Setiap perantau, selalu punya alasan mengapa mereka mencintai kampung halamannya. Yang membuat mereka mati-matian mengejar kesuksesan di belahan bumi yang lain. Agar saat pulang mereka turut andil dalam memberi sebuah perubahan.
Dan yang paling kucintai, adalah betapa kampung halamanku tidak pernah berubah. Kapan pun, dimana pun, rasanya selalu sama.
Tapi pagi ini, ketika akhirnya benar2 bisa melihat. Aku sadar, banyak yang mulai berubah. Banyak pembangunan di sana-sini. Mulai dari proyek jalan tol yang membabat habis seluruh perbukitan, hingga proyek pusat kota yang lebih banyak berada di atas laut ketimbang tanah yang asli. Rasanya miris melihat kota yang dulunya asri kini tak akan jauh beda dengan kota-kota yang lain.
Jadi ingat dengan novel berjudul Inferno karangan Dan Brown yang filmnya akan segera di rilis bulan depan. Garis besarnya novel itu membahas kekhawatiran sebagian pihak yang merasa spesies manusia kini tengah berada di ambang kepunahan. Jumlah manusia yang terus berkembang biak tanpa bisa di kontrol lagi memaksa bumi bekerja keras. Dampak dari overpopulasi tersebut, bisa dilihat dari banyaknya manusia yang kelaparan. Bumi tidak lagi mampu memberi makan kita semua. Dan, bumi tentu saja mulai kekurangan tempat. Itu sebabnya kita harus menerima ketika hutan di bakar lalu di jadikan pemukiman, laut di timbun untuk dijadikan daratan, gunung2 di gerus untuk lalu dijadikan lahan tempat bermukim.
Jumlah manusia terlalu banyak sementara kapasitas bumi terbatas. Ikan di laut tak peduli sebanyak apa jumlahnya akhirnya akan habis juga jika kita terus memakan mereka. Semakin berkurangnya lahan untuk bercocok tanam akhirnya akan berdampak pada ketersediaan makanan seperti beras dan sayuran bahkan buah2an. Upaya pembudidayaan sayur dan buah pada lahan2 rumah yang terbatas jelas tidak akan banyak membantu jika jumlah manusia terus-menerus berlipat ganda.
Saat kelaparan mulai merata dimana-mana, hal tersebut akan mempercepat waktu kepunahan kita. Karna orang2 akan mulai saling membunuh, mencuri, dan melakukan banyak tindak kejahatan lain sekedar untuk makan dan bertahan hidup. Hanya mereka yang kuat dan berkuasa yang mampu bertahan hidup di saat krisis seperti itu. Bukankah itu sudah terlihat dimana-mana saat ini?
Di buku Inferno yang baru habis dibaca kemarin, menegaskan satu karakter. Pria eksentrik dengan kepintaran yang luar biasa. Yang begitu ingin menahan lajur populasi, membuat sebuah virus yang dapat memodifikasi gen manusia dan membuat hampir semua orang mandul. MANDUL!! Serius deh, gak ada yang mau jadi mandul. Serem, tapi banyak benernya.
Jadi, jangan sampai ide di buku itu terealisasikan, mungkin kita sebagai manusia bisa saling membantu dengan saling menyadarkan sesama pentingnya kontrasepsi. Meskipun banyak anak banyak rejeki, tapi apa kita yakin mau punya banyak anak di generasi ini? Apa kita siap melihat generasi penerus kita yang semakin banyak kedepannya saling menginjak2 untuk bisa bertahan hidup?
Aku bukan pengikut transhumanis 😷 tapi itu masuk akal. Banyak sekali jumlah kelahiran yang tidak di rencanakan karna kurangnya edukasi. Anak-anak kembar meskipun lucu tapi jika jumlahnya lebih dari dua hanya akan menambah beban di bumi.
Wallahu’alam. Maap tulisannya kepanjangan 😆

View on Path

Aamiin…

View on Path

Leroy is Bae 😍

View on Path

The truth is,
No one knows how to say goodbye.
People learn to move forward.
And learn to forget.
But no one really knows how to say “goodbye” for one that once are the world for them.

View on Path

I hate ending on bad terms or not having proper closure with someone.. Especially knowing there were so many things left unsaid.
Please, we really need to talk asap.

View on Path

😒😒😒😒😒

View on Path

View on Path