingnya tiba-tiba membuka percakapan.
Gadis itu diam saja.
“Mianhe, Yeonmi ssi…”
“Weo?” bisik gadis itu terbata setelah sekian lama membisu.
“Aku akan segera menikah,” kata pria itu lagi.
“Dengan Yuri?” pertanyaan yang keluar dari mulut Yeonmi lebih tepat jika di bilang sebagai pernyataan.
“Aku sudah menolak keputusan ayahku, tapi hal itu justru membuatnya terkena stuk maka…”
“Minho ssi,” potong Yeonmi tak ingin mendengar penjelasan lebih banyak lagi. “Gwenchana,” ujar gadis itu sambil tersenyum. Yeonmi menaruh gelas kertas yang berisi kopi yang tak tersentuh di dekat kopi Minho dan berjalan pergi dari sana.
Setelah yakin Minho tak dapat melihatnya Yeonmi menghentikan langkahnya dan bersandar di batang pohon besar yang berdiri kokoh di sepanjang jalur pejalan kaki. Wajah gadis itu memucat, bibirnya bergetar.

The memory of your face

Mereka bertiga duduk di dalam sebuah kedai kecil, meminum arak serta bercengkrama sambil tertawa. Tak ada yang berhenti sampai salah satu dari mereka benar-benar mabuk.
Tak berselang lama, akhirnya salah satu teman Taemin limbung. “Aku akan mengantarnya pulang,” ucap salah satu temannya yang masih sanggup berdiri.
Taemin merasa kepalanya berputar karena terlalu banyak minum arak. Uang di sakunya tak lagi cukup untuk membayar taksi, karna uangnya sudah di berikannya untuk membayar taksi temannya. Maka dia berjalan ke halte bus yang jaraknya lumayan jauh.
Sayup-sayup pria itu mendengar suara tangisan, ia mencari-cari tempat suara itu berasal. Dan yang di lihatnya adalah seorang perempuan yang berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya di dalam lipatan tangannya.
“Chogyo,” tegur Taemin.
Ragu-ragu ia mendekati gadis yang sedang menangis tersebut. Gadis itu menengadah menatap lelaki di hadapannya, merasa bingung. Taemin terkejut melihat siapa gadis yang tengah menangis itu.
Waktu seakan berjalan lambat saat tatapan mereka beradu. Hembusan angin dingin membuat tengkuknya meremang.

“Minumlah, selagi masih hangat,” Taemin menyodorkan gelas kertas berisi kopi hangat pada gadis yang duduk di depannya. Kemudian mengambil tempat di sebelah gadis itu duduk.
“Maaf sudah merepotkanmu,” ujar Yeonmi malu-malu.
“Sama sekali tidak.”
“Gureom…” gadis itu terlihat ingin memutus tali penghalang diantara mereka. Namun suasana kaku yang melingkupi mereka sama sekali tak bisa di singkirkan.
“Ehm,” Taemin berdeham. Ia menggosok-gosokkan tangannya di celana. “Gwenchana?” tanyanya sambil salah tingkah.
Yeonmi mengangguk dan tali itu menegang lagi, kembali membangun pondasi diantara mereka.
“Ngomong-ngomong, maaf soal hari itu.”
“Untuk apa?”
“Karena sudah menganggapmu hantu,” goda Jinki. Yeonmi tertawa renyah dan tanpa sadar Taemin memperhatikannya.
Tiba-tiba suasana diantara mereka mencair, karena suara tawa itu.

* * *

Taemin sedang duduk sendirian di salah satu kursi Black Canyon Café, menyeruput kopinya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari koran yang tengah ia baca.
“Taemin ssi,” panggil seorang wanita.
Taemin mengangkat kepalanya dari koran yang tengah dibacanya dan tersenyum memandang gadis itu. Yeonmi mengenakan celana pendek dengan blush sutra berwarna krem. Rambutnya yang sedikit di bawah bahu di biarkan tergerai.
“Mianheo, sudah membuatmu menunggu,” ujar gadis itu merasa bersalah. Pria di depannya menggeleng sambil tetap mengukir senyum di wajah.
“Mau pesan apa?” Tanya Taemin kemudian.
“Anya, gwenchana.”
“Weo?”
“Ayo pergi.”
“Kemana?”
“Aku ingin ke pantai, waktu itu belum sempat bermain disana,” kata gadis itu lagi. Taemin meneguk habis kopi yang tersisa lalu meraih kunci motornya.

Hari menjelang malam dan langit bewarna kemerahan. Debur ombak mengayun-ngayun kapal nelayan yang bersandar di pesisir pantai. Taemin menyampirkan jaketnya di tubuh Yeonmi ketika gadis itu mulai bergidik karena dinginnya angin pantai.
“Sudah sore, sebaiknya kita pulang,” ajak Taemin saat melihat Yeonmi masih asyik mengumpulkan kerang-kerang.
Namun gadis itu tak mendengarnya, Taemin tersenyum lalu memutar tubuhnya untuk mencari kerang-kerang lain. Tapi seseorang yang tak dikenalnya sudah berdiri tepat di hadapannya dan terus-menerus menatapnya.

“Maaf mengganggu kalian,” Pria tak dikenal itu akhirnya buka mulut setelah ia dan Taemin berada agak jauh dari Yeonmi.
“Apa maumu?” tanya Taemin penasaran.
Pria itu menatap Yeonmi lama, perlahan namun pasti Taemin tahu apa yang pria itu inginkan dan siapa dia.
“Kurasa kau sudah mendengar dari Yeonmi kalau kekasihnya meninggalkannya untuk menikahi wanita lain,” ujar pria itu percaya diri. Taemin sama sekali tak berbicara, pria itu diam saja.
“Akulah pria itu, Choi Minho,” pria itu memperkenalkan diri tanpa berniat mengulur tangannya yang tersembunyi di dalam saku celananya.
“Jadi apa maumu?” Taemin mulai merasa gelisah, seakan tahu apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya.
“Aku ingin bertemu dengannya, bicara berdua saja.”
“Kalau hanya itu mengapa kau harus meminta ijinku segala?”
“Jangan salah paham,” cetus Minho sambil terkekeh kecil. “Aku tidak sedang meminta ijinmu, aku hanya ingin kau meninggalkan kami berdua.” Minho memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Yeonmi yang nampak kebingungan mencari Taemin.

Though i want to see you

“Taemin ssi,” Yeonmi meneriaki nama Taemin berkali-kali dan sebanyak itu pula tak ada sahutan.
“Yeonmi-a…”
Nada suara yang amat familiar itu memaksa Yeonmi untuk menghentikan langkahnya kemanapun ia ingin pergi. Sekian detik gadis itu berdiri diam di tempatnya tanpa ada niat untuk menyambut seseorang yang memanggilnya.
“Aku merindukanmu,” seru suara itu lagi.
Nampak jelas di wajahnya kalau gadis itu tak ingin khayalannya mengusik ketenangannya seperti yang sudah-sudah. Tapi suara itu terdengar amat jelas, tak ada alasan baginya untuk berpura-pura tidak mendengar.
“Kau mendengarku?”
Pelan-pelan gadis itu memutar badannya. Minho pria itu sedang berdiri dengan senyum tipis di wajahnya yang tampan.
“Bagaimana kau bisa berada di sini?” tanya gadis itu sangsi.
“Sudah kubilang aku merindukanmu.”
Spontan wajah gadis itu menunjukkan rasa tak sukanya. “Bukankah kita tak lagi punya hubungan apa-apa, Minho ssi?”
Minho tertegun tak percaya, gadis itu seolah membangun benteng pemisah diantara mereka yang tak mungkin ia tembus.
Minho melangkah maju dan berhenti tepat sebelum menyambar tubuh gadis itu. Ia memegang lengan atas Yeonmi dengan kedua tangan, terlihat angkuh dan menguasai.
“Aku sudah berpisah dengan Yuri,” jawab lelaki itu tegas. “Dan aku memilihmu.”
Mata gadis itu berkaca-kaca, entah perasaan apa yang tiba-tiba merasukinya. Meskipun dada dan tubuhnya bergetar, namun ia menyukai sensasi tersebut. Sensasi yang hanya di dapatnya dari Minho.
Minho menundukkan kepala, menyentuh bibir Yeonmi yang gemetar. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, membiarkan Minho menguasai dirinya tanpa perlawanan.

This feeling will last forever
Even if ceaceless rain falls on my heart alone
Eternally drenching it
I can’t say goodbye, cause i love you

Sementara itu, dari balik batang pohon besar yang rimbun seorang pria juga sedang menyaksikan adegan tersebut. Pria itu mengusap tengkuknya sambil menundukkan kepala. Perasaannya campur aduk, ia memutar tubuhnya memunggungi pantai yang berombak.
Dengan segenap perasaan sedih Taemin kembali ke mobilnya. Beberapa saat yang lalu, ketika pria yang tak dikenalnya tiba-tiba datang dan memintanya untuk pergi hatinya menolak. Setidaknya ia ingin memastikan, kepada siapa gadis itu menjatuhkan pilihan.

* * *

Taemin membuka pintu lemari gantung dan mengambil mie instant, guyuran air panas sesaat terdengar dari dispenser yang letaknya di samping lemari es.
Taemin berjalan ke ruang tengah, menyalakan televisi dari remote kontrol di pegangan kursi. Sambil menunggu mie mangkuknya siap di makan, Taemin menekan-nekan tombol chanel berkali-kali.
Tiba-tiba telpon genggamnya berbunyi. Ekspresinya datar saat membaca nama yang tertera di layar ponsel.
“Yobseyo?”
“Taemin ssi,” seru suara riang dari seberang. “Kau ada dimana?” tanya gadis itu.
“Dirumah.”
“Aku ingin mentraktirmu makan malam, kau sudah makan?”
Taemin lalu menatap mie instant di depannya, dan buru-buru menjawab “tidak.”

Trembles and dark…

Taemin berlari dengan mantel di tangannya. Ia berhenti tepat di depan sebuah restoran tempat Yeonmi sedang menunggunya.
Taemin menatap sosok cantik dari balik kaca restoran itu. Gadis itu nampak sedang tersenyum menikmati alunan merdu musik dari pemain band restorant tersebut, seketika perasaan kecewa merasuki dadanya. Ia seakan tahu dan cukup sadar untuk tak menganggap senyuman itu untuk dirinya.
Tiba-tiba Yeonmi menengok kearahnya, tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Sekali lagi gadis itu tersenyum, sekarang lebih riang. Gadis itu melambaikan tangannya mengisyaratkan pria itu untuk masuk kedalam. Taemin tersenyum membalas lambaian gadis itu dan berjalan kearah pintu.
“Aku sudah memesan makanan untuk kita berdua, kuharap kau tak keberatan,” ucap Yeonmi. Taemin mengangguk saja.
Tak berapa lama mereka duduk seorang pelayan berseragam hitam putih datang membawa pesanan mereka.
Dalam beberapa detik mereka diam saja, Yeonmi nampak termenung memandang makanan yang terletak di atas meja.

This world without you trembles in the dark

“Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Taemin.
“Nanti saja deh, hmm… baunya enak,” seru Yeonmi dengan kegembiraan yang dibuat-buat.
Setelah itu, mereka menyantap makanan yang tersedia tanpa bicara. Dalam diam pikiran-pikiran yang merasuk hati semakin menguasai detik demi detik.

Yeonmi dan Taemin duduk berdampingan di kursi penumpang. Hujan mulai turun rintik-rintik. Yeonmi memalingkan kepalanya, menatap jalur-jalur pejalan kaki di depan pertokoan yang masih di penuhi umat manusia.
Wajah Yeonmi yang nampak murung tercetak di kaca bus yang di tempeli tetesan air hujan.
“Yeonmi ssi, gwenchana?” Taemin nampak khawatir menyadari gadis di sampingnya sama sekali tak berbicara sejak mereka di restoran tadi.
Taksi berjalan pelan di atas aspal yang basah dan licin. Tanpa memerdulikan pria di sampingnya Yeonmo menekan tombol di daun pintunya dan jendela segera terbuka. Gadis itu menjulurkan tangannya keluar jendela, membiarkan tetesan air hujan membasahi telapak tangan itu.
“Di luar dingin, jangan mengulurkan tanganmu seperti itu,” tegur Taemin sambil menarik tangan Yeonmi dan menutup jendela.
“Hari itu,” Yeonmi berbisik pelan namun sanggup di dengar oleh pria yang duduk di dekatnya. “Mengapa kau pergi begitu saja?”
Merasa ucapannya tak di gubris sedikitpun, Yeonmi memalingkan kepalanya dan menatap Taemin. “Ya, aku sedang bertanya…”
“Mianhe,” Taemin menjawab dengan salah tingkah.
“Taemin ssi…”
“Hmm?”
“Minho mengajakku menikah.”
Itu kalimat terakhir yang dapat diraih oleh sistem pendengaran pria itu. Pikirannya kosong, hujan yang masih mengguyur Seoul tak lagi kedengaran suaranya. Bahkan ketika taksi berhenti pun ia masih tenggelam dalam dunianya sendiri.

Rain in my heart

“Aku pergi dulu,” ucap Taemin saat mereka sudah berada di atas teras rumah Yeonmi.
Gadis itu tersenyum sambil menyerahkan payung miliknya untuk di pakai Taemin.
“Terima kasih sudah mengantarku pulang.”
“Terima kasih sudah mentraktirku,” balas Taemin. Mereka kembali terdiam.

The tears won’t stop tonight

“Kalau begitu pergilah…”
“Selamat tinggal,” Taemin memutar tubuh memunggungi Yeonmi. Lelaki itu melangkah pergi, tapi sebelum itu ia kembali menatap gadis di depannya.
“Semoga kau bahagia…”

How can you just walk away from me
When all i can do is watch you leave

Ucapan terakhir pria itu bagai bumerang yang menghancurkan hati Yeonmi. Selama ini, sejak mereka pertama kali bertemu Taemin memang tak pernah sekalipun mengatakan sesuatu yang ia harapkan.
Tapi kata-katanya barusan adalah sebuah kepastian. Kepastian bahwa pria itu tak akan pernah dapat di raihnya. Terlalu sulit untuk bisa di jangkau.

Rain in my heart

“Pabooya,” bisik gadis itu di antara isak tangisnya.

The reason i can’t meet you

“Aku sudah menolaknya.”

Is because i don’t want to hear your goodbye

“Karenamu…”

So take a look at me now
There’s just an empty space
There’s nothing left here to remind me

Dengan hati teriris Yeonmi menyaksikan punggung Taemin yang berjalan menjauh, derai air mata mengaburkan pandangannya.

I wish i could just make your turn around
And see me cry

Taemin sudah berjalan terlalu jauh untuk bisa mendengar isakan tangis gadis itu. Lagi pula, hujan seakan menutupi kenyataan di sekitar mereka. Membiarkan mereka tersesat tanpa tahu apapun.

There’s just an empty space

Dalam perjalanannya Taemin merasakan nafasnya sesak. Udara yang dihirupnya terasa menyakitkan di dada, kedua kakinya gemetar. Tiba-tiba ia berhenti tepat sebelum dapat meraih taksi yang sudah berjalan menjauh.

So much i need to say to you

Kehampaan di bawah rinai hujan membuatnya ketakutan, malam ini. Ketika ia datang untuk memastikan isi hati gadis itu, ini adalah jawaban dari semua keraguannya selama ini. Kepastian paling jelas yang bisa di temuinya.

So many reasons why

Tanah becek yang di injaknya menjadi saksi betapa putus cinta adalah hal yang paling menyakitkan bagi siapa saja. Yang kali ini korbannya jutru orang-orang yang tak mau meluangkan waktu untuk mendengarkan.

Rain in my heart
World without you trembles in the dark
* * *
You leave without a trace
When i’m standing taking every breath

Yeonmi tersenyum memandang langit kelabu yang sudah seharian mengguyur kota New York. Di tengah-tengah lautan orang yang berteduh di bawah atap halte ia menjulurkan telapak tangannya, membiarkan tangannya basah oleh air hujan.
Sebuah cincin bertakhtah berlian di jari manisnya membuat senyum gadis itu tersungging indah.

Nothing left here to remind me
Just the memory of your face

Tak banyak kisah cinta yang berakhir bahagia. Gadis itu salah satunya. Hari dimana hujan berlangsung selama seminggu di Seoul tiga tahun yang lalu menjadi hari yang akan selalu di ingatnya.

You’re the only one who really knew me at all

Sudah lama ia tak bertemu dengan Taemin, pria itu menghilang begitu saja tanpa kabar apalagi jejak. Ia juga tak jadi menikah dengan Minho, pernikahan tanpa cinta bukanlah satu-satunya pilihan yang ingin dijalaninya.
Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan gadis itu. Seorang pria tampan turun dari balik pintu kemudi sambil menggenggam tangkai payung di tangan kirinya. Ia menghampiri Yeonmi dan menarik gadis itu ke sisinya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ujar pria itu.
“Oppa…”

Cause we shared the laughter and the pain
And even shared the tears
So take a look at me now

Gadis itu tersenyum gembira. Betapa ia mensyukuri segala hal yang terjadi dalam hidupnya, bahkan saat kehilangan Taemin begitu saja tanpa ada perjuangan untuk membuat cinta keduanya nyata.
Semua itu karena pria yang kini memeluknya, pria yang akan selalu memberikannya tempat berlindung. Dan terlebih lagi akan selalu mendengarkan apa yang ia rasakan tanpa harus di katakan.
Jika di pikir lagi, alasan mengapa Taemin tak mencoba untuk menggagalkan pernikahan Yeonmi dengan Minho saat itu adalah karena pria itu bukanlah pria yang tepat baginya. Lagi pula, Tuhan memiliki rencananya sendiri.
Dan ia menyukai rencana itu…

* The End *

Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s